Gede on Writing

Kamis, Agustus 16, 2012

HUT RI dan Idulfitri adalah Tsunami Masa


Oleh Gede H. Cahyana

Tanggal 17 Agustus 1945 terjadi pada hari Jumat Legi, 9 Ramadhan 1364 H. Tahun 2012 ini pun 17 Agustus bersamaan dengan bulan Ramadhan. Artinya, sudah berselang 67 tahun menurut kalender Masehi atau 69 tahun berdasar kalender Komariah. Tak terasa, Ramadhan ini hampir usai berdekatan dengan peringatan proklamasi dan usia 67 tahun adalah masa uzur bagi manusia. Waktu berkelebat cepat.

Waktu adalah tsunami masa. Dalam pandangan fisiologis, waktu beringsut lambat, mengubah faal tubuh manusia, hewan dan tumbuhan, juga makhluk tak hidup (abiotik) dari kencang menjadi kendur, dari mencrang menjadi lemur (kusut masai). Di sudut kosmologis, waktu hidup manusia dan biotik lainnya hanyalah sepersemiliar kejapan mata, jika dibandingkan dengan detik pertama sejak dentuman dahsyat (big bang) hingga sekarang. Dalam jam biologis, waktu adalah ritme harian aktivitas manusia dan biotik lainnya, seperti kegiatan memasok dan memasak makanan, minuman, bernapas, ekskresi, dan jutaan komunikasi jaringan seluler syaraf yang simpulnya di otak dan tulang belakang.

Waktu dalam fisika mengacu pada edar atau revolusi Bumi atas Matahari, dipengaruhi juga oleh rotasi Bumi, sinergis dengan planet lainnya dalam Tatasurya. Waktu dalam kimia adalah getaran atom Cesium yang menatah-natah di lempengan Cesium clock. Waktu dalam matematika mewujud angka 1 s.d 12, siang dan malam. Dalam hidrologi, waktu bagai aliran laminer air yang melenakan manusia, tiba-tiba berubah menjadi superturbulen, lalu manusia siuman tepat di detik terakhir saat tsunami waktu menggulungnya. Di pojok metalurgi, waktu adalah pedang, samurai yang berayun-ayun di sekitar leher manusia, bagai guillotine (baca: gilotang), golok bermata elang, tajam menyinar.

Waktu dalam spiritualisme adalah napas semesta, menderu bak debu asteroida hingga langit ketujuh. Ia berawal dan pasti akan berakhir. Wa al lail (demi malam), wa an nahar (demi siang), wa al fajr (demi fajar), wa al ashr (demi masa), wa adh dhuha (demi dhuha). Waktu adalah pelahir semua nabi, para durjana, pemuja berhala, manusia biasa. Lantas...., waktulah pemungkas jiwa, pembusuk raga yang dirawat di salon, dilulur susu madu, disusuk tindik, dioperasi plastik. Di ceruk spiritualisme ini, jiwa atau ruh itulah yang menanggung perilaku jasad, tingkah polah raga ketika mengisi waktu hariannya di dunia.

Akhirnya, waktu berubah menjadi tsunami ketika makhluk sampai di titik ujung, sesaat sebelum ajal, saat tobat tak dianggap, kala tangis pun ditepis Yang Empunya. Helaan oksigen dan dengusan CO2 selama puluhan tahun tak mampu menjadi pengingat, apalagi penolong. Yang tersisa hanya sengalan napas putus-putus, membadai mulut, membelalak bola mata, mengakukan genggaman tangan, menguningkan telapak kaki dan menulikan telinga atas lafaz laa ilaaha ilallah. Lidah pun kelu, kaku, bisu!

Selamat merayakan HUT ke-67 Kemerdekaan Indonesia, selamat menyambut Idulfitri 1433 H. ***