Gede on Writing

Reading writing; baca tulis, membaca demi menulis; penulis lepas (freelance writer): artikel, buku, cerpen. Menulis (juga membaca) ialah nyawa kedua. Setelah nyawa pertama lepas, nyawa kedua tetap hidup di kertas, disket, internet hingga kiamat. Lewat baca-tulis (iqra-kalam), ia Mencari Allah, dari Bali ke Salman ITB. Proclaim, read! In the name of The Lord and Cherisher, Who created; He Who taught (the use of) the pen (writing, book, e-book, computer, website, blog) (Qur’an, Al ‘Alaq: 1,4).

Sunday, March 04, 2012

Negeri 5 Menara: Film Untuk Murid dan Orang Tua


Negeri 5 Menara: Film Untuk Murid dan Orang Tua
Gede H. Cahyana


Alam dan kehidupan desa yang segar, damai, sederhana mengawali film ini. Dua anak sekolah, Alif dan Randai, bercita-cita tinggi, ingin sekolah di Bandung. Secarik kliping koran bertuliskan ITB dan selembar brosur Pondok Madani  berjejer di meja belajarnya. Tak sengaja ibunya menemukan carikan koran itu dan tahulah ia bahwa buah hatinya ingin sekolah di Bandung. Sedangkan ia dan suaminya sudah berketetapan hati untuk menitipkan Alif di Pondok Madani. Meskipun awalnya menolak, atas bujukan ayahnya, Alif lantas setuju.

Setelah ayahnya memperoleh uang ongkos dan bekal perjalanan dengan cara menjual ternaknya, Alif diantar ke kota di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kota “Reog” Ponorogo adalah tujuannya. Di kota ini ada lembaga pendidikan yang unik karena mengajarkan sekaligus ilmu pesantren umumnya dan ilmu sekolah umum (SMA, SLTA, SMK). Artinya, keilmuan di dua jenis sekolah diajarkan di dalam satu sekolah. Namanya Pondok Madani.

Tak mudah menjadi murid di Madani. Seorang ustadz menjelaskan kepada sekelompok orang tua dan calon santri bahwa peminat ke sekolah itu ribuan murid tetapi yang lulus hanya ratusan murid. Semua calon santri dites, salah satunya dengan ujian tulis. Awalnya Alif ogah-ogahan menjawab soal ujian. Karena ballpoint-nya macet, ia lalu menggunakan pena pemberian ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang berharap ia lulus di Madani, barulah Alif serius menjawab soal ujian. Ia pun lulus, namanya tercantum di kertas kelulusan yang ditempelkan di papan pengumuman.

Selanjutnya adalah kehidupan Alif dan murid lainnya di Pondok Madani. Pada awal belajar, seorang ustadz masuk kelas sambil membawa samurai berkarat (tumpul) dan sebatang kayu seukuran genggaman orang dewasa. Setelah menuliskan namanya dengan huruf Arab di papan tulis, ustadz Salman lantas memotong kayu itu. Berkali-kali ia ayunkan samurai majal itu ke batang kayu sampai akhirnya putus. Samurai berkarat dan majal mampu memotong kayu. Bukan tajam, tapi kesungguhan. Ia lantas mengulang-ulang kalimat “man jadda wajada”, lantas diikuti oleh semua murid, sebuah kata mutiara (mahfuzhat) yang artinya: siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil.

Tak hanya belajar ilmu agama, di Madani juga diajarkan pramuka, seni, bela diri, bahkan Pak Kyai juga bermain gitar dan mendemokannya di depan Alif dan teman-temannya. Bulu tangkis menjadi olah raga favorit karena disukai ustadz dan saat itu ada demam Piala Thomas: Indonesia vs Malaysia. Setelah berhasil me-lobby ustadz, akhirnya Pak Kyai, ustadz, Alif dan teman-temannya, serta anak dan keponakan Pak Kyai, nobar: nonton bareng televisi. Suasana demokratis tampak ketika Sahabat Menara menghadap Pak Kyai untuk memperbaiki mesin yang rusak. Masukan dari murid diterima dan didukung, bahkan Kyai ke toko membelikan onderdil dengan cara agunan karena belum ada uang.

