Gede on Writing

Senin, Juli 23, 2012

Ngejot: “Parsel” Khas Bali


Oleh Gede H. Cahyana

Pejabat di SKPD DKI Jakarta dilarang menerima parsel oleh Gubernur petahana dalam Pilkada DKI 2012. Terlepas dari kebolehan menerima parsel setelah Ramadhan, tulisan ini fokus pada jenis parsel yang justru diizinkan dikirimkan pada Ramadhan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi kehidupan muslimin di Bali.  

Pasalnya, parsel khas di Bali ini sudah terjadi puluhan atau bahkan ratusan tahun lalu, jauh mendahului budaya parsel di kota-kota besar. Apalagi pengiriman parsel ini tidak berkaitan dengan KKN tetapi sebagai penerus budaya toleransi di Bali. Parsel khas Bali ini namanya ngejot.

Ngejot sudah lumrah. Bentuknya tidak seperti parsel modern di kota besar yang dibuat dari wadah rotan dan dihias artistik. Motivasinya pun jauh berbeda. Tidak seperti “parsel modern” yang ada udang di balik batu, terutama yang nilainya berjuta-juta rupiah, parsel tradisional Bali nilainya tidak terlalu tinggi. Paling mahal sekitar dua puluh ribu rupiah. Kenapa bisa semurah itu? Sebab, yang diparselkan adalah makanan berupa nasi, sayur dan lauk-pauknya. Ada juga ditambahi kue kering dan minuman ringan.

Aktivitas bagi-bagi parsel yang disebut ngejot itu dilakoni oleh umat Hindhu dan Islam. Yang diparselkan disebut jotan. Bagi orang Islam, fenomena ini adalah modifikasi ngejot orang Hindu ketika menyambut hari raya Galungan dan Kuningan. Sebelum Galungan, hari raya umat Hindhu yang selalu jatuh pada Rabu itu didahului oleh beberapa prosesi. Yang pertama adalah pengejukan atau penangkapan babi. Berikutnya adalah penampahan (pemotongan babi). Potong babi ini dilaksanakan bersama-sama, baik antara tetangga maupun antara saudara sedarah seketurunan. Barulah dilaksanakan pengejotan. Karena tahu umat Islam tidak boleh makan babi, maka yang dijot bianya kue dan buah-buahan. Kalaupun ada nasi, tetapi lauk-pauknya dari daging ayam.

Setelah ngejot, kaum muslim siap-siap menyambut lebaran. Ada yang membuat kue dengan mengerahkan anak-anak, cucu, kakek, nenek. Mereka bekerja terus, bahkan sampai ada yang rela tidak puasa demi memasak yang begitu banyak. Tepat pada hari lebaran, suasananya tidak seramai di Jawa atau Madura. Yang lebih ramai adalah di objek wisata karena banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik yang berlibur ke Bali. Bahkan dua hari sebelum lebaran banyak yang sudah tinggal di hotel dan melaksanakan salat Ied di sekitar hotel. Malah ada hotel yang jelas-jelas mengakomodasi dan disertakan dalam promosi wisatanya bahwa akan diadakan shalat Ied di dekat hotel.

Namun demikian, di “kantong-kantong” Islam, katakanlah di Desa Pegayaman, ada kekecualian. Di desa yang letaknya di bukit Kecamatan Sukasada ini mayoritas beragama Islam. Bahkan diyakini seratus persen muslim. Dengan penduduk sekitar 6.000-an orang, Pegayaman adalah mikrokomunitas khas muslim. Mereka berasal dari keturunan prajurit Kerajaan Blambangan. Seperti muslim di daerah lain, mereka pun melaksanakan serial budaya seperti penampahan (potong ayam, kambing), dll.

Fenomena serupa terjadi di Desa Soka, di Selatan Gunung Batukaru Kecamatan Baturiti. Desa di daerah dingin ini juga nyaris seratus persen beragama Islam. Seperti Pegayaman, mereka pun berinteraksi dengan orang-orang Hindhu. Bahkan prosesi dalam menyambut lebaran mirip dengan menyambut hari raya Galungan dan Kuningan. Misalnya, sebelum lebaran kaum muslim membagikan makanan berupa nasi lengkap dengan lauknya: ayam, daging sapi sisir (be sisit: bahasa Bali) dan sayur.

Siapa saja yang dijot? Penerima jotan adalah orang Hindhu dan Kristen. Yang keliling membagikannya biasanya anak-anak atau ibunya. Yang membuat kue dan masakan itu pun biasanya anak-anak, baik laki maupun perempuan. Kesibukan ini sudah dilaksanakan seminggu sebelum lebaran. Begitu pun sebaliknya, pada hari Galungan umat Hindu ngejot kepada umat Islam. Inilah salah satu potret toleransi di Bali yang sudah mendarah daging dan menjadi lantunan tradisi positif selama ratusan tahun.**