<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175</id><updated>2012-02-11T00:06:09.682+07:00</updated><title type='text'>Gede on Writing</title><subtitle type='html'>Reading writing; baca tulis, membaca demi menulis; penulis lepas (freelance writer): artikel, buku, cerpen. Menulis (juga membaca) ialah nyawa kedua. Setelah nyawa pertama lepas, nyawa kedua tetap hidup di kertas, disket, internet hingga kiamat. Lewat baca-tulis (iqra-kalam), ia Mencari Allah, dari Bali ke Salman ITB. Proclaim, read! In the name of The Lord and Cherisher, Who created; He Who taught (the use of) the pen (writing, book, e-book, computer, website, blog) (Qur’an, Al ‘Alaq: 1,4).</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>53</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-1475743139899159309</id><published>2012-02-09T21:04:00.000+07:00</published><updated>2012-02-11T00:06:09.694+07:00</updated><title type='text'>Wajibkah Mahasiswa Menulis di Jurnal?</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt; &lt;w:WordDocument&gt;  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;  &lt;w:Compatibility&gt;   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;  &lt;/w:Compatibility&gt;  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt; &lt;/w:WordDocument&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt; &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt; &lt;/w:LatentStyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;&lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Wajibkah Mahasiswa Menulis di Jurnal?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Gede H. Cahyana&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Harus diakui,termasuk oleh kalangan di Kemendikbud, khususnya Ditjen Dikti, bahwa pelajaranBahasa Indonesia, dari SD s.d SMA, MA, SMK dan di perguruan tinggi belum mampumembuat siswa dan mahasiswa memiliki &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;keprigelan&lt;/b&gt;dalam menulis. Baik tulisan ilmiah (saintifik) maupun ilmiah populer di mediamassa sangat sedikit yang melakoninya. Lantas, kalau mahasiswa belum mampumenulis di jurnal dengan kategori ilmiah menurut masyarakat ilmiah (bukanjurnal-jurnalan), apakah kelulusannya ditunda?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Aturan buatanDikti itu bagus-bagus saja, cita-citanya luhur, yakni mewujudkan kaum intelekdi Indonesia yang mampu menulis ilmiah. Tetapi perlulah dilihat, apakahmayoritas mahasiswa mampu menulis di jurnal atau media massa lainnya? Sepertiditulis di atas, pendidikan dasar dan menengah harus ikut bertanggung jawabatas produk SDM yang dihasilkannya. Lihatlah pola ujiannya. Semua ujian diDikdasmen berupa pilihan ganda. Asalkan rajin baca, baca, baca, danhafalkan..., pasti bisa menjawab. Andaikata tidak tahu poin mana yang betul,murid-murid selalu saja bisa memilih satu di antara empat atau lima opsi jawaban.Untung-untungan. Aliasnya adalah judi (meskipun tidak akan ditangkap polisi). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Lain halnya kalausiswa sejak di SD atau paling telat sejak di SMP dibiasakan ujian esai. Juga rutindiberi tugas menulis cerita, membuat seni grafis, menulis kesan-pesan saatlibur, membuat parafrase, menulis berita, cerpen, cerbung, cergam, dansejenisnya. Tugas-tugas itu bisa berkelompok bisa juga personal. Satu hal saja,latihan itu bisa dengan tulisan tangan untuk mengurangi salin-tempel danmelatih murid dalam “menggoreskan pena”. Usulan lain, hidupkan lagi majalahdinding yang pernah laku keras pada dekade 1980 hingga 1990 dan majalah sekolahyang dikelola oleh OSIS. Adakan lomba menulis antarsiswa dengan variasi temadan momentum peringatan hari-hari raya dan nasional dan lomba di tingkatkabupaten, provinsi, nasional. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Kalau faktanyaseperti di atas, belum lagi adanya variasi kualitas SD s.d SMA, MA, SMK, tentusangat berat mewajibkan calon lulusan PT untuk menulis di jurnal ilmiah yangbetul-betul saintifik. Jangan-jangan mayoritas malah drop-out! Memang bisasaja, semua mahasiswa diwajibkan menulis (mengerjakan tugas kuliah berupa tulisan)di semua mata kuliah dalam kurikulum tanpa salin-tempel. Tetapi, maukah dosenmemeriksanya dengan teliti? Faktanya juga, karena jumlah mahasiswa bimbinganskripsinya sangat banyak, maka pembimbingannya mirip antrian di klinik praktikdokter. Tidak sampai lima menit, bimbingan sudah (dianggap) selesai. Begituterjadi berkali-kali. Bagaimana kualitas skripsinya? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Jika demikian,wajibkah mahasiswa S1 menulis di jurnal (pada tahun 2012 ini?) Kalau tidaktahun 2012, kapankah selayaknya dimulai? *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-1475743139899159309?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/1475743139899159309/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=1475743139899159309&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/1475743139899159309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/1475743139899159309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2012/02/wajibkah-mahasiswa-menulis-di-jurnal.html' title='Wajibkah Mahasiswa Menulis di Jurnal?'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-6715945382339277610</id><published>2011-08-20T05:32:00.001+07:00</published><updated>2011-08-28T07:01:00.441+07:00</updated><title type='text'>Pulang Kerja, Sakit Kepala</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pulang Kerja, Sakit Kepala&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bataviase.co.id/node/775312"&gt;Pulang Kerja, Sakit Kepala&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkah Anda sakit kepala sepulang kerja? Sakit kepala rutin ini patut diwaspadai karena berkaitan dengan polusi udara dari asap kendaraan bermotor. Akibatnya minimal ada tiga. Kesatu, mengganggu kesehatan khususnya anak-anak, lansia, dan wanita hamil. Kedua, merusak pertanian, bangunan, kendaraan akibat hujan asam (acid rain atau acid deposition). Ketiga, rugi finansial untuk berobat, produktivitas berkurang karena sakit, perbaikan gedung dan kendaraan karena karat, dan kerusakan pertanian-perkebunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pencemar udara tersebut bisa menyebar di luar dan di dalam rumah atau gedung yang sumbernya bukan hanya akibat perbuatan manusia (antropogenik) tapi juga ada yang alamiah (natural). Namun sayang, kita banyak terpaku pada pencemaran udara di luar gedung (outdoor air pollution) saja. Padahal jenis dan konsentrasi pencemar udara di dalam gedung (indoor air pollution) bisa lebih besar sehingga kekerapan insidensinya pun lebih besar. The sick building syndrome, istilah untuk sakit akibat terlalu lama berada di dalam gedung yang salah satunya terkait dengan kualitas udara adalah satu di antara dampaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kualitas udara memburuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada delapan jenis polutan (pencemar) udara di dalam rumah yang berbahaya. Lima jenis di antaranya punya efek akut yakni CO, formaldehid, uap organik, partikulat dan mikroba dan tiga jenis lainnya berefek kronis yaitu asbes, radon dan CO2. Namun demikian, bukan berarti polutan selain kelompok delapan itu tidak penting karena tetap saja ada dampak buruknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dipilah, ada lima penyebab mengapa kualitas udara di dalam gedung bisa memburuk. Yang pertama, karena secara alamiah ada gas berbahaya yang muncul di dalam rumah atau gedung. Radon misalnya, gas ini tergolong radioaktif. Ia bisa muncul dari bebatuan atau tanah yang masuk lewat retakan atau celah-celah di bawah rumah atau pondasi. Apalagi kalau di daerah itu sering terjadi gempa bumi. Dan kanker paru adalah dampaknya terutama setelah peluruhan radioaktif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, karena ada zat kimia yang mudah menguap (uap organik) atau biasa dikenal dengan VOC (volatile organic compounds). Biasanya senyawa ini berujud hidrokarbon, mengandung karbon, oksigen, hidrogen, klor atau unsur-unsur lainnya. Sumbernya adalah pada proses furnishing ruang, emisi dari bahan kimia di dalam mebel, karpet, lem, cat, pelarut (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;solvent&lt;/span&gt;), tripleks (&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;plywood&lt;/span&gt;) atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;partickle board &lt;/span&gt;lainnya, pembersih lantai, penyegar udara dan dekomposisi material bangunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga, kegiatan memasak di dapur. Kalau menggunakan kayu api, selain CO2 juga banyak dihasilkan partikulat yang beterbangan ke semua ruang sehingga jelaga menghitam di dinding dan plafon. Begitu pula minyak tanah, briket batubara, lilin dan gas elpiji. Secara normal, rentang konsentrasi CO2 di udara ambien adalah 0,03% - 0,04% by volume. Tapi konsentrasinya bisa menjadi dua kalinya di kota atau di daerah industri. Di negara-negara Eropa, konsentrasi maksimum yang diizinkan di ruangan adalah 0,1% by volume yang disebut angka Pettenkofer. Sedangkan di AS, batas atasnya sampai dengan 0,25%. Selain CO2, bahan bakar itu pun menghasilkan CO (karbon monoksida), gas berbahaya, terutama ketika warna api kekuningan atau merah muda, bukannya biru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang keempat, karena rumah atau gedung yang dibangun terlalu berorientasi hemat energi sehingga meniadakan ventilasi untuk sirkulasi udara. Padanya, udara luar tidak bisa masuk sebaliknya yang di dalam pun tak bisa ke luar. Jendela-jendela pun ditutup atau bahkan di-seal, tembok dan plafon dipasangi isolasi dan bangunan dibuat kedap udara. Karena itu, mikroba (bakteri, jamur) yang sempat berbiak akan kian leluasa menyerang penghuninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kelima, karena terlalu lama berada di dalam rumah yang terpolusi dan jumlah penghuni atau populasinya juga tinggi. Populasi adalah variabel pada kualitas udara di dalam ruang selain kecepatan aliran udaranya. Makin lama berada di dalam ruangan berpencemar, makin banyak pula kita terpapar polutan tersebut. Atau bisa juga karena polutan dari udara luar masuk ke rumah secara alamiah lewat ventilasi. Misalnya dari jalan yang lalu lintasnya padat, pabrik atau home industry di sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Opsi solusi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah penyebab penurunan kualitas udara di dalam ruang seperti di atas, ada yang mudah ditanggulangi tapi ada juga yang relatif sulit. Beberapa di antaranya bisa dikendalikan di sumbernya atau dengan mengubah kondisi ruang karena ikut berpengaruh pada penyebaran polutan seperti bentuk, dimensi dan konfigurasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling mudah dan kalau mungkin, hindari penggunaan material yang potensial sebagai sumber pencemar udara. Asbes, mineral magnesium silikat yang telah diproses jadi berbentuk serat misalnya, meski tidak bisa terbakar tapi sebaiknya dihindari penggunaannya untuk atap rumah. Juga gunakan dan simpanlah produk berbahaya yang mudah menguap sesuai dengan petunjuk pada kemasannya. Tapi kalau bisa, gantilah dengan produk yang tidak berbahaya. Termasuk, jangan merokok di dalam ruang atau hentikan sama sekali dan jangan membeli mebel dari tripleks atau particleboard lainnya. Kalau dapat, ceklah apakah ada gas radon di dalam rumah dengan menggunakan test kit. Kalau ada, apalagi tinggi kadarnya maka mau tak mau mesti pindah atau pondasi rumah diperbaiki dan pasanglah pelindung (seal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, jika memungkinkan, pisahkanlah ruang dapur dengan ruang lainnya. Sediakan ventilasi yang baik dan memenuhi syarat di dapur, kamar tidur atau pun di ruang tamu. Makin banyak ventilasi tentu makin bagus untuk mengencerkan polutan di dalam ruang. Selain itu ventilasi juga berfungsi untuk pencegahan kebakaran atau ledakan, kenyamanan, penerangan siang hari dan untuk memandang ke luar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga sangat dianjurkan memasang kisi-kisi atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;exhausted fan &lt;/span&gt;atau cerobong asap utamanya di dapur atau gudang atau pada rumah yang tertutup karena berdempetan seperti di kompleks-kompleks perumahan. Kecuali kalau kondisinya sudah ventilable, karena banyak ruang kosong dan udara dapat mengalir dengan bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir, bukalah semua jendela dan pintu setiap pagi selama mungkin, buatlah petak-petak hijau (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;green area&lt;/span&gt;) dengan menanam pepohonan atau perdu di sekitar rumah. Bisa juga dengan pot-pot bunga agar kesegaran bertambah dari oksigen hasil fotosintesisnya.***  &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-6715945382339277610?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/6715945382339277610/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=6715945382339277610&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/6715945382339277610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/6715945382339277610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2011/08/pulang-kerja-sakit-kepala-oleh-gede-h.html' title='Pulang Kerja, Sakit Kepala'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-8122484133594558055</id><published>2011-05-02T19:10:00.000+07:00</published><updated>2011-05-03T19:16:12.891+07:00</updated><title type='text'>Hardiknas</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hardiknas&lt;/span&gt;: Dari Ilmu, Sains, Pengetahuan, Ke Jalan Lain Ke Teknologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Janganlah menuntut ilmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai detik ini, tidak ada kesepakatan yang kongruen di antara para pakar tentang ilmu, sains (ataukah sain), pengetahuan, ilmu pengetahuan, teknologi dan opini. Simpang siur definisi, fungsi, dan manfaatnya bagi manusia (juga bagi hewan dan tumbuhan sebagai biotik dan benda-benda abiotik) masih diperdebatkan. Lantas, perlukah gembar-gembor peringatan Hardiknas per 2 Mei? Adakah manfaatnya seremonial Hardiknas itu bagi eksistensi ilmu, sains, teknologi dan pengembangannya? Bermanfaatkah Hardiknas itu bagi buruh yang sedang merayakan May Day, Harburi, Hari Buruh Internasional per 1 Mei ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ketakjelasan definisi ilmu, sains, teknologi, pengetahuan, ilmu pengetahuan itu, mari dilihat alokasi anggaran pendidikan negara kita yang 20% dari APBN. Menurut Kemendiknas, 80% lebih sedikit dari anggaran itu ternyata masuk ke pundi-pundi pengajar yang notabene bukan untuk pengembangan kapasitas keilmuan, kesainan, keteknologian para pengajar. Sebagian sisanya untuk prasarana dan sarana sekolah, dan sisanya yang sedikit lagi itu barulah untuk penelitian. Masih dipertanyakan lagi, penelitian yang bagaimana? Penelitian ilmu dasar ataukah terapan, dan yang kalibernya bagaimana? Untuk deretan temuan baru ataukah sekadar pengulangan dalam deret ukur di setiap satuan pendidikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pertanyaan turutan lain, perlukah artikulasi homogen tentang definisi ilmu dst-nya itu dikaitkan dengan alokasi anggaran pendidikan dalam APBN dan mutu murid, mahasiswa, guru, dosen, karyawan swasta, PNS birokrat, tentara, polisi, politisi, wiraswastawan, wirausahawan, dan bahkan pengangguran di Indonesia? Belum lagi kalau dimasukkan orang-orang yang mengalami masalah psikologis, skizofrenia (schizophrenia), setengah gila atau gila yang keluyuran di jalan-jalan. Bukankah anggaran yang dikumpulkan dari pajak rakyat dan eksploitasi sumber daya alam, menurut pasal 33 UUD 1945, itu pun harus diberikan kepada kalangan ”psychiatric disorder” itu, apalagi yang berkategori fakir miskin dan anak telantar (merujuk ke pasal 34 UUD 1945). