Gede on Writing

Minggu, Agustus 08, 2010

Menjadi Kekupu

Perempuan bukanlah pencinta kekupu seorang. Ia milik lelaki pula. Terbang melawan arus angin tetaplah dilalui, tak gentar dihempas ke tanah. Ragam warna, berbagai corak bukanlah kemauan kekupu, melainkan suratan takdir-Nya.

Kekupu kini belum menjadi, ia masih menakutkan, mungkin menjijikkan bagi orang lain. Ia meliuk di daun hijau, menggelikan. Dari kekanak hingga sekarang, geli... bergidik... bulu roma berdiri... kalau dipegang dengan jempol dan telunjuk. Rasanya... lembut-lembut empuk. Kelananya di daun pisang. Ulat lain, yang berbulu dan warnanya menyeramkan... tak berani dijumput.

Namun... setelah rela tak makan, rela puasa, rela menggulung di daun hijau, ia mampu berubah. Ia menyublim. Subliman lewat pertapaan yang menyakitkan, berlapar-lapar, mengekang nafsu, rela tak “bertemu” pasangan, dan ... dzikir sunnatullah semata.

Perempuan bukanlah pencinta kekupu seorang. Ia milik lelaki pula. Bertapa, berpuasa dalam masa tertentu yang sudah sunnatullah, akhirnya menghasilkan kekupu indah. Tiada lagi geliat ulat menggelikan.

Metamorfosis ulat menjadi kekupu adalah personifikasi kepompong ruhani manusia. Andaikata manusia, pada beberapa hari menjelang Ramadhan 1431 H ini, merasa dimaki-maki oleh “diri ruhaninya, diri hati nuraninya”, sebagai “penjahat, pembohong, pencela, pezina, penipu, penista, pencuri, pe-KKN, maka Ramadhan ini adalah kepompong baru. Sambutlah ia, masuklah ke dalamnya.

Perempuan bukanlah pencinta kekupu seorang. Ia milik lelaki pula.

Selamat menjadi kepompong selama 1 bulan Ramadhan. Setelahnya...., menjadilah kekupu.*


(Jangan rela mengulat seumur-umur, menyublimlah menjadi kekupu, lewat kepompong Ramadhan: Gede H. Cahyana)

1 Comments:

At Rabu, 18 September 2013 pukul 16.27.00 WIB, Blogger Wilda Hurriya said...

bagus tulisannya. terima kasih telah menginspirasi

 

Posting Komentar

<< Home