Menjadi wartawan Syams adalah kegiatan Alif yang membawanya ke rumah Pak Kyai. Ia berhasil mewawancarai beliau sambil berkenalan dengan anak dan keponakan perempuan Kyai, walaupun gagal foto bertiga lantaran kamera otomatisnya memfoto punggung Kyai. Pada adegan ini, barangkali semua penonton tertawa atau paling tidak, tersenyum. Alif pun tersadarkan bahwa keponakan Pak Kyai tahu banyak tentang kamera dan fotografi, jauh di atas pengetahuannya.

Selain adegan gembira, ada juga yang mengharukan. Kedatangan tetangga Baso untuk menjemputnya pulang karena neneknya sakit, memberikan pelajaran kepada anak-anak (penonton) tentang berbakti kepada orang tua. Meskipun seumur anak SMA, dan gagal belajar di Madani, Baso rela dan memilih merawat neneknya. Ketika Sahabat Menara mementaskan Ibnu Batutah yang selalu dikisahkan Baso kepada teman-temannya, ia merawat neneknya di Sulawesi. Tampil di sesi akhir, pementasan Ibnu Batutah disambut tepuk tangan meriah oleh Kyai, ustadz dan santri.

Di bagian akhir, film ini menampilkan kondisi dan profesi Sahabat Menara. Semuanya sukses di profesi masing-masing. Tiga orang bertemu di Inggris kemudian menelefon sahabatnya di Jakarta. Happy ending.*

(Gede H. Cahyana, ”Untuk menguatkan semangat belajar, murid dan orang tuanya layak menonton film ini. Ada ketaatan anak kepada orang tua, ada kegigihan belajar, ada persaingan, ada pertengkaran kecil (di bawah menara), ada dinamika kehidupan murid sehari-hari bersama teman-teman dan gurunya”).

Ranah 3 Warna

 

Sunday, February 26, 2012

Tradisi Menulis, Tradisi Membaca


Tradisi Menulis, Tradisi Membaca

Tradisi menulis ilmiah tak mungkin dicapai tanpa diawali oleh tradisi membaca tulisan ilmiah. Seberapa banyak mahasiswa diwajibkan membaca tulisan ilmiah para ahli di bidangnya sebelum mereka menulis ilmiah? Tradisi adalah pembiasaan yang membutuhkan waktu tahunan, bahkan puluhan tahun. Adakah kewajiban menulis bagi murid-murid di SD, SMP, MTs, MA, SMA, SMK yang dipola oleh kurikulumnya? Lantas, bagaimana dengan ujian-ujiannya, adakah yang esai dan menulis sesuatu?

Bukankah justru Kemdikbud yang mengarahkan murid-murid untuk menjawab soal-soal pilihan ganda sehingga murid-murid pun fokus pada soal-soal hafalan itu? Begitu juga bimbingan belajar dan les-les yang marak di semua daerah, mereka fokus pada cara menjawab yang cepat dan tepat, menggunakan “jembatan keledai”. Bukan dilarang soal pilihan ganda, tetapi hendaklah juga diberikan porsi untuk soal yang melatih murid untuk mampu menulis (ilmiah). Kalau Dikdasmen sudah memola dengan baik kemampuan menulis murid-muridnya, maka wajarlah di PT mereka diwajibkan menulis untuk jurnal ilmiah, sebuah tulisan yang serius dan mengikuti pola ilmiah dengan harapan berupa tulisan ilmiah yang otentik.


Jadi, kemampuan menulis memerlukan kebiasaan dan pembiasaan sejak dini, sejak di pendidikan dasar atau paling telat sejak di sekolah menengah. Lantas, ketika menjadi mahasiswa, mereka sudah dibiasakan menulis atau meresume artikel ilmiah sejak di tingkat satu. Selayaknya semua dosen di semua mata kuliah memberikan tugas kepada mahasiswa dalam hal tulis menulis. *