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan ilmu dan cs-nya itu, perlukah penyatuan definisi dan bukan fungsi kalau sudut epistemologinya saja sudah berbeda? Paling tidak, epistemologi Barat tidak bisa kongruen dengan epistemologi Timur, apalagi dengan epistemologi Islam. Yang berkembang saat ini, dan seolah-olah sudah dibakukan, ilmu disamakan dengan makna sains (science) padahal ilmu kalau diacu ke sumber aslinya, yaitu bahasa Arab, maknanya meliputi fisika dan metafisika. Sedangkan dunia sains Barat hanya mengakui yang empiris, yang justru susah, malah nyaris tak mungkin bisa dibuktikan kalau sudah masuk ke ranah transenden, metafisika seperti percaya adanya Tuhan (Allah Swt), tuhan, dewa, Sang Causa Prima, setan, iblis, jin, malaikat, dst., yang maknawiahnya dikomandani oleh August Comte dalam hal positivistik terhadap sains. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegamangan yang sudah berlangsung lama ini kelihatannya tidak menuju muara yang satu, yang homogen. Atau, mestikah para pakar bersepaham, bersepakat dalam satu makna? Bukankah miliaran manusia ini memiliki isi kepala yang berbeda-beda dan menjadi sah dalam ragam pendapat asalkan mozaiknya membentuk kesatuan utuh yang saling menguatkan, saling menolong, dan saling bermanfaat dalam kehidupan sosial, budaya dan ekonomi, tidak terjadi eksploitasi manusia atas manusia lainnya? Jika boleh tidak sepakat, maka seliweran kata ilmu dan cs-nya itu sah-sah saja dimaknai sebagai ”tahu sama tahu, TST” tanpa perlu mengejar penjelasannya, sekalipun bisa terjadi salah tafsir di antara kita, makhluk berjenis manusia ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, istilah IPTEK, IPTEKS, Sainstek, Iltek, LIPI, BPPT, dan lain-lain, biarlah menjadi sekadar istilah, seperti halnya Trilogi Pendidikan: sains, teknologi, dan lingkungan, asalkan esensinya berguna bagi manusia. Yang penting bukanlah apa dan siapa, melainkan bagaimana ilmu, sains, pengetahuan, ilmu pengetahuan, dan teknologi itu bermanfaat bagi kita, digunakan untuk mengurangi jumlah orang fakir miskin dan anak telantar seperti amanat pasal 34 UUD 1945 dan memberikan upah yang layak bagi buruh dan pekerja umumnya dan kepedulian humanistik para majikan dan kalangan pengusaha dan investor. Sebab, doa orang-orang yang ringkih finansial dan dizalimi ini bisa langsung menembus ’Arsy Pencipta alam tanpa tirai sehelai pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benang merah yang ditarik dari Harburi 1 Mei ini dan Hardiknas 2 Mei esok ialah upaya memanfaatkan ilmu, sains, pengetahuan, ilmu pengetahuan untuk menghasilkan produk teknologi yang meninggikan tingkat kemanusian manusia, saling bantu, teposeliro untuk kepentingan bersama dengan cara melaksanakan tugas di bidang masing-masing secara bertanggung jawab. Terdengar klise memang, tetapi faktanya, jasad manusia ini akan berfungsi dengan baik kalau setiap organ berfungsi dan bekerja optimal. Ini identik dengan orkestra yang melantunkan simfoni yang indah, hasil dari paduan beragam alat musik yang taat pada konduktornya. Analoginya dengan jantung yang punya tugas khusus, paru juga, begitu juga tangan, kaki, mulut, telinga, dan semuanya. Masing-masing bekerja dengan baik sehingga sosok tubuh utuhnya mewujud normal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka...., janganlah menuntut ilmu. Apalagi menuntutnya sampai ke negeri China. Yang harus ditutut adalah para penjahat, pencuri, pezina, dan lain-lain semisal itu. Mereka harus dituntut di pengadilan oleh hakim yang adil, jaksa yang jujur, dan polisi yang amanah serta politisi pembuat undang-undang yang bijak. Termasuk pengacara atau advokat yang di luar kelompok ”The Devil Advocate”-nya Al Pacino. Artinya, bukanlah menuntut ilmu melainkan mempelajari ilmu, mendalami ilmu, lalu menggunakannya sebagai pembuat teknologi yang bermanfaat bagi manusia, hewan, tumbuhan, dan benda abiotik lainnya. Kulminasinya memang teknologi, perangkat, alat bantu yang memudahkan hidup manusia lewat industri. Tanpa industri, maka teknologi seperti pohon tak berbuah. Tanpa ilmu, sains, maka seperti pohon tanpa akar. Tanpa peduli lingkungan, maka teknologi bagai bom waktu bagi manusia dan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikaitkan dengan APBN, masih dalam spirit Hardiknas, maka selain porsi besar untuk ”konsumsi” sehari-hari para pengajar, porsi yang harus diperluas ialah sektor penelitian, baik ilmu dasar seperti fisika, kimia, biologi, dan matematika (meskipun epistemologi Barat memandang matematika bukanlah ilmu dan dianggap tidak jelas status ontologisnya) maupun ilmu terapan (teknologi), ekonomi, sosial, budaya, dan agama. Yang disebut terakhir ini melingkupi semuanya, bahkan masih tersimpan gigarahasia yang tak terperikan di dalamnya. Di sinilah peran sekolah (SD s.d PT) untuk menumbuhkan imajinasi penelitian dengan ide-ide tak hingga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujungnya..., rupiah jualah yang tak bisa bohong karena riset memang perlu fulus agar mulus pula mesin-mesin pikiran manusia. Oleh sebab itu, dalam menyambut Hardiknas 2011 ini diusulkan untuk membalik porsi anggaran yang 20% APBN tersebut agar riset didudukkan di singgasananya yang layak dengan tetap menyejahterakan pengajarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak jalan menuju Roma, banyak cara menambah ilmu. Dari ilmu ke jalan lain ke teknologi, singgah dulu di industri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. *&lt;br /&gt;---------------------ghc-------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;NB. May day, may day, SOS, SOS. Koreksi sedikit, kalimat: ”janganlah menuntut ilmu”, anggaplah sekadar ”joke” pengisi hari libur ini. He he he.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-8122484133594558055?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/8122484133594558055/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=8122484133594558055&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/8122484133594558055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/8122484133594558055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2011/05/hardiknas-dari-ilmu-sains-pengetahuan.html' title='Hardiknas'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-4442109789493731941</id><published>2010-08-08T18:34:00.002+07:00</published><updated>2010-08-08T18:36:05.096+07:00</updated><title type='text'>Ramadhan: Ganti Kulit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/TF6WflotQNI/AAAAAAAAAKE/DnnjigKA4iU/s1600/Ular.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 259px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/TF6WflotQNI/AAAAAAAAAKE/DnnjigKA4iU/s320/Ular.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5503001264116285650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit tak sekadar aksesoris untuk kontak awal dengan dunia luar dan orang lain, tetapi juga berfungsi melindungi bagian dalam badan yang lebih fungsional, yang lebih penting daripada kulit. Baik kulit ari maupun kulit jangat, keduanya menjadi perisai terhadap benda asing yang menyentuh atau melukai kulit. Sebagai salah satu dari pancaindra, kulit menjadi detektor dini terhadap rasa (sense) yang dikeluarkan oleh sinyal atau gelombang dan sentuhan massa (benda) dan energi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kulit dapat pula menjadi pagar terluar bagi organ dalam tubuh sekaligus menjadi tameng terhadap keburukan yang datang maupun yang “pergi atau keluar” dari dalam tubuh. Lebih khusus lagi, kulit adalah protektor diri atas segala “rahasia” yang tarafnya top secret. Di sinilah kulit bermakna konotatif yang menjadi objek utama shaum Ramadhan. Kulit yang bopeng oleh karakter buruk, perilaku busuk seperti khianat, dusta, ingkar, dan penyakit hati lainnya, akan dikikis hingga tipis setipis-tipisnya oleh “gerinda Ramadhan”. Nyeri memang, digerinda oleh Ramadhan, dikikir oleh Tarawih, digergaji oleh bangun pagi-pagi, dan diasamkan oleh lapar-dahaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tirai iman mampu menguatkan badan dan ruhani sehingga tetap mampu melewati hari demi hari shaum Ramadhan. Bahkan mampu menanggalkan kulit-kulit kotor yang dipenuhi bopeng-bopeng perilaku selama 11 bulan sebelumnya. Ramadhan menjadi momen ganti kulit seperti ular yang periodik ikhlas melepas kulit kotornya menjadi kulit baru. Ramadhan menjadi pelepas kulit ruhani yang menopengi badan berbalut kulit fisik ini. Berhasil tidaknya akan ketahuan justru selama 11 bulan setelah Ramadhan, apakah penyakit hati itu masih bernaung di hati ataukah sudah berkurang, bahkan terkikis habis. Kalau masih ada cacat moral satu-dua-tiga bagian, maka Ramadhan tahun berikutnya menjadi arena kawah candradimuka lagi. Begitu seterusnya hingga datang “yang pasti”, yakni mati. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;‘Met Shaum Ramadhan 1431 H.&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-4442109789493731941?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/4442109789493731941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=4442109789493731941&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/4442109789493731941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/4442109789493731941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2010/08/ramadhan-ganti-kulit.html' title='Ramadhan: Ganti Kulit'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/TF6WflotQNI/AAAAAAAAAKE/DnnjigKA4iU/s72-c/Ular.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-9117788965972933456</id><published>2010-08-08T18:32:00.000+07:00</published><updated>2010-08-08T18:33:53.403+07:00</updated><title type='text'>Siasat Shaum Ramadhan</title><content type='html'>Sahabat muslimin-muslimat, agar sehat lahir (dan insya Allah sehat batin), mari coba praktikkan hal-hal di bawah ini ketika Ramadhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;big&gt;&lt;b&gt;SAHUR&lt;/b&gt;&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;Minumlah madu (asli) 2-3 sendok makan. Kalau terasa mual (biasanya terjadi selama empat hari pertama), campurlah madu itu dengan segelas air minum hangat. Lima menit kemudian, silakan makan nasi, lauk, sayur. Takarannya seukuran sarapan, artinya tidak membludak sampai bergunung di atas piring. Tutuplah dengan segelas air hangat lagi. Usahakan kurangi yang pedas-pedas, bolehlah... kalau memang tak bisa tanpa sambal, tetapi sedikit saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;big&gt;&lt;b&gt;BUKA&lt;/b&gt;&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;Minumlah madu (asli) 2-3 sendok makan atau dicampur dengan air hangat apabila terasa mual. Ini biasa, nanti akan terbiasa juga. Boleh juga kurma, maksimum 7 biji saja. Jangan lebih karena kunyahan kurma bersifat menyedot air di lambung kita. Tutuplah dengan minum segelas air hangat. Tunaikan shalat Maghrib lalu tadarus atau membaca-menulis apa saja, yang positif. Kurangi makan goreng-gorengan. Hindari minum es, meskipun terasa nikmat. Kebiasaan yang nikmat dan banyak dilakukan orang, belum tentu tepat dan baik untuk metabolisme tubuh kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbukalah dengan yang manis-manis (istri masing-masing juga manis khan?), seperti kata iklan di radio, TV, koran, dan internet, itu boleh juga. Tetapi kandungan karbohidratnya kebanyakan berupa sakarosa, bukan glukosa dan fruktosa. Kurangi makan kolak dkk-nya karena terlalu berlimpah gulanya yang relatif sulit dicerna. Kalau ngebet, yaa... bolehlah, tapi sedikit. Dikit! Sebaiknya makan pepaya, mangga manis, atau apel. Hindari yang asam sekali. Rujak juga boleh, tapi yaa... sedikit saja. Dikit! Dan jangan terlalu pedas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanlah nasi, lauk, sayur setelah shalat Tarawih. Takarannya seperti hari-hari biasa. Kuncinya cuma satu, yaitu TIDAK balas dendam. Pola makan ketika Ramadhan sebetulnya hanya menggeser waktunya saja. Malah makin mantap karena ada niat yang kuat untuk shaum. Niat inilah yang dapat mengalahkan rasa lapar yang biasanya muncul pada pk. 11.00 s.d 13.00 waktu setempat, untuk daerah ASEAN pada umumnya (tropis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---*---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain makanan fisik tersebut, mari coba juga makanan nonfisik. Lihatlah orang lain dari sisi kebaikannya. Yang positif-positifnya saja. Kejelekan mulut, perilaku dll, biarlah urusan itu diserahkan kepada Allah. Itu antara Allah dan dirinya. Tugas kita hanya berbaik sangka, berpikir positif dan bertindak positif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usahakan shalat Dhuha minimal 2 rakaat setiap hari. Bisa dilaksanakan di kantor atau di mana saja ketika ada waktu 5 menit. Kalau tak ada air, tayyamum saja. Juga shalat malam, yaitu Tarawih. Kalau tidak sempat Tarawih, silakan shalat malam (Tahajjud) setengah s.d satu jam menjelang Shubuh. Upayakan 11 rakaat, dengan surat-surat pendek di dalam Juz ‘Amma. Kalau mampu yang lebih panjang, silakan saja, itu insya Allah lebih afdhal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upayakan juga infak, sedekah, zakat setiap hari pada bulan Ramadhan. Besar kecilnya bukanlah soal. Tentu makin besar secara ikhlas akan lebih baik. Semuanya bisa dilaksanakan dengan uang, bisa juga dengan benda atau makanan, seperti memberikan makanan kepada orang yang berbuka shaum. Bahkan senyum ikhlas pun dihitung sedekah. Berkaitan dengan uang, salurkanlah ke lembaga-lembaga resmi yang ada di daerah masing-masing dan mereka rutin mengumumkan penggunaan uang masyarakat itu, setiap pekan atau bulan. Lembaga ini pun selayaknya diaudit atau HARUS diaudit, minimal oleh warga yang menitipkan dana itu kepada mereka. Jangan karena merasa ikhlas berinfak-zakat-sedekah lalu warga membiarkan begitu saja pengelolaan dana itu, bahkan sampai petugasnya mengorupsi dana itu. Pembiaran seperti ini pun akan ada pertanggungjawabannya di akhirat nanti, karena seolah-olah membiarkan orang lain berbuat buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat, silakan mulai shaum pada tanggal 9 Agustus 2010, silakan juga pada 11 Agustus 2010, atau pada tanggal lain yang diyakini karena sudah dihisab dengan ilmu dan teknologi atau rukyat hilal. Yang pasti, semuanya mulai shaum pada 1 Ramadhan 1431 H. Tak usahlah kelompok yang satu mengklaim sebagai kelompok yang betul sambil menyalahkan kelompok lain. Silakan laksanakan sesuai dengan keyakinan berdasarkan ilmu dan teknologi, tanpa menyalahkan kelompok lain, apalagi sama-sama muslim dengan enam rukun iman yang sama. Kecuali kalau debat itu dilaksanakan di forum ilmiah dan dengan moderator yang adil, tentu sah-sah saja. Kalau di masyarakat bawah, di akar rumput, dan sekadar isu, gak usahlah begitu, karena seperti memancing di air keruh, membuat kekacauan saja. Maaf apabila ada sahabat yang tidak setuju pada pendapat ini. Mudah-mudahan kita setuju (baca: satu tujuan) dalam mardhatillah. *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-9117788965972933456?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/9117788965972933456/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=9117788965972933456&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/9117788965972933456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/9117788965972933456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2010/08/siasat-shaum-ramadhan.html' title='Siasat Shaum Ramadhan'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-3327810737067870148</id><published>2010-08-08T18:30:00.000+07:00</published><updated>2010-08-08T18:32:10.149+07:00</updated><title type='text'>Menjadi Kekupu</title><content type='html'>Perempuan bukanlah pencinta kekupu seorang. Ia milik lelaki pula. Terbang melawan arus angin tetaplah dilalui, tak gentar dihempas ke tanah. Ragam warna, berbagai corak bukanlah kemauan kekupu, melainkan suratan takdir-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekupu kini belum menjadi, ia masih menakutkan, mungkin menjijikkan bagi orang lain. Ia meliuk di daun hijau, menggelikan. Dari kekanak hingga sekarang, geli... bergidik... bulu roma berdiri... kalau dipegang dengan jempol dan telunjuk. Rasanya... lembut-lembut empuk. Kelananya di daun pisang. Ulat lain, yang berbulu dan warnanya menyeramkan... tak berani dijumput. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun... setelah rela tak makan, rela puasa, rela menggulung di daun hijau, ia mampu berubah. Ia menyublim. Subliman lewat pertapaan yang menyakitkan, berlapar-lapar, mengekang nafsu, rela tak “bertemu” pasangan, dan ... dzikir sunnatullah semata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan bukanlah pencinta kekupu seorang. Ia milik lelaki pula. Bertapa, berpuasa dalam masa tertentu yang sudah sunnatullah, akhirnya menghasilkan kekupu indah. Tiada lagi geliat ulat menggelikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metamorfosis ulat menjadi kekupu adalah personifikasi kepompong ruhani manusia. Andaikata manusia, pada beberapa hari menjelang Ramadhan 1431 H ini, merasa dimaki-maki oleh “diri ruhaninya, diri hati nuraninya”, sebagai “penjahat, pembohong, pencela, pezina, penipu, penista, pencuri, pe-KKN, maka Ramadhan ini adalah kepompong baru. Sambutlah ia, masuklah ke dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan bukanlah pencinta kekupu seorang. Ia milik lelaki pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menjadi kepompong selama 1 bulan Ramadhan. Setelahnya...., menjadilah kekupu.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Jangan rela mengulat seumur-umur, menyublimlah menjadi kekupu, lewat kepompong Ramadhan: Gede H. Cahyana)&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-3327810737067870148?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/3327810737067870148/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=3327810737067870148&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/3327810737067870148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/3327810737067870148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2010/08/menjadi-kekupu.html' title='Menjadi Kekupu'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-922010436464118936</id><published>2010-07-30T20:15:00.000+07:00</published><updated>2010-07-30T20:16:28.270+07:00</updated><title type='text'>Dari Lapindo Ke Jalan Lain Ke Roma</title><content type='html'>Dari Lapindo Ke Jalan Lain Ke Roma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Sabtu, 29 Mei 2010 adalah hari ulang tahun ke-4 Lumpur Lapindo. Layaknya ulang tahun yang diperingati oleh manusia, lantunan lagu Selamat Ulang Tahun dinyanyikan oleh kalangan korban dan pekorban Lumpur Lapindo, ”semoga panjang umur?”. Bukan bermaksud sinisme, tetapi faktanya sampai sekarang ahli geologi, hidrologi, hidrolika, mekanika fluida, dll belum mampu menghentikan aliran lumpur itu dan belum tahu kapan akan mati (berhenti).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ”kutukan alam” Lapindo itu, terbentang jalan menuju Roma, tepatnya sepekan ke depan, tanggal 5 Juni 2010 yang disakralkan sebagai Hari Lingkungan Dunia. Diawali oleh &lt;i&gt;The Club of Rome&lt;/i&gt; pada tahun 1972 yang mengeluarkan laporan &lt;i&gt;The Limits to Growth&lt;/i&gt;, Batas Pertumbuhan, bahwa pertumbuhan manusia tidak boleh dibiarkan tanpa batas karena sumber daya alamnya terbatas dan terus terjadi pencemaran. Gerakan &lt;i&gt;zero growth&lt;/i&gt;, pertumbuhan nol itu akhirnya berkembang menjadi gerakan separatis, yakni gerakan yang ”melawan kemajuan sainstek”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, hasil sensus penduduk pada Mei 2010 ini membuat pemerintah terhenyak, terkaget-kaget. Orang Indonesia ternyata produktif dalam beranak-pinak. Pertumbuhan penduduk yang cepat inilah yang menyedot sumber daya alam tanpa diiringi oleh ”pemulihan kondisi”, baik sumber daya alam yang dapat dipulihkan (diperbarui) maupun yang tidak dapat dipulihkan (tanpulih). Penduduk, pembangunan, dan pencemaran menjadi tiga sekawan yang serangkai, terlibat dalam permainan P (P-game). Penduduk (baca: manusia) perlu pembangunan, tetapi harus berwawasan lingkungan, yakni lingkungan yang langgeng mendukung pembangunan. Begitu sebaliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi yang terjadi tidak demikian. Lumpur Lapindo adalah salah satu keteledoran manusia dalam menggunakan alam, jika kita menafikan konsep ”kutukan alam”. &lt;i&gt;”Telah terjadi kerusakan di darat (udara) dan di laut karena ulah manusia (Ar-Ruum: 41)&lt;/i&gt;”. Alam adalah lingkungan hidup manusia, yang beberapa komponennya ialah tanah, udara dan air. Maka, yang positif dari pemerintah perlu didukung, misalnya rencana presiden SBY untuk menanami lahan kritis dengan sawit dan pupuknya dari kompos, bukan dengan cara membuka hutan. Arif dalam memilih teknologi agar tidak mencemari udara, misalnya dengan cara menolak PLTSa, dan berupaya melindungi atau konservasi sumber daya air dengan membuat IPAL (yang tepat guna, bukan IPAL berbasis mekanikal yang mahal dan membebani biaya O-M, malah ”Investor Tak Minati IPAL Terpadu” (koran Pikiran Rakyat) seperti di Kab. Bandung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin-poin tersebut akan dapat melestarikan fungsi lingkungan sehingga mampu mendukung keberlanjutan hidup manusia di Bumi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Hari Lumpur Lapindo, selamat Hari Lingkungan Dunia, 5 Juni 2010. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat ”merantau”, Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma. *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-922010436464118936?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/922010436464118936/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=922010436464118936&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/922010436464118936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/922010436464118936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2010/07/dari-lapindo-ke-jalan-lain-ke-roma.html' title='Dari Lapindo Ke Jalan Lain Ke Roma'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-376451086235584070</id><published>2010-07-30T20:14:00.001+07:00</published><updated>2010-07-30T20:14:45.503+07:00</updated><title type='text'>Aljabar CINTA</title><content type='html'>&lt;i&gt;Satu tambah satu sama dengan dua.&lt;br /&gt;Dua tambah satu ada tiga. &lt;br /&gt;Tiga tambah satu, empatlah jadinya.... dst.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersebut adalah sebait dari untaian lirik sebuah lagu anak-anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris semua orang tahu bahwa satu tambah satu sama dengan dua. Ini aljabar. Algebra atau al-jabr dalam bahasa Arab. Lain aljabar (biasa), lain pula aljabar cinta. Dalam aljabar di sekolah, satu dibagi dua sama dengan setengah. Dalam bilangan basis dua, satu tambah satu sama dengan satu nol. 1 + 1 = 10, &lt;i&gt;binary system&lt;/i&gt;. Sistem biner. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga, satu dibagi dua sama dengan setengah dalam aljabar. Namun dalam kaitannya dengan cinta, satu dibagi dua sama dengan satu. Bukan seperti ini: orang yang punya satu anak, maka cintanya satu. Yang punya dua anak, maka cintanya menjadi 50%, punya tiga anak menjadi 33,33%, punya empat anak cintanya menjadi 25%. Begitu seterusnya. Konsep aljabar di sini tidak terterapkan dalam aljabar cinta atau kasih sayang. Hal yang sama dianggap berlaku dalam poligami. Beristri satu maka cintanya hanya untuk istri seorang. Beristri dua, maka cintanya terbagi menjadi 50%. Beristri tiga, menjadi 33,33% cintanya dan menjadi 25% kalau empat istrinya. Pola numerik ini pun mengikuti aljabar (biasa). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam aljabar cinta, cintanya kepada semua anaknya tetaplah satu alias 100%. Satu tambah satu tetaplah sama dengan satu. Ini Boolean Algebra. Misteri cinta memang sepenuh udara, seluas semesta. Keajaiban cinta pun sedalam hati, bukan sedalam laut. Dalam laut dapat diduga, apalagi sekarang teknologinya sudah canggih, tetapi dalam hati siapa yang tahu. Tiada yang tahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Dialah yang Mahatahu. Wa Allahu ‘alam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-376451086235584070?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/376451086235584070/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=376451086235584070&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/376451086235584070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/376451086235584070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2010/07/aljabar-cinta.html' title='Aljabar CINTA'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-3315149786848164886</id><published>2010-07-30T20:12:00.000+07:00</published><updated>2010-07-30T20:13:21.630+07:00</updated><title type='text'>Kabayan Jadi Ustadz</title><content type='html'>Kyai, mubaligh, atau ustadz adalah profesi terhormat, apalagi di Indonesia. Usai ceramah, dakwah, tausiah senantiasa diberi “berkat”. Itu sebabnya, Kabayan ingin menjadi ustadz demi “berkat” yang dibagikan oleh jamaah. Setelah kursus singkat kepada Kyai Yusuf, lantas Kabayan berceramah atas undangan sejumlah kalangan. Menarik caranya bertutur karena diselipi humor-humor yang “masih di dalam rel normatif Islam”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saum adalah ibadah untuk Allah. Tapi bukan seperti orang saum yang ketika sahur menghabiskan bergentong-gentong nasi, lauk, sayur, susu, kurma, madu, dll. Juga tidak “balas dendam setelah Magrib..., “ kata Kabayan yang disambut senyum hadirin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena disukai oleh jamaahnya, banyaklah undangan ceramah pada Ramadhan itu. Usai kuliah Shubuh, disambung ceramah Dhuha. Lantas “kultum” di masjid bakda Dhuhur. Bakda Asar mengisi pengajian ibu-ibu dan ceramah Tarawih pada malam hari. Jamaah pun menaruh hormat kepada Kabayan sehingga banyak yang mengirimkan “berkat” berupa nasi, lauk, sayur, beras, ubi, kelapa, cengkaleng, singkong, dll. Ada yang berupa bahan mentah, banyak juga yang sudah dimasak, siap disantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keganjilan kemudian terjadi. Memasuki pekan ketiga Ramadhan, jamaah bertanya-tanya, kenapa Kabayan jarang shalat berjamaah di masjid. Beberapa warga menanyakan hal tersebut kepada Kyai Yusuf. Setelah menenangkan jamaahnya dan meminta mereka mendoakan Kabayan agar diberi kesehatan dan keberkahan, kyai lantas pergi. Kyai khawatir terjadi sesuatu yang “mencelakakan” Kabayan akibat aktivitas dakwahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja. Kabayan sedang tidur di dipan dengan napas tersengal-sengal. Perutnya buncit. “Duh aduuh kyai, banyak sekali makanan yang dikirim ke sini. Saya takut makanan ini basi dan mubadzir. Jadi semuanya saya makan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inilah salah satu godaan menjadi ustadz, Kabayan! Melanggar apa yang diceramahkan kepada jamaah. Mereka tidak tahu ustadznya malah kekenyangan karena kalah melawan godaan makanan-minuman lezat. Apalagi dulu merasa sangat susah mendapatkan makanan-minuman selezat itu. Sekarang balas dendam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabayan terisak-isak, badannya bergetar, perutnya terguncang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang istirahat saja, tapi besok harus ke masjid untuk shalat Isya dan Tarawih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak kyai, saya tidak mau menjadi ustadz lagi. Saya tidak sanggup. Lebih baik jadi orang biasa saja.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Kabayan.., tapi ingat..., orang biasa juga harus ke masjid.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya kyai, tapi tidak sebagai ustadz!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan sedih Kabayan, pengalaman ini pun dialami banyak ustadz. Termasuk saya waktu nyantri dulu, sebelum kamu lahir.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isak Kabayan berhenti. Tatapannya lurus ke siluet kyai yang hilang di tikungan jalan. Krikan jangkrik mengisi tobatan Kabayan yang berwudhu di pancuran sebelah rumahnya. Dingin pun jatuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok lusa adalah hari-hari baru baginya. Kembali berbuka (ifthar) dan kembali fitrah, suci (fithrah). ‘Idul Fitri.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diadaptasi dari Si Kabayan Jadi Sufi, karya Yus R. Ismail).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-3315149786848164886?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/3315149786848164886/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=3315149786848164886&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/3315149786848164886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/3315149786848164886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2010/07/kabayan-jadi-ustadz.html' title='Kabayan Jadi Ustadz'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-1494856763365117852</id><published>2010-07-30T20:11:00.000+07:00</published><updated>2010-07-30T20:12:14.808+07:00</updated><title type='text'>Sandhya Kala --&gt; Ramadhan</title><content type='html'>Kedatangan Ramadhan tinggal berparuh bulan. Ormas Muhammadiyah bahkan sudah mengumumkan awal bulan suci tahun ini sedangkan pemerintah menunggu ahli di bidang astronomi dan ru’yat hilal atau hisab. Perbedaan awal Ramadhan dan mungkin juga beda hari dalam pelaksanaan shalat ‘Ied nanti bisa saja terjadi (lagi). Tetapi tetaplah saling menghargai, tak perlu mencemooh yang lain. Sebab, tiadalah yang tahu, kelompok siapa yang diridhai-Nya. Justru yang terpenting ialah terapan dari shaum Ramadhan itu, mampukah meningkatkan akhlak (moral) kita atau malah menuju sandhya kala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekadensi moral, degradasi akhlak sudah lama nanar di mata kita. Maka, tata kala masa sandhya kalaning Bhumi, kehancuran bangsa-bangsa, hanyalah menunggu waktu. Mari renungkan sejenak tulisan &lt;b&gt;Thomas Lickona&lt;/b&gt;, seorang guru-besar di Cortland University. Katanya, ada 10 tanda-tanda zaman sebagai ciri kehancuran bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kekerasan di kalangan remaja, pemuda terus meningkat.&lt;br /&gt;2. Penggunaan bahasa dan kata-kata yang buruk/jorok.&lt;br /&gt;3. Pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan.&lt;br /&gt;4. Perluasan narkoba, alkohol, seks bebas (pornografi, pornoaksi).&lt;br /&gt;5. Gamang dalam menakar moral baik dan buruk.&lt;br /&gt;6. Etos kerja menurun, ingin santai terus, malas.&lt;br /&gt;7. Kurang hormat kepada orang tua dan guru.&lt;br /&gt;8. Rasa tanggung jawab menurun.&lt;br /&gt;9. Curang, tidak jujur terus meluas, bahkan membudaya.&lt;br /&gt;10. Saling curiga dan benci antarsesama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau diperhatikan, semua poin tersebut sudah dan sedang terjadi, khususnya di Nusantara yang berpenduduk 234,5 juta orang ini. Di negeri berpulau kurang-lebih 13.677 unit ini sangat permisif pada kepornoan atau mungkin amnesia, baik pelakunya dari grup politisi, birokrat, pebisnis “hiburan”, artis seperti Ariel-Cut-Tari-dkk, atau masyarakat umum. MOS (dalam tanda kutip) dan ploncoan atau “pukul-siksa adik kelas” di sekolah-sekolah taruna (ini-itu, off the record) juga terus mewabah, tanpa arah, kecuali arahnya dendam kesumat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain poin di atas, almarhum &lt;b&gt;K.H. Rusyad Nurdin&lt;/b&gt; pernah mengompilasi empat poin perilaku buruk manusia sebagai gerak awal sandhya kalaning jagat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;b&gt;Mengagungkan harta&lt;/b&gt; di atas segalanya, menghambakan diri kepada harta. Harta adalah sarana bagi manusia untuk mempertahankan derajat atau meningkatkan dirinya sebagai makhluk Tuhan yang mulia tetapi bukan sebagai tujuan. Kalau sudah menjadi hamba atau budak harta maka kita akan sanggup melakukan apa saja, termasuk yang haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Cenderung &lt;b&gt;manipulasi&lt;/b&gt;, yakni berbuat curang, tidak jujur, menyalahgunakan kekuasaan dan mengkhianati amanah sehingga terjadi korupsi di mana-mana. Untunglah pemerintah sudah bertindak, misalnya ada KPK walaupun belum berhasil maksimal. Orang yang memperkaya dirinya dan orang lain dengan menyalahgunakan kekuasan adalah orang yang berhati kosong, tak punya rasa cinta kepada rakyat kecil yang notabene adalah sebagian besar penduduk Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Cenderung &lt;b&gt;fragmentasi&lt;/b&gt;, yaitu menghargai orang dengan kekayaan dan jabatan/pangkat yang disandangnya, tidak sebagai pribadi yang utuh. Sikap ini menimbulkan tindakan sewenang-wenang terhadap rakyat kecil dan tidak mencerminkan sila kedua Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bersifat &lt;b&gt;individualis&lt;/b&gt;, yakni meletakkan kepentingan diri di atas segalanya. Biarkan orang lain rugi asalkan dirinya untung. Biarkan negara morat-marit asalkan dirinya kaya dan hartanya bertumpuk, kalau perlu sampai tujuh turunan. Perbuatan ini bertentangan dengan sila pertama dan sila kelima Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kelompok pendapat dari seorang profesor di negeri manca dan kyai asal Minangkabau di atas semoga dapat dijadikan butiran embun dalam memasuki Ramadhan nanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhaban ya Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menyambut Ramadhan...., dan.......... reduksilah (sedikit) aktivitas di FB. Perbanyaklah online dengan Sang Mahaonline, Super-Onliner sepanjang masa. Atau..., online-kanlah video, gambar dan/atau tulisan positif bermotif motivasi agar shaum Ramadhan kita tak membuih-riak di laut dan menuai pahala, demikian kata ustadz. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Dialah yang Mahatahu. Wa Allahu ‘alam.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-1494856763365117852?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/1494856763365117852/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=1494856763365117852&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/1494856763365117852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/1494856763365117852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2010/07/sandhya-kala-ramadhan.html' title='Sandhya Kala --&gt; Ramadhan'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-2895677953070354034</id><published>2010-03-21T08:35:00.000+07:00</published><updated>2010-03-21T08:37:10.439+07:00</updated><title type='text'>Ujian Nasional</title><content type='html'>Inilah kisah tentang sejarah ujian, tes, evaluasi, atau apapun namanya. Batasannya, kisah yang kualami ini sekadar kilas-balik senandung penyejuk hati khususnya bagi anak-anakku yang akan di-UN-kan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu di SD dulu kualami tes, namanya Test Diagnostik. Karena namanya Diagnostik, mungkin waktu itu pemerintah ingin mendiagnosa murid-muridnya, “penyakit akademis” apa saja yang bersarang di tubuhnya. Entah apa dan bagaimana hasilnya, sampai sekarang kutaktahu. Di kelas enam SD, ada ujian akhir yang disebut EBTA (Evaluasi Belajar Tahap Akhir). Yang diujikan adalah semua materi pelajaran kelas 1 s.d kelas 6. Tetapi praktiknya, yang diujikan adalah materi kelas 4 hingga kelas 6. Kelulusan murid tidak hanya ditentukan oleh EBTA tetapi diramu dengan nilai ulangan harian dan perilaku, etikanya. Waktu itu ujiannya sudah bersifat regional, karena soal-soalnya dibuat oleh tim guru di Dinas P &amp; K (Pendidikan &amp; Kebudayaan) Kabupaten Tabanan. Hanya saja, hasil EBTA ini tidak bisa dijadikan alat untuk lulus ke tingkat SMP. Lulusan SD harus ikut &lt;i&gt;testing&lt;/i&gt; lagi di SMP yang diminatinya. Waktu itu aku ikut test di 3 sekolah, yaitu SMPN I, SLUB (Sekolah Lanjutan Umum Bawah) Saraswati, dan SMP Harapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun di SMPN I Tabanan, tidak ada ujian lain yang membuat jantung berdebar-debar selain EBTA. Hasil EBTA ini bisa dijadikan alat kelulusan untuk ke tingkat SMA. Yang nilainya mencapai standar tertentu, juga wajib melampirkan nilai raport selama di SMP, dipersilakan daftar tanpa harus ikut ujian masuk SMA. Karena sudah diberlakukan sistem rayon, maka murid tidak bebas memilih SMAN-nya. Dinas P &amp; K waktu itu memilah sekolah berdasarkan batas administrasi yang banyak menimbulkan protes dan ketakpuasan murid dan orang tua. Namun..., peraturan tetap wajib diikuti kalau tak hendak disebut subversif pada masa Orde Baru itu. Beruntunglah aku karena masuk ke rayon Utara yang jatahnya di SMAN I Tabanan. Berbekal nilai EBTA dan raport, diterimalah aku di SMA idamanku. Karena ingin juga merasakan ujian masuk SMA, akhirnya akupun ikut ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada semester kelima di SMA, murid diminta mengisi borang PMDK (Penelusuran Minat Dan Kemampuan) untuk dinilai di Jakarta yang akan digunakan sebagai alat kelulusan di perguruan tinggi pilihan murid. Beberapa kali dilaksanakan latihan pengisian borang agar tidak salah sebelum akhirnya mengisi borang asli. Waktu itu sudah ada rayon sehingga banyak murid yang protes atau kesal karena tidak bisa memilih dua pilihan di luar rayonnya. Satu pilihan harus di dalam rayon (Bali dan Nusa Tenggara) dan satu pilihan lagi boleh di luar rayon. Yang dinyatakan lulus pilihan kedua wajib mengambil jatahnya itu dan tidak boleh ikut ujian masuk perguruan tinggi Sipenmaru: Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru. Kalau tetap tidak mau kuliah di jurusan pilihan kedua, mau tak mau harus rela ikut tes Sipenmaru pada tahun berikutnya. Lantaran takut diluluskan di pilihan kedua maka beberapa orang akhirnya menulis pilihannya untuk satu pilihan saja, umumnya di luar rayon. Andaikata tidak lulus, mereka siap untuk tes Sipenmaru dan dapat bebas memilih dua atau bahkan tiga (IPS) jurusan di rayon yang diminatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pengisian borang PMDK itu, datanglah EBTANAS. Karena labelnya nasional, maka soalnya dari pusat (Jakarta). Nilai EBTANAS digabung dengan nilai lokal dan perilaku, etika murid untuk menentukan kelulusannya. Tetapi..., nilai EBTANAS (dan EBTA) ini tidak bisa digunakan sebagai alat kelulusan di perguruan tinggi. Lulusan SMA dan sederajat harus ikut Sipenmaru. Yang bersikeras ingin kuliah di luar Bali akhirnya hijrah dan mendaftar langsung di rayon yang dicita-citakannya setelah ikut bimbingan belajar yang mulai marak di kota-kota besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini sengaja tidak membahas pro-kontra Ujian Nasional yang tak berkesudahan. Yang kuduga, kalau berpikir positif atau husnudzon, dalam keputusan meng-UN-kan murid pasti ada niat baik untuk memajukan kualitas pendidikan kita. Mungkin caranya yang belum tepat karena rentang mutu sekolah sangat beragam, mulai dari guru, murid, prasarana, sarana, kemampuan ekonomi murid, dll. Berbagai pihak tentu saja boleh mengajukan kritik dan keberatan atas pelaksanaan UN ini sambil memberikan masukan, nasihat, saran kepada pemerintah. Yang pasti, guru memiliki hak otonomi dalam menilai murid-muridnya selama proses belajar, apakah layak lulus ataukah tidak. Jadi, bukan semata-mata ditentukan oleh ujian sekali saja yang disebut UN itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, semoga UN tahun ini dapat meminimalkan penyimpangan yang sering terjadi, yaitu kebocoran soal ujian, pengawasan yang tidak serius, perilaku negatif kepala sekolah dan guru dalam “menyiasati” UN, dan penyimpangan anggaran. Apapun hasilnya, itulah wajah pendidikan kita, sedikit-banyak dapat dijadikan peta akademis generasi mendatang. Mudah-mudahan juga dapat dijadikan peta akhlak atau peta moral masyarakat Indonesia sekarang dan masa yang akan datang sehingga parameternya tidak hanya dari perilaku anggota DPR, DPRD, menteri, pejabat daerah, polisi, hakim, jaksa, presiden-wapres, dan lembaga lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anakku, bacalah buku-bukumu, lalu tulislah kata-kata yang kamu anggap penting. Tataplah tulisanmu itu kemudian buatlah kalimat semaumu, baik lisan maupun tulisan, parafrasekan agar makin kuat lekatannya di selaput kelabu otakmu. Yang pelajaran hitung-hitungan, berlatihlah menjawab soalnya, buatlah orat-oretnya, demikian berulang-ulang. Hal ini sebetulnya harus kamu lakukan sejak dulu, bukan sehari menjelang ujian. Tapi sudahlah..., siapkan saja dirimu, belajarlah. Apapun yang terjadi nanti, itulah hasilnya. Tak usah stres apalagi sampai menyudahi hidup yang cuma sekali saja di Bumi ini. Kamu sudah berusaha, &lt;i&gt;que sera sera, what ever will be... will be.&lt;/i&gt;*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-2895677953070354034?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/2895677953070354034/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=2895677953070354034&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/2895677953070354034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/2895677953070354034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2010/03/ujian-nasional.html' title='Ujian Nasional'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-3489689856323084204</id><published>2010-03-09T03:37:00.000+07:00</published><updated>2010-03-09T03:38:25.190+07:00</updated><title type='text'>Artikel Plagiat atau ...?</title><content type='html'>&lt;i&gt;Note&lt;/i&gt; ini sekadar berbagi pendapat tentang tulisan (artikel) di media massa cetak (koran). Tepat sebulan lalu, yaitu &lt;b&gt;Senin, 8 Februari 2010,&lt;/b&gt; koran Jawa Pos merilis artikel di kolom Opini. Ada dua artikel yang dimuat. Yang pertama, Lebih Ekonomis Sewa Pesawat (oleh Alvin Lie: penerbang dan pemerhati penerbangan); yang kedua, Gus Dur dan Siklus 100 Tahunan (oleh M. Mas’ud Adnan: Dirut Harian Bangsa, Sekjen Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng). Esoknya, Selasa, 9 Februari 2010, di kolom Wacana koran Bandung Ekspres, dua artikel tersebut muncul lagi dengan judul dan penulis yang sama. Sedikit pun tiada bedanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti ditulis di awal, note ini hanya untuk berbagai pendapat tentang asas kepatutan dalam penerbitan karya tulis. Pertanyaan pertama, apakah penulis artikel tersebut sengaja mengirimkan tulisannya kepada dua koran tersebut, kemudian secara kebetulan dimuat pada waktu yang berselang sehari? Ataukah, koran Bandung Ekspres sudah memperoleh izin dari Jawa Pos plus penulisnya untuk menerbitkan artikel yang sama tanpa perubahan sedikit pun? Andaikata poin kedua yang berlaku, patutkah koran menerbitkan artikel yang sama, dalam bahasa yang sama (terlepas dari koran tersebut berada dalam satu grup perusahaan)? Tidakkah ini merugikan pelanggan koran yang ingin memperoleh informasi berbeda dalam ruang kolom yang sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, note ini sekadar berbagi tanpa tendensi apa-apa selain ingin tahu perihal yang sebenarnya karena penasaran saja, kok bisa begitu ya? Ada aturan, tulisan yang sama temanya, sama materinya, bahkan 100% sama bisa dimuat di dua atau lebih media massa (koran, majalah, jurnal, dll) apabila bahasanya berbeda-beda. Kasus plagiasi yang menimpa seorang dosen di kawasan Bandung Utara menggunakan bahasa yang sama (Inggris) tetapi, seperti dimuat di koran-koran, penulis kedua mengambil tanpa izin tulisan dari penulis pertama (aslinya). Lantas ... bagaimana dengan koran yang memplagiasi, baik “resmi” maupun ilegal? *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-3489689856323084204?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/3489689856323084204/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=3489689856323084204&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/3489689856323084204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/3489689856323084204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2010/03/artikel-plagiat-atau.html' title='Artikel Plagiat atau ...?'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-478718893685936170</id><published>2010-02-04T05:05:00.000+07:00</published><updated>2010-02-04T05:10:21.567+07:00</updated><title type='text'>Nasional Demokrat</title><content type='html'>”Bukan barisan sakit hati,” begitu tulis media massa berkaitan dengan deklarasi Nasdem di Jakarta. Betul tidaknya tentu hanya mereka, para personal Nasdem yang tahu. Lepas dari sakit atau tidak hatinya (&lt;i&gt;ssst.., makan kunyit bisa sembuh lho, kata Miss Herbal, :-))&lt;/i&gt;, hidup ini memang plural, jamak, majemuk, bhinneka. Yang kembar satu ovum saja berbeda fisiknya, apalagi psikisnya. Yang satu suku saja beda aliran politiknya, juga beda agamanya. Yang satu keluarga pun ada yang beda agamanya. Jadi..., Bhinneka Tunggal Ika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bukan cikal partai politik”, begitu ujaran yang dikutip koran-koran. Sebetulnya tak masalah kalau dijadikan bakal partai politik. Boleh-boleh saja, tak ada yang melarang. Tinggal nanti, saat pemilu, berapa orang yang memilihnya. Kalau banyak yang memilih tentu dapat kursi di DPR/D bahkan pentolannya bisa menjadi presiden atau wapres. Kalau jumlah pemilihnya sedikit, ya... jadi garam. Eh... gurem. Namanya juga alam demokrasi, tak perlu malu-malu kalau ingin mendirikan partai, sah-sah saja. Halal. Mau namanya negeri seribu partai, mau namanya Kabinet Seratus Menteri, atau bahkan Kabinet Kocar-Kacir, ya... &lt;i&gt;ra po po&lt;/i&gt;, tak apa-apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, ada yang wajib diingat, diresapi sampai meresap di hati (bukan lever, bukan hepar melainkan qalbu) orang-orang yang mendirikan ormas atau partai itu, yaitu jujur dan adil. Jurdil. Jujur artinya tidak bohong, sesuai dengan faktanya dan adil berlaku kepada diri sendiri, adil kepada orang lain, adil dalam memutuskan perkara. Adil itu proporsional, sesuai dengan tugasnya, setimbang antara hak dan kewajiban. Konstituen, simpatisan, kader, pengurus partai dan personal partai yang menjabat di pemerintahan (daerah dan pusat) juga berada dalam neraca kesetimbangan. Begitu kata ahli peradilan di depan pencari keadilan yang akan diadili di kantor pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal Nasdem. Kemunculan Nasdem tak berbeda dengan kemunculan ormas-ormas yang akhirnya menyublim menjadi partai pada awal reformasi, tahun 1997/1998. Ormas itu pun lantas menggeliat, lebih tepat adalah tokoh-tokohnya, kemudian mendirikan partai. Puluhan partai pun menjamur, bak cendawan musim hujan. Namun akhirnya terbukti, sepuluh tahun kemudian, partai yang eksis tak lebih dari jumlah jari tangan. Malah cenderung berkurang dari pemilu ke pemilu. Prediksi pengamat politik, dalam duapuluh tahun ke depan, hingga 2030, jumlah partai di Indonesia akan berujung di angka empat. Partai apa saja itu..., rahasia lho :). Adakah Nasdem di dalamnya? (ini andaikata Nasdem bermetamorfosis menjadi partai, tentu saja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, ormas yang berubah menjadi partai ya..., &lt;i&gt;monggo-monggo aja. Plis plis saja.&lt;/i&gt; Indonesia &lt;i&gt;incorporated&lt;/i&gt;, dihela dari Sabang sampai Merauke, dari Sangihe sampai Rote, dengan mozaik pulau yang jumlahnya, kata sahibul hikayat: 16.666 pulau, sudah dikurangi Pulau Sipadan - Ligitan yang lepas ke Malaysia, termasuk Ambalat dan East Ambalat yang kaya minyak dan gas. Juga termasuk semua pulau yang tak bernama dan pulau ”jejadian”, yakni pulau yang muncul pada saat surut air laut tetapi lenyap saat pasang. Keragaman pulau, keanekaan suku, kebhinekaan budaya, kemajemukan agama menjadi bukti riil yang membolehkan perbedaan, termasuk beda haluan politik. Inilah Indonesia, negara pelangi nan subur (tapi belum makmur) yang bercita-cita &lt;i&gt;toto tentrem kerto raharjo, thok... thock-thock... thokk.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasdem dan ormas lainnya, partai bekursi dan yang tak bekursi di dewan, adalah pernak-pernik pualam, pewarna marmer yang dipasang di lantai rumah bernama Indonesia. Ia mirip pelangi yang indah karena variasi warnanya, yaitu &lt;b&gt;mejikuhibi(ni)u&lt;/b&gt;: merah, jingga, kuning, hijau, biru, (nila), ungu. &lt;i&gt;(Warna nila, menurut sebuah sumber, tidak ada dalam busur pelangi. Betulkah?).&lt;/i&gt; Pelangi mengindah justru karena separasi warnanya. Tak ada warna yang harus mengalah karena dipaksa warna lain, atau harus seragam, misalnya menjadi merah semua, hijau semua, kuning semua, ungu semua. Sebab, kalau satu warna namanya bukan pelangi &lt;i&gt;donk&lt;/i&gt;, tapi pelongo: orang yang melongo alias blow on, semilir angin... blo’on (maaf).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi manusia memang diciptakan secara berkelompok (QS. 49:13) yang masing-masing punya kekhasan dan saling membutuhkan, perlu saling kenal sebagai makhluk sosial. Ini adalah &lt;i&gt;basic need&lt;/i&gt; kalau merujuk ke piramida Maslow modifikasi buatan Zohar-Marshall. Manusia butuh organisasi justru karena manusia itu bersuku-suku dan beragam agamanya sehingga wajar mereka mendirikan ormas dan partai. Ini hukum alam, sunnatullah. Kalimat kuncinya ialah bersatu dalam perbedaan, toleransi harmonis dalam pluralitas (bukan pluralisme).*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai mengetik asterisk di atas, bulu kudukku tiba-tiba berdiri. Lalu ada bisikan, ”Pak, bikin partai yuk!”&lt;br /&gt;”Partai apa?” spontan kujawab.&lt;br /&gt;”Ya parpol dong. Politik.”&lt;br /&gt;”Namanya apa?” entah kenapa, mulutku menjawab sendiri, padahal hatiku berontak. &lt;br /&gt;”Partai Century aja gimana?” lirih, tapi makin jelas suaranya, dari belakangku.&lt;br /&gt;”Jangan itu, mending Kenduri.” tak kuasa kututup mulutku. &lt;br /&gt;”Kenduri...? Bagus. Bagus. Partai Kenduri Gurita.” tengkukku dingin didesir angin dari jendela... ddhaarrr... kilat menerangi kibor komputer. &lt;br /&gt;”.......................!?”&lt;br /&gt;-----ghc-----&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-478718893685936170?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/478718893685936170/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=478718893685936170&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/478718893685936170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/478718893685936170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2010/02/nasional-demokrat.html' title='Nasional Demokrat'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-8474384458971353953</id><published>2009-12-07T08:56:00.000+07:00</published><updated>2009-12-07T08:57:01.817+07:00</updated><title type='text'>Humanimatika</title><content type='html'>Heran sejenak, memicingkan mata, lalu mencoba mencerna makna Senyum 227. Terjawab juga akhirnya setelah dirilis di internet dan ternyata sudah cukup lama orang-orang mengenal jenis senyum yang sulit dipraktikkan ini. Kalau dibuat-buat dengan sengaja, cukup sulit membentuk sunggingan manis. Malah yang terbentuk adalah seringai yang lumayan kecut. Apalagi bagi orang yang kebetulan gigi serinya agak lain daripada yang lain, terlebih lagi ompong, tentu ada beban tersendiri untuk mengukir senyum tsb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain senyum lain pula tertawa. Senyum yang ditebarkan dengan ikhlas sudah dijamin sebagai sedekah di sisi Allah. Bagaimana dengan tertawa? Ada hadis yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad pernah tertawa sampai kelihatan giginya (atau, kalau ada ustadz yang membaca tulisan ini, silakan dikoreksi kalau pernyataan tadi keliru atau salah). Jika demikian, ada juga humanimatika lainnya, yaitu Tawa 007 (nol nol tujuh) atau oo7 (vokal o o tujuh). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh humanimatika yang makin luas dikenal saat ini, dipopulerkan oleh Ustadz Yusuf Mansur, adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;big&gt;10 – 0 = 10&lt;br /&gt;10 – 1 = 19&lt;br /&gt;10 – 2 = 28&lt;br /&gt;10 – 3 = 37&lt;br /&gt;10 – 4 = 46&lt;br /&gt;10 – 5 = 55&lt;br /&gt;10 – 6 = 64&lt;br /&gt;10 – 7 = 73&lt;br /&gt;10 – 8 = 82&lt;br /&gt;10 – 9 = 91&lt;br /&gt;10 – 10 = 100&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum 227 adalah sedekah, Tawa 007 pun sedekah. Keduanya membuat hidup orang lain yang dijadikan objek senyum dan tawa menjadi bahagia. Makin lengkap lagi kebahagiaan itu ketika menerapkan humanimatika filantropi angka sepuluh. Humanitas makin terbukti, makin terwujud ketika kekuatan spiritual menaungi rasa kesejahteraan sosial untuk sesama. Makin banyak yang dikeluarkan ternyata raihan materi semakin banyak. Berbeda dengan konsep kapitalisme yang selalu menerapkan pola hidup pelit medit kedekut bin/binti buntut kasiran. He hmmn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah tersenyum hari ini? &lt;br /&gt;Sudahkah sedekah hari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu ’alam.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-8474384458971353953?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/8474384458971353953/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=8474384458971353953&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/8474384458971353953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/8474384458971353953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2009/12/humanimatika.html' title='Humanimatika'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-5225019230557899484</id><published>2009-12-07T08:55:00.000+07:00</published><updated>2009-12-07T08:56:15.500+07:00</updated><title type='text'>Qurban: Tak Pasti!</title><content type='html'>Kilatan cahaya atau energi foton yang membawa pahala untuk orang-orang yang berkurban memang pasti dijamin Allah dan dijelaskan dalam hadis. Lumrah bagi manusia sebagai pedamba surga, titik akhir yang diminati pekurban adalah dekat dengan Allah setelah ikhlas melepas uang dalam bentuk kambing, domba, sapi, kerbau, atau unta. Kedekatan ini atau quraba, qoruba, bukanlah secara materi jasadiah, melainkan esensi ruhiyah. Karena makna batiniahnya tidak kasat mata maka banyak orang-orang yang tidak percaya bahwa pahala berkurban betul-betul ada. Keraguan ini timbul serupa dengan keraguan manusia pada eksistensi akhirat, pada surga-neraka. Ini pulalah yang selalu memunculkan pertanyaan sejak dulu hingga akhir zaman nanti, yaitu adakah surga, adakah neraka? Betulkah ada? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu pun muncul ketika Idul Adha kemarin. Pastikah masuk surga orang-orang yang berkurban? Untuk menjawab kesangsian ini tidak bisa “to the point”. Harus ada penjelasan dulu, ada uraian awal tentang makna qurban, sebab-sebab adanya ibadah qurban, dan manfaat sosial-ekonomi-politiknya. Dengan kata lain, ada Teori Kemungkinan, ada Prinsip Ketidakpastian dalam balasan berupa surga-neraka. Di mana posisi atau kedudukan pekurban dapat dianalogikan dengan Prinsip Ketidakpastian Heissenberg yang menyatakan bahwa momentum linier &amp; posisi partikel (elektron) tak dapat ditentukan dengan ketelitian tak terbatas secara simultan. Artinya, efek berkurban dalam pandangan surga-neraka tak dapat ditentukan secara otomatis untuk posisi surga karena itu merupakan hak “prerogatif” Allah. Karena hak privilese inilah Allah tak dapat diganggu gugat oleh siapapun dan dengan jumlah hewan kurban berapapun, sebesar apapun energi dan momentum yang dikeluarkan hewan itu untuk menarik manusia masuk ke dalam surga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dikiaskan, Allah tidak bisa disogok dengan segepok uang dollar agar ibadah qurban seseorang diterima, juga tak dapat diluluhkan “hati-Nya” dengan ribuan hewan qurban. Jangankan satu, dua, tiga ekor sapi, dengan ribuan sapi pun Allah tak dapat disogok untuk memberikan surga-Nya  yang tak terbatas luasnya itu. Oleh sebab itu, orang-orang yang berkurban tetap diminta ikhlas, tidak sombong, tidak riya’ ketika berkurban atau ketika namanya disebut dalam prosesi pemotongan hewan di pelataran masjid. Prinsip probabilitas tetap berlaku bagi siapa saja yang berkurban. Ketidakpastian Heissenberg selalu mendampingi pekurban, apakah dihormati dengan surga ataukah dinistakan dengan neraka di alam baqa. Hanya saja, seperti jaminan Allah dalam Al Quran dan Nabi Muhammad Saw dalam hadisnya, gelombang pahalanya berkelebat lebih cepat daripada kilat menuju pekurban. Tetapi hadiahnya apakah berupa surga, ini masuk ke dalam Teori Kemungkinan (&lt;i&gt;Probability Theory&lt;/i&gt;) atau Prinsip Ketidakpastian (&lt;i&gt;Uncertainty Principle&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa tak pasti? Sebab, urusan surga-neraka adalah murni pengetahuan Allah. Yang gaib-gaib seperti ini tak mampu diketahui oleh manusia, apalagi manusia yang belepotan dosa, yakni semua manusia hingga akhir zaman. Ada kisah, orang yang tidak beribadah haji karena sebagian biayanya disedekahkan untuk orang yang sangat membutuhkan, justru memperoleh predikat sebagai orang yang mabrur hajinya. Sebaliknya, ada yang berhaji tetapi hajinya dinilai sebagai haji mardud. Hikmahnya apa? Seperti halnya loncatan elektron yang tereksitasi dengan energi yang besar, energi hewan qurban dikiaskan dapat meloncatkan manusia menuju maqam (bukan makam/kuburan) mulia, lepas dari sifat kebinatangannya. Ketika hewannya disembelih, disembelih pulalah sifat-sifat bengisnya kepada sesama manusia. Sudahkah perikehewanan dan kebengisan itu disembelih oleh pekurban pada hari Idul Adha dan tiga hari Tasyrik? Wa Allahu ‘alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat dan berqurbanlah (QS. Al Kautsar: 1-2).&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-5225019230557899484?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/5225019230557899484/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=5225019230557899484&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/5225019230557899484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/5225019230557899484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2009/12/qurban-tak-pasti.html' title='Qurban: Tak Pasti!'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-7494759791004519503</id><published>2009-12-07T08:54:00.000+07:00</published><updated>2009-12-07T08:55:20.077+07:00</updated><title type='text'>Quantum Qurban</title><content type='html'>Istilah zarrah atau “seberat biji sawi” dalam Al Qur’an bisa dimaknai sebagai atom, bisa juga substansi kecil di dalam atom itu, yakni elektron. Seperti seorang pesenam di arena olimpiade, elektron pun bisa loncat sana loncat sini. Bahkan ia mampu menembus dinding atau pelat baja sekalipun. Loncatan dahsyat elektron yang kemudian disebut Quantum Leap ini akhirnya memajukan dunia telekomunikasi, informasi, dan energi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukungan terhadap Bibit dan Chandra (KPK, yang akhirnya bebas) oleh komunitas dunia maya, seperti FB-ers juga mencirikan efek Qantum Leap karena dalam tempo singkat dapat menggoyang selaput kelabu otak dan jaringan hati (qalbu) FB-ers sehingga jejarinya begitu ringan untuk mengklik “dukungan” hingga sejuta “orang”. Kesatuan hati dengan aliran elektron qalbu terbukti mampu menjelajahi relung hati yang terdalam dari FB-ers. Inilah fakta bahwa elektron qalbu dapat ber-Quantum Leap ke semua FB-ers karena dilandasi oleh elektron empati, merasa senasib lantaran dizalimi oleh polisi dan jaksa. FB-ers merasa seolah-olah energi penzaliman itu terjadi pada dirinya, melebur dalam kesatuan massa sehingga spontan menghasilkan impuls dan momentum. Bayangkan, satu cicak seberat 10 gram, kalau dikumpulkan sejuta cicak tentu masanya menjadi buuueeesaaar dibandingkan buaya yang cuma 500 kg. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dalam Qurban pada Hari Idul Adha ini? Persis seperti elektron di dalam atom atau “cicak” mungil dalam kasus KPK vs Polri (Jaksa). Kecepatan foton (cahaya) sebagai limit kecepatan di alam ini berkelebat secepat kilat dalam proses pengurbanan. Ada hadis yang jelas menyatakan bahwa sebelum darah hewan kurban itu menyentuh tanah, pahala dari Allah sudah sampai lebih dulu kepada orang-orang yang berkurban. Maka, fenomena ini, mungkin sudah tidak cocok lagi disebut Quantum Leap, tetapi Super-Quantum leap. Bayangkan, leher hewan kurban dan dasar tanah di dalam lubang penampung darah jaraknya kurang dari 30 cm saja, meskipun sudah ada gaya gravitasi, tetap saja aliran pahala dari Allah lebih cepat ketimbang tetesan darah hewan kurban itu mencapai tanah. Inilah Superquantum Leap versi qurban atau Quantum Qurban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh luar biasa energi pahala dalam Quantum Qurban (QQ) yang mengelilingi orang-orang yang berkurban. Selamat Idul Adha, selamat berkurban, semoga tidak menjadi korban orang-orang yang mengorbankan hidup akhiratnya demi hidup dunianya.**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-7494759791004519503?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/7494759791004519503/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=7494759791004519503&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/7494759791004519503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/7494759791004519503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2009/12/quantum-qurban.html' title='Quantum Qurban'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-922662885660993906</id><published>2009-12-07T08:53:00.000+07:00</published><updated>2009-12-07T08:54:23.429+07:00</updated><title type='text'>Daging</title><content type='html'>Tergesa-gesa, hatinya waswas, ia turun dari angkutan kota, di pojok prapatan, dekat tikungan yang menuju stasiun kota. Kresek hitam digenggamnya di tangan kiri, tangan kanannya menenteng tas kanvas. Jam berdetak di angka 23.37 WIB. Tetesan peluh membasahi dahi, mengalir di alur sisi kanan hidungnya. Tiga gelandangan melihatnya sebentar lalu kembali dalam keasyikan semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih untung, dalam malam selarut itu, datanglah ojek. Lambaian tangannya pertanda ia butuh jasa antaran. Agak tergesa, ojek langsung menggerung, mengepulkan asap knalpot bercampur debu. Gelandangan itu terkesima, tidak lama. Mereka serentak lari ke tempat duduk lelaki tadi. Bungkusan. Kresek itu. Gembira sekali mereka karena seharian ini belum makan, perutnya hanya diganjal ubi bekas sisa pedagang gorengan yang mangkal di dekat prapatan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak, kresek itu berisi daging seukuran dua kepalan tangan orang dewasa. Dalam sejam, “pesta” daging asap di dekat jembatan penyeberangan pun dimulai. Lantaran belum makan, suap demi suap masuk ke mulutnya dengan lahap, padahal hanya ditaburi garam dan bawang bekas yang dipulungnya di pasar belakang stasiun. Betul..., betul sekali, nikmat makan terbukti ketika lapar, apalagi sangat lapar. Tanpa bumbu pun tetap nikmat. Pukul tiga dini hari, mata mereka mulai redup, daging habis, tinggallah bara, abu, asap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf pak.., maaf... Bapak lihat kresek saya semalam?” suara lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menguap dan malas, seorang membuka matanya, “Ya pak, tapi maaf, sudah habis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Habis gimana pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu pak, tadi malam bungkusan bapak sudah kami bakar, kami makan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Astaga..., itu punya ibu saya pak. Waduh, gimana nih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya pak, kami minta maaf. Perut kami lapar sekali!” sahut yang seorang lagi. Semuanya terbangun mendengar percakapan itu. Adzan Shubuh mulai terdengar sayup-sayup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semalam kami lapar pak. Tapi sekarang sudah kenyang. Bapak penolong kami. Terima kasih ya pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut mata lelaki itu membulir air mata dan berkaca-kaca. Ada orang yang jauh lebih malang daripada dirinya yang sedang ditimpa ujian. Ia ingat ibunya yang sedang terbaring di rumah sakit dan ingat juga pada nasib gelandangan itu. Tetes pertama akhirnya jatuh membasahi tanah berdebu, galau hatinya melihat nasib tiga orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, maaf pak, tolong ikhlaskan daging itu ya, sudah kami makan!” pinta yang tertua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh.., iya pak.. iya.. saya ikhlas. Tapi pak..., itu..., ibu saya sakit pak. Dan daging itu... itu daging tumor di rahim ibu saya. Kemarin malam dioperasi. Saya bawa pulang, mau dikubur di belakang rumah.“ *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-**-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daging. Seonggok daging. Bisa bermanfaat, bisa juga mudharat. Ketika banyak orang di pesta pernikahan, ultah, peresmian kantor, dll membuang-buang daging, ada sekitar 70-an juta orang Indonesia yang belum tentu makan daging dalam setahun, kecuali saat Idul Adha. Pada 27 November 2009 lalu sebagian mereka sudah makan daging “normal” lagi. Kenapa “normal”? Sebab, mereka terbiasa makan daging bekas, daging pulungan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. Bahayanya lagi, daging bekas ini ada yang diolah lagi kemudian dijual ke sekolah-sekolah atau ke warung nasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, inilah hidup. Banyak orang yang berlimpah uang dengan mudah membeli daging, bisa dimasak sendiri atau beli yang sudah jadi di warung nasi, restoran, rumah makan, dll. Tetapi, boleh jadi kualitasnya tak jauh beda dengan daging tumor atau lebih buruk lagi karena direndam di dalam formalin atau zat pengawet lainnya. Atau haram karena zatnya, karena cara menyembelihnya, atau karena cara mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah saya pada ucapan khalifah rasyidin, khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib, r.a, ”Jangan jadikan perutmu seperti kuburan hewan.” Allahu ‘alam, Allah sajalah yang Mahatahu. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-922662885660993906?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/922662885660993906/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=922662885660993906&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/922662885660993906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/922662885660993906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2009/12/daging.html' title='Daging'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-7938659773747866643</id><published>2009-12-07T08:52:00.002+07:00</published><updated>2009-12-07T08:53:23.890+07:00</updated><title type='text'>0, 10, …, 1110</title><content type='html'>tentang puisi&lt;br /&gt;tak s’lalu bicara cinta, tak ba’ cinta&lt;br /&gt;tak s’lalu untaian kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada asa sentuhkan hati&lt;br /&gt;bukan hepar&lt;br /&gt;apalagi kalbu(n)&lt;br /&gt;melainkan qalbu(n).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;puisi..., ia pun mengada&lt;br /&gt;mewujud angka&lt;br /&gt;ejawantah sesimbol &lt;br /&gt;ialah bilangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sistem biner &lt;br /&gt;cetuskan komputer&lt;br /&gt;mudahkan mengetik, menulis, menggambar&lt;br /&gt;menghitung, mengeblog, memfesbuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biner meriak-riaki&lt;br /&gt;menduplikasi diri&lt;br /&gt;mengganda bodi, &lt;i&gt;doubling division&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;mengeksis diri&lt;br /&gt;di Bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehelai puisi Ayat-Ayat Semesta, ke-Mahaagungan Allah, di dalam kilatan pena Agus Purwanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;big&gt;0 x 9 + 0 = 0&lt;br /&gt;1 x 9 + 1 = 10&lt;br /&gt;12 x 9 + 2 = 110&lt;br /&gt;123 x 9 + 3 = 1110&lt;br /&gt;1234 x 9 + 4 = 11110&lt;br /&gt;12345 x 9 + 5 = 111110&lt;br /&gt;123456 x 9 + 6 = 1111110&lt;br /&gt;1234567 x 9 + 7 = 11111110&lt;br /&gt;12345678 x 9 + 8 = 111111110&lt;br /&gt;123456789 x 9 + 9 = 1111111110&lt;/big&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-7938659773747866643?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/7938659773747866643/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=7938659773747866643&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/7938659773747866643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/7938659773747866643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2009/12/0-10-1110.html' title='0, 10, …, 1110'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-8579948504325020009</id><published>2009-12-07T08:52:00.001+07:00</published><updated>2009-12-07T08:52:34.668+07:00</updated><title type='text'>Nol</title><content type='html'>“Nomor hp-mu berapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kosong delapan satu lima ….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban di atas sering terdengar dalam keseharian. Mengapa dikatakan kosong? Kenapa tidak disebut nol? Kosong dan nol berbeda maknanya dalam matematika, logika, fisika, realita. Tertawa kita? Tak &lt;i&gt;pa-pa&lt;/i&gt;, itulah fakta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, angka nol tak ada dalam angka Romawi. Hanya angka Arab yang memiliki angka nol dengan simbol titik. Dalam perkembangannya, angka nol lantas disimbolkan dengan ”0” dan dieja dengan nol atau nul atau null (English) dan dimasukkan ke dalam kelompok bilangan genap!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna nol ialah zero atau ”ada yang tiada dan tiada yang ada”. Analoginya kolong dipan. Ruang di bawah dipan yang dinamai kolong ini kalau dilihat-lihat dan dicari-cari tetap saja tidak ada. Tapi kita yakin ia ada. Ia ada dalam tiada. &lt;i&gt;(Duh pabaliut kieu geningan)&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kosong artinya tidak ada atau empty. Dalam matematika, kosong ini menjadi himpunan bagian dari sebuah set himpunan (Semesta, S). Ia tidak memiliki anggota atau unsur. Jadi, kalau ada set himpunan yang anggotanya ”nol” maka himpunan bagiannya ada dua, yaitu himpunan bagian kosong dan nol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bisnis, angka nol memegang posisi utama. Salah jumlah atau salah menempatkan angka nol bisa merunyamkan semua orang. Di bidang elektronika dan sistem biner pun peran nol sangat penting. Ia angka istimewa. Ia perkasa. Berapa pun besarnya sebuah angka, kalau dikalikan dengan nol, hasilnya nol. Misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;big&gt;1 x 0 = 0&lt;br /&gt;22 x 0 = 0&lt;br /&gt;333 x 0 = 0&lt;br /&gt;4444 x 0 = 0&lt;br /&gt;55555 x 0 = 0&lt;br /&gt;666666 x 0 = 0&lt;br /&gt;7777777 x 0 = 0&lt;br /&gt;88888888 x 0 = 0&lt;br /&gt;999999999 x 0 = 0&lt;br /&gt;1234567890 x 0 = 0&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawan kali adalah bagi. Kalau suatu angka dibagi nol, maka hasilnya....? Misalnya:&lt;br /&gt;&lt;big&gt;1111111111 : 0 = &lt;br /&gt;222222222 : 0 = &lt;br /&gt;33333333 : 0 = &lt;br /&gt;4444444 : 0 = &lt;br /&gt;555555 : 0 =&lt;br /&gt;66666 : 0 = &lt;br /&gt;7777 : 0 =&lt;br /&gt;888 : 0 =&lt;br /&gt;99 : 0 =&lt;br /&gt;0 : 0 =&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt berfirman dalam QS Al-Fajr (89): 3. &lt;b&gt;”Demi yang genap dan yang ganjil.”&lt;/b&gt; Apa maknanya Allah menyebut atau bersumpah atas yang genap dan yang ganjil? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;1234567890- ghc -0987654321-&lt;/small&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Film apa sih, kok heboh buangeeet?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dua nol satu dua!” Ini betul. &lt;br /&gt;”Dua nol duabelas!” Ini juga ok. &lt;br /&gt;”Duaribu duabelas!” Ini paling aman, gak bakalan deh ada yang bingung ngung ngung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari biasakan diri membilang nol, bukan kosong, ketika merujuk pada angka yang simbolnya “0”. Cobalaahh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-8579948504325020009?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/8579948504325020009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=8579948504325020009&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/8579948504325020009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/8579948504325020009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2009/12/nol.html' title='Nol'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-4506732118865414847</id><published>2009-12-07T08:51:00.001+07:00</published><updated>2009-12-07T08:51:38.966+07:00</updated><title type='text'>2012</title><content type='html'>Kiamat? Beragam cara dan upaya ditempuh manusia untuk mengetahui kapan dan bagaimana terjadinya kiamat. Sama persis dengan keingintahuan manusia atas pembentukan semesta alam. Teori pun digeber, didiskusikan, mulai zaman Yunani purba, masa kejayaan Aleksandria (Iskandariah), keunggulan Arabia, hingga kecemerlangan abad pertengahan, bahkan sampai awal abad ke-20 hingga awal abad ke-21 ini, bahkan mungkin sampai akhir zaman ketika detik-detik kiamat sedang &lt;i&gt;countdown&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya ilmuan yang meramaikan topik kesejatian jagat ini, tetapi juga kalangan awam dengan versinya masing-masing. Silang pendapat sudah lumrah, ada juga yang saling mendukung. Dunia sinema pun tak mau ketinggalan, dan bahkan antusias dengan harapan mendulang dollar atau rupiah. Faktanya memang begitu. Semua film bergenre awal-akhir alam semesta nyaris selalu laris manis, apalagi dikemas dengan sainsfiksi. Dulu ada Armageddon, The Day After Tomorrow, Water World, Star Wars, Jurassic Park, The Lost World, dll. Kini ada 2012. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dipastikan, ada kegamangan filosofis di hati setiap sutradara dan penulis cerita terhadap isi novel atau filmnya. Apalagi dalam otaknya diliputi oleh teori Big Bang, dentuman besar yang diperkirakan terjadi 15 milyar tahun yang lalu dan teori evolusi Darwin, Darwinism yang mengobok-obok dunia religius. Yang tak kalah penting sekaligus genting adalah ketika film tersebut menjadi pembentuk opini penonton tentang kesunyataan jagat dengan dua hasil, yaitu: percaya akan adanya Sang Khalik atau sebaliknya, menjadi atheis, tak percaya adanya Tuhan. Yang mana yang terjadi, kembali kepada ilmu agama yang diperolehnya selama ini dan pembaruan ilmu yang mampu menjelaskan asal muasal dan akhir massa semesta didasarkan pada keimanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, tontonan apa pun dapat dijadikan tuntunan dengan berpegang pada ilmu agama yang diberikan oleh kyai, asatidz, mubaligh, guru, dll. Akankah skenario 2012 memang bakal terjadi? Skenario kiamat, merujuk pada &lt;b&gt;Al-Zalzalah: 1-2&lt;/b&gt;, sbb: &lt;i&gt;apabila bumi diguncang dengan dahsyat, dan bumi mengeluarkan beban berat yang dikandungnya... &lt;/i&gt; Di ayat 3, manusia pun hanya bisa bertanya-tanya: &lt;i&gt;mengapa bumi jadi begini...?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun skenario film 2012 itu, sejatinya kiamat pasti terjadi. Sudahlah, Allahu ‘alam.  &lt;i&gt;Que sera-sera, what ever will be, will be.&lt;/i&gt; ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-4506732118865414847?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/4506732118865414847/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=4506732118865414847&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/4506732118865414847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/4506732118865414847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2009/12/2012.html' title='2012'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-1294674657033054532</id><published>2009-12-07T08:49:00.000+07:00</published><updated>2009-12-07T08:50:10.881+07:00</updated><title type='text'>Hukum: KPK vs POLRI</title><content type='html'>Orang barbar (biadab) dinisbatkan kepada orang atau sekelompok orang yang dianggap tak tahu aturan, tak tahu hukum, dan hidupnya liar di alam buas. Sebaliknya, orang yang tahu hukum, hidup bermasyarakatnya diatur oleh hukum, dan hidupnya teratur dalam sebuah kampung, dusun, desa, kota, atau negara biasa disebut orang beradab. Beradab sama dengan memiliki adab, berbudaya, humaniora, dan terkait dengan (sejarah) peradaban adiluhung. Itu sebabnya, sejumlah perguruan tinggi memiliki Fakultas Adab dengan prodi yang berkaitan dengan kesejarahan, peradaban, kesusasteraan, kemanusiaan. Lebih jauh lagi, semua siswa dan mahasiswa pasti sudah pernah belajar adab, ilmu budaya dasar, dan ilmu agama. Atau, minimal kalangan yang usianya sekarang (2009) di atas 40 tahun pasti sudah pernah mengikuti penataran P4, selain belajar pelajaran Pancasila. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah pelajaran-pelajaran tersebut diterapkan dalam keseharian? Tentu pribadi masing-masing yang mampu menjawabnya secara jujur. Hanya saja, kalau kita melihat keadaan pejabat negara yang bersengketa, khususnya antara aparat hukum seperti KPK, Polisi (mungkin juga Jaksa, Hakim, MA) seolah-olah mereka tidak tahu hukum. Padahal gelarnya sarjana hukum, sarjana sosial, magister hukum, magister humaniora. Orang zaman dulu yang tidak tahu hukum disebut barbar (&lt;b&gt;barbarian&lt;/b&gt;: &lt;i&gt;uncivilized person: especially in ancient times, a member of a people whose culture and behavior was considered uncivilized (sometimes considered offensive),&lt;/i&gt; mirip dengan film Conan The Barbarians, sebuah film yang dipenuhi tayangan otot, bukan kekuatan otak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memalukan memang, pejabat tinggi berkelakukan sama dengan kanak-kanak, tak beda jauh dengan cucu-cucunya, mengadu ke sana, merajuk ke sini, dan berupaya mencari pelindung dan dukungan dengan berbagai cara. Pejabat yang tahu hukum justru menjadi peleceh hukum, pelacur hukum. Apapun hakikat di balik berita yang (seolah-olah) fakta karena diberitakan di media cetak dan elektronik, hakikat yang hakiki adalah pengetahuan Allah. Hanya saja, “tangan Tuhan” ini tidak tampak segera turun tangan, mengayun kepada kalangan yang salah dan memeluk kalangan yang benar. “Tuhan Tahu, Tapi Menunggu,” tulis Leo Tolstoy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kisah menarik yang terjadi pada zaman Khalifah Al Mansyur. Suatu kali khalifah ingin mengangkat seorang hakim dan ia sudah tahu siapa saja kandidatnya. Ada empat orang sufi yang dipanggilnya. Yang pertama adalah Abu Hanifah, lalu Sofyan Tsauri, Misar dan Syuraih. Sebagai orang ‘alim pada zamannya, mereka tahu bahwa pekerjaan hakim sangat berat, salah-salah bisa dibalas dengan neraka di akhirat. Itu sebabnya, masing-masing sudah punya niat untuk menolak jabatan hakim. Sama sekali mereka tak tertarik pada jabatan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hanifah, setelah bertemu muka dengan khalifah, mengutarakan berbagai argumentasi bahwa dirinya tak cocok menjadi hakim meskipun ia dikenal sebagai seorang ulama dan ahli hukum. Lantaran kegigihannya itu, Abu Hanifah terhindar dari jabatan hakim dan ia bersyukur tak mengemban jabatan itu. Sufi lainnya, yaitu Sofyan Tsauri malah melarikan diri demi menghindari tugas berat itu. Yang luar biasa adalah Misar. Besar sekali pengorbanannya karena ia rela berperilaku gila agar khalifah tak memilihnya. Yang terakhir adalah Suraih. Ia juga menolak jabatan itu dengan cara berpura-pura sakit keras. Namun khalifah justru memerintahkan aparatnya untuk mencari tabib terbaik. Mau tak mau, jabatan hakim itu akhirnya disematkan ke pundaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak betapa orang-orang berilmu itu menolak jabatan hakim, sebuah jabatan yang sangat diminati di Indonesia. Tak hanya jabatan hakim, tapi juga jabatan-jabatan lainnya yang berkaitan dengan hukum dan keadilan. Begitu pun yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat di berbagai departemen, dinas, dan lembaga sarat dengan main uang, sogok-menyogok, suap-menyuap, sebuah bagian dari ketidakadilan. Bahkan dalam penerimaan murid baru SMP, SMA pun terjadi ketidakadilan. Tender-tender projek, baik pada taraf konsultan maupun kontraktor dan supervisi juga demikian. Demi kenaikan pangkat lewat jalur sekolah pun harus terlebih dahulu menyerahkan uang agar urusannya mudah dan saling sikut dengan temannya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, nyaris tak ada satu profesi pun di negeri nyiur melambai ini yang tidak melibatkan uang dan jauh dari keadilan. Padahal dalam al Qur’an surat an Nisaa: 58, ditegaskan seperti ini: Jika kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menghukum dengan adil. Artinya, kalau tidak adil, maka keadilan itu akan diterapkan di akhirat kelak dan hakimnya akan dimintai tanggung jawab oleh Sang Mahahakim: Allah swt. Hal serupa bisa disimak pada kata-kata Nabi Muhammad dalam hadisnya ini: Jika Fatimah anak perempuan Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya. Adakah yang berani demikian? Yang terjadi justru aparat hukum makin melindungi saudaranya yang jelas-jelas salah dan berupaya dengan segala daya, termasuk pamer kekuasaan dan uang untuk membebaskannya dari jeratan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah wajah hukum dan peradilan di Indonesia, sebuah wajah bopeng carut-marut. Orang yang telah jelas bersalah bisa melenggang di udara bebas, tapi yang tak bersalah atau masih samar-samar malah mendekam di penjara. Betullah kata sejarawan bernama Gibbon, penulis buku &lt;i&gt;The Decline and The Fall of Rome&lt;/i&gt;. Katanya: kehancuran Romawi karena hukumnya tak dipatuhi. Mereka pintar membuat hukum dan peraturan demi sekadar dibuat dan disahkan tapi tak dipedulikan. Hukumnya dijadikan hiasan dan diperjualbelikan seperti barang dagangan. Perkara adalah tambang uang yang kapan pun bisa digali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada suatu ketika..., tata kala masa..., to be or not to be...., sandhya kala ning Nusa Antara.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-1294674657033054532?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/1294674657033054532/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=1294674657033054532&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/1294674657033054532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/1294674657033054532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2009/12/hukum-kpk-vs-polri.html' title='Hukum: KPK vs POLRI'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-6700393738490193294</id><published>2009-10-29T06:34:00.000+07:00</published><updated>2009-10-29T06:35:15.810+07:00</updated><title type='text'>BATIK</title><content type='html'>Unesco akhirnya menetapkan salah satu produk budaya, yaitu batik sebagai milik Indonesia dan menjadi warisan dunia. Sebagai rasa syukur, pemerintah mengajak masyarakat Indonesia untuk mengenakan batik pada Jumat, 2 Oktober 2009. Dapat dimaklumi rasa bungah pemerintah lantaran beberapa bulan terakhir ini sejumlah produk budaya Indonesia diaku-akui sebagai milik negeri jiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengaku orang Indonesia nyaris tak ada yang tak tahu batik. Bisa dipastikan, minimal bisa diduga, setiap orang dewasa di Indonesia, pasti punya batik. Malah anak-anak TK dan murid-murid sekolah pun diwajibkan mengenakan batik. PNS apalagi, setiap tanggal 17 selalu upacara dan berseragam batik. Mantan presiden masa Orde Baru, Pak Harto dan keluarga besarnya, dikenal sebagai pencinta (bukan pecinta) batik. Waktu puluhan kepala negara bertandang ke Tapos, semuanya mengenakan batik yang didesain oleh desainer nomor wahid di Indonesia. Batik telah membadai budaya yang menyapu semua lapisan masyarakat, mulai dari strata rendah sampai tinggi. Oleh sebab itu, batik bukanlah milik stratum tertentu melainkan kosmopolitan. Dari Sabang sampai Merauke, dari Sangihe hingga Rote terbentang kriya budaya turun-temurun ratusan tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain batik, lain pula komentar orang terhadap yang berbaju batik (pebatik). Faktanya, pebatik belia, di bawah 25 tahun, sering dicap sebagai peselera tua. Pebatik berusia likuran awal selalu diidentikkan sebagai pelawan jeans belel robek di sana-sini, tak pernah dicuci. Makin jarang dicuci makin “saktilah” denimnya. Dulu, pada dekade 1980-an, yakni sebelum Cihampelas Bandung dibanjiri produk jeans belel, kalangan muda sengaja melubangi Levi’s, Lee, JM, Grafitti, Tira, dll yang baru saja dibelinya lalu direndam di air kaporit. Esoknya, muncullah jeans belel “sakti mandraguna”, dipamerkan di antara rekan-rekan pesuka Sersan Grung-Grung bermotor trail sambil trek-trekkan. Dunia terasa milik mereka, layaknya anggota band musik cadas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batik, meskipun ada di mana-mana di Nusantara ini, yang sering dinisbatkan sebagai kota batik adalah Solo dan Pekalongan dengan ratusan ribu pembatik, perajin batik. Belum lengkap wira-wiri seseorang di Solo kalau belum menelusup di sela-sela Klewer. Mulai yang dijual kodian sampai eksklusif pun bisa diperoleh, juga bisa dipesan dengan harga bersaing. Beberapa merek terkenal pun ditawarkan di galeri dengan harga kompetitif. Malah ada orang yang kecanduan batik, khususnya batik tulis, sehingga ke mana saja berkunjung selalu saja membeli kain bermotif khas daerah tersebut lalu dijadikan koleksi, ditinggal di lemari. Sesekali saja dikenakan. Adiksi ini, sebut saja dengan istilah Batikaholic atau Batikaholism. Ketagihan batik. Sejak ditetapkan oleh Unesco pada 2 Oktober 2009 nanti, Batikaholik berpeluang masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batik, agar tidak dijarah dan diaku-akui sebagai hasil olah pikir dan kreasi bangsa lain, seyogyanya (“sesolonya?”) dipatenkan dan ditulis di dalam KITAB. BATIK – KITAB. Bolak-balik, &lt;i&gt;alternating words.&lt;/i&gt;  Karena Unesco telah memulainya dan kita sering mengenakannya, maka, berbatiklah pada 2 Oktober 2009 dengan sukarela, sukaikhlas, sukabatik. Berbatik ke masjid saat shalat Jumat pada 2 Oktober itu menjadi salah satu apresiasi atas produk dalam negeri. Teringat pada film seri di TVRI pada dekade 1980-an: ACI, Aku Cinta Indonesia*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran Pikiran Rakyat tadi pagi menulis tentang batik. Bagian prolognya bercerita tentang batik yang dikenakan oleh Prof. Dr. Iftikar Z. Sutalaksana ketika mempertahankan disertasinya di Eropa. Tidak seperti lazimnya semua mahasiswa di Eropa yang berjas, baik bule maupun nonbule, Pak Iftikar justru minta izin untuk mengenakan batik ketika ujian disertasinya. Promotornya mengizinkan, lantas..., dekannya pun akhirnya mengiyakan. Jadilah beliau sebagai orang pertama di Eropa, mungkin juga di dunia, yang berbatik ketika sidang doktoral. Bahkan, batik bersejarah itu, masih disimpannya hingga kini. (Ingat Pak Iftikar, jadi ingat kota Roseto dan sepenggal ayat: “Wahai nafsu (jiwa) yang tenang, Al-Fajr: 27. Paparan elaborasi terhadap loncatan teknologi dan kegamangan jiwa manusia pada era nanoteknologi ini, menjadikan manusia seolah-olah onggokan daging yang bergerak, berserak melata, tak beda dengan primata, menjadi asfala saafiliin: jauh lebih hina ketimbang hewan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-6700393738490193294?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/6700393738490193294/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=6700393738490193294&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/6700393738490193294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/6700393738490193294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2009/10/batik.html' title='BATIK'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-1964252666457145430</id><published>2009-10-29T06:32:00.000+07:00</published><updated>2009-10-29T06:33:58.405+07:00</updated><title type='text'>SURABI</title><content type='html'>Pisau di tangan kananku, surabi di tangan kiriku, kubelah dia menjadi dua. Masing-masing kupotong lagi menjadi dua sehingga total menjadi empat sektor. Anakku yang di SD, yang nomor 3, sudah tak sabar lagi ingin mengunyahnya. Tapi kularang sebelum dia menjawab pertanyaanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi ada satu surabi, sekarang menjadi empat potong, jadi sepotong ini sama dengan berapa bagian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ehm... berapa ya..., empat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”He..he.. salah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Coba lagi..., berapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ah... bapak..., malas ah, masa’ pake itung-itungan terus...!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Coba diulang..., sepotong ini sama dengan berapa bagian? Ayo... pasti bisa. Ini kan pelajaran kelas empat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau setiap potongan dari empat potong ini dipotong lagi menjadi dua, maka satu potong yang kecil ini menjadi berapa bagian dari surabi besar tadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ahh... bapaaak..., udah ah..., gak jadi makan!” sambil ngeloyor pergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---*---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengajak anak agar mau belajar memang susah. Atau..., susah-susah mudah. Mungkin lebih banyak susahnya ketimbang mudahnya. Belajar dengan cara bermain memang dianjurkan tetapi tidak semua subjek bahasan mudah dicarikan analogi atau pendekatannya. Bilangan pecahan seperti ”pecahan” surabi di atas misalnya, cukup sulit dikenalkan konsepsinya dengan pendekatan kehidupan nyata sehari-hari, jauh lebih sulit daripada sekadar hapalan angka yang diajarkan gurunya lewat garis bilangan. Ini terjadi lantaran metode pengajarannya lebih condong pada ”Cara Belajar Guru Aktif” dengan seminimal mungkin ”mengaktifkan” murid-muridnya. Padahal, banyak anak bisa menjadi pencinta pelajaran yang ”dianggap” sulit dengan melibatkannya pada pola belajar siswa aktif dengan media nyata (realistik) dalam kesehariannya (&lt;b&gt;matematika realistik&lt;/b&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi..., itu mungkin menjadi beban berat bagi guru, atau bagi sebagian guru! Semoga sertifikasi yang diberlakukan atas guru tidak sekadar menambah &lt;i&gt;income&lt;/i&gt;, tetapi juga menambah kemampuan improvisasinya dalam mengajar. Ini sangat berbeda dengan pola belajar mengajar di perguruan tinggi yang memang diharuskan mandiri, mencari dan mengeksplorasi materi perkuliahan sebanyak mungkin dari berbagai sumber dengan belajar sendiri. Di perguruan tinggi, mahasiswa boleh jadi jauh lebih paham atas suatu topik perkuliahan, atau paling tidak, dia lebih dulu tahu dari internet misalnya, ketimbang dosennya. Ini sangat boleh jadi terjadi. Itu sebabnya, pengajaran di perguruan tinggi bersifat sinergis dan saling berbagi/ &lt;i&gt;sharing&lt;i/&gt; dalam keilmuan. Dosen bukanlah insan yang paling tahu dan tidak selalu betul, sebaliknya mahasiswa sangat mungkin menjadi sumber ilmu (baru) bagi dosen. Mahasiswa dan dosen... saling membutuhkan, sama-sama beribadah dalam proses belajar-mengajar.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-1964252666457145430?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/1964252666457145430/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=1964252666457145430&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/1964252666457145430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/1964252666457145430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2009/10/surabi.html' title='SURABI'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-3274227486617956454</id><published>2009-10-29T06:31:00.002+07:00</published><updated>2010-10-24T08:44:56.090+07:00</updated><title type='text'>MIYABI</title><content type='html'>Jakarta berduka, kata sebagian orang, lantaran &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Miyabi &lt;/span&gt;batal datang. Selama 3,5 pekan Miyabi diobrolkan oleh banyak orang Indonesia, bahkan oleh murid SD. Ponsel mereka pun berisi foto-fotonya. Malah ada murid SMP yang sedang UTS, &lt;i&gt;nguping&lt;/i&gt; obrolan mereka, sambil lihat-lihat foto Miyabi. Hatinya mungkin berkata, “&lt;i&gt;geulis pisan&lt;/i&gt;.” Di sebuah milis ada yang berkomentar begini: “Emang sih cantik, cantik luarnya..., tapi dalemannya ...?” Orang Jepang yang berperilaku seperti Miyabi tentu tidak sedikit. Begitu juga, orang Jepang yang “lurus-lurus” saja juga banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia sinema, karakter &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oshin &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;adalah representasi orang Jepang yang lurus dan pekerja keras, mengabdi kepada keluarga. Sebaliknya, karakter &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sayuri &lt;/span&gt;dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Memoirs of a Geisha &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;dapat dikatakan mewakili perempuan di simpang jalan. Ia kembang kemilau yang melayani kumbang siang malam demi predikat sebagai... “pelacur atau istri simpanan yang bonafid”. Karakter tersebut bertolak belakang dengan para samurai, seperti dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;The Last Samurai &lt;/span&gt;yang kental heroismenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana yang lebih nyaman, menonton Memoirs of a Geisha ataukah Oshin, ataukah The Last Samurai, sambil ditimpali &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kokoro No Tomo&lt;/span&gt;-nya Mayumi, bukan Miyami.., bukan Mi Yamin, apalagi Miyabi? Kata iklan di TV, “cobalahh...” (Ini rahasia: katanya, nonton &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gita Cinta Dari SMA&lt;/span&gt;, Galih – Ratna..., pas banget sambil dengerin Kokoro No Tomo. Ini katanya sih...)*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-3274227486617956454?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/3274227486617956454/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=3274227486617956454&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/3274227486617956454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/3274227486617956454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2009/10/miyabi.html' title='MIYABI'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-3656636661453369950</id><published>2009-10-19T21:36:00.000+07:00</published><updated>2011-11-14T03:48:07.627+07:00</updated><title type='text'>Ternak Nyamuk</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ternak Nyamuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beternak ayam, sudah umum. Beternak buaya, juga biasa. Ternak burung, apalagi! Ternak nyamuk? Ini yang luar biasa. Tak biasa, gitu lho! “Emangnya kalo dijual bisa laku berapa Pak?” selidik Si Bungsu gak percaya. Walaa…h anakku, kecil-kecil sudah berpikir bisnis. Apa semua ternak harus dijual gitu, kan boleh saja dibuang. Iya… kan?! Dibuang justru bersahabat dengan lingkungan, bisa jadi pupuk. Istilahnya: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;microfertilizer&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi pada musim hujan ini (bukan PENG-hujan lho, hapus awalan PENG-nya). Jentik nyamuk Aedes aegypti berkembang bak jamur di musim hujan, subur banget. Wabah demam berdarah bisa meletus di mana-mana. Berabe kan kalo daerah kita dinyatakan KLB(Kejadian Luar Biasa, istilah halus untuk wabah; biasalah…, bangsa kita senang eufemisme) oleh Dinas Kesehatan setempat. Lantas petugas dinas diminta “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;fogging&lt;/span&gt;”. Ini sudah telat. Pengasapan cuma mengusir nyamuk, gak bakal mampu membunuhnya. Cuma kabur, ntar balik lagi kalo asapnya habis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Truzz…, gimana caranya? Ya itu tadi, sesuai dengan judul di atas: ternak nyamuk atau jentik. Taruhlah kaleng, ember, atau vas yang diisi air di tempat lembab, agak gelap. Biarkan sepekan-dua pekan, kemudian… sim salabim, bukan sulap bukan sihir… muncul jentik-jentik nyamuk Aedes itu. Tapi jangan dibiarkan sampai menjadi nyamuk. Buang langsung di tanah atau di pot bunga agar bisa menjadi pupuk. Lumayan buat sumber nutrien: nitrogen dan fosfor. Makin banyak wadah airnya, makin besar juga panen pupuknya. Lalu isi ulang wadahnya dengan air dan taruh lagi di tempat semula atau tempat lain yang diperkirakan disukai nyamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau semua rumah mencoba cara demikian, tak mustahil daerahnya bebas demam berdarah sekaligus pot-pot bunganya subur terus. Tapi ingat, jangan sampai lupa lokasi “kolam” buat Si Jentik Lurik Cantik yang parasit itu. Kalau lupa…, ya sama saja dengan beternak nyamuk untuk memperbanyak orang kena demam berdarah. Kalau ini terjadi, maaf saja…, saya tak hendak bertanggung jawab. Hehe hm. :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-3656636661453369950?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/3656636661453369950/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=3656636661453369950&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/3656636661453369950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/3656636661453369950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2009/06/ternak-nyamuk.html' title='Ternak Nyamuk'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-3668052415167916560</id><published>2008-09-10T19:46:00.000+07:00</published><updated>2011-11-18T19:49:06.768+07:00</updated><title type='text'>Ternak Bakteri</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ternak Bakteri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Gede H. Cahyana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peternakan sapi perah, sudah lumrah. Begitu juga lele, domba, dan ular. Bagaimana dengan peternakan bakteri? Mengerikankah? Jahatkah makhluk satu sel ini? Manusia terdiri atas banyak sel. Bakteri hanya satu sel. Logikanya, yang menang adalah yang bersel banyak. Tapi kenapa manusia dikalahkan oleh bakteri? Diare, disentri, tifus, kolera, dan lain-lain adalah hasil kerja si mikroba ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya banyak sisi baik Si Jasad Renik ini. Sampah bisa diolah menjadi kompos karena bakteri. Air limbah tak lagi mencemari sungai juga lantaran dia. Kuburan (makam, bukan maqam) bisa “diisi ulang” juga karena bakteri. Perut kita “setimbang” kondisinya tak lain akibat kerja bakteri yang harmoni bergotong-royong. Tangki septik pun “dihidup-hidupkan” oleh bakteri. Dijester pengolah limbah ternak sapi penghasil biogas untuk memasak di dapur tak lepas dari bakteri. Banyak lagi yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain banyak, ia juga bertebaran di mana-mana. Kosmopolitan. Perannya luas dan besar padahal dari komposisi fraksi organiknya, rumus empirisnya, ia sederhana: C5H7O2N. Dari formula ini, 53% berat fraksi organiknya adalah karbon. Kecuali itu masih ada rumus lain yang berisi fosfor: C60H87O23N12P. Boleh jadi masih ada formula lain lagi bergantung pada asumsi unsur yang ada di dalam selnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, timbul pertanyaan: samakah manusia dengan bakteri, makhluk satu sel itu? Faktanya, manusia pun sel tunggal (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;single cell&lt;/span&gt;) ketika sperma dan sel telur (ovum) menyemai menjadi zigot (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;zygote&lt;/span&gt;) di dalam rahim ibu. Nah, gimana dong?! Layakkah manusia bersombong ria terhadap makhluk lainnya, padahal terhadap bakteri saja ia tak kuasa, ia bertekuk lutut, bahkan terkapar? Sebab…, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;di atas langit, masih ada langit&lt;/span&gt;! *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-3668052415167916560?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/3668052415167916560/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=3668052415167916560&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/3668052415167916560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/3668052415167916560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2008/09/ternak-bakteri.html' title='Ternak Bakteri'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-7073596502187247544</id><published>2007-10-17T18:18:00.000+07:00</published><updated>2007-10-17T18:39:36.392+07:00</updated><title type='text'>Bunda Theresa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Tanggal ini, yaitu 17 Oktober, tepatnya 28 tahun yang lalu (tahun 1979), Bunda Theresa memperoleh hadiah Nobel Perdamaian. Saya punya kalimat mutiaranya yang saya kutip dari Spiritual Capital-nya Danah Zohar dan Ian Marshall. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dalam amatan saya, rangkaian kalimat ini mengena bagi siapa saja, tak peduli agama anutannya, apakah agama langit ataukah agama budaya. Begini isinya:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Orang kerapkali tak bernalar, tak logis, dan egosentris. Tapi biarlah begitu, maafkanlah mereka.&lt;br /&gt;Kalau engkau baik, orang mungkin akan menuduhmu menyembunyikan motif egoismu. Tapi biarlah begitu, tetaplah bersikap baik.&lt;br /&gt;Kalau engkau mendapat sukses, engkau bakal pula mendapat taman-teman palsu dan musuh sejati. Tapi biarlah begitu, tetaplah meraih sukses.&lt;br /&gt;Kalau engkau jujur dan berterus terang, orang mungkin akan menipumu. Tapi biarkan sajalah, tetaplah jujur dan berterus terang.&lt;br /&gt;Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun, mungkin akan dihancurkan orang dalam semalam. Biarlah begitu, tetaplah membangun.&lt;br /&gt;Kalau engkau menemukan ketenangan dan kebahagiaan, orang mungkin akan iri. Biarlah begitu, tetaplah berbahagia.&lt;br /&gt;Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, sering bakal dilupakan orang esok harinya. Biarlah begitu, tetaplah lakukan kebaikan.&lt;br /&gt;Berikan milikmu yang terbaik kepada dunia dan mungkin itu takkan pernah cukup. Biarlah begitu, tetaplah berikan kepada dunia milikmu yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Ketahuilah, pada akhirnya, sesungguhnya ini semua adalah masalah antara engkau dan Tuhan; tak pernah antara engkau dan mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah tulisan yang diperoleh Danah Zohar dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Newsletter &lt;/span&gt;pendidikan di negara Nepal, di atas Himalaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian dan salam.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-7073596502187247544?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/7073596502187247544/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=7073596502187247544&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/7073596502187247544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/7073596502187247544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2007/10/bunda-theresa.html' title='Bunda Theresa'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-6187667384176581716</id><published>2007-10-11T16:02:00.002+07:00</published><updated>2009-08-27T10:38:34.714+07:00</updated><title type='text'>Stress...., Puasa dan Apa Kabar Idulfitri?</title><content type='html'>Di bidang psikosainstek, Stewart Wolf dan John G. Bruhn menjadi orang pertama yang mendalami kajian tersebut di Roseto, Amerika Serikat. Dalam laporan risetnya, Bruhn menyatakan, “…&lt;span style="font-style:italic;"&gt; family and community support is disappearing. Most of the men who have hearth attacks here were living under stress and really had nowhere to relieve that pressure …. These people have given up something and it’s killing them&lt;/span&gt;.” Sebelum itu, yaitu tahun 1961, Bruhn justru memperoleh hasil yang oposif dan menyatakan bahwa masyarakat Roseto terbaik dalam kehidupan sosialnya sehingga disebut kota ajaib (miracle city).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa disangkal, kemajuan sainstek mengantar manusia ke puncak pencapaiannya sekaligus meminggirkannya ke bibir jurang ketegangan dengan ujung psikosomatis. Puasa Ramadhan ditawarkan oleh Al Khalik untuk menetralkan dampak buruk sainstek lewat al Baqarah 183, agar manusia menjadi orang yang memasrahkan hidupnya kepada Allah dan hidup sehat. Menurut organisasi kesehatan dunia, WHO (World Health Organization), sehat adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;state of complete physical, mental, and social well-being, not merely the absence of disease or infirmity. &lt;/span&gt;Sehat ialah keadaan sejahtera jasmani, rohani, dan sosial, tak hanya tanpa adanya penyakit atau kelemahan saja. Agar bisa disebut orang sehat harus dipenuhi tiga syarat: jasmani, rohani, dan sosial. Aspek kesehatan sosial ini nyaris diabaikan oleh masyarakat tetapi justru menjadi sebab utama sakit jasmani dan rohani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sejumlah sebab yang menimbulkan ketegangan (stress) dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, lima di antaranya, menurut Achmad Mubarok (Jiwa Dalam Al Qur’an) sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cemas&lt;/span&gt;. Rasa ini muncul karena kehilangan makna hidup. Secara fitri manusia punya kebutuhan akan makna hidup yang hanya bisa dimiliki oleh pejuang yang menyumbangkan sesuatu untuk orang lain. Orang-orang cemas biasanya mengikuti trend dan tuntutan sosial yang belum tentu benar. Sesekali saja dia merasakan kenikmatan sekejap yang palsu. Akibatnya terjadilah gangguan jiwa. Puasa Ramadhan diharapkan menjadi kawah Candradimuka bagi insan-insan cemas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sepi&lt;/span&gt;. Ini muncul karena hubungan silaturahmi sudah tidak tulus lagi tetapi memakai topeng-topeng sosial yang palsu sehingga hubungan menjadi gersang, mengidap rasa sepi yang kronis padahal berada di keramaian. Tak bisa menikmati senyum orang lain sebab dianggap topeng belaka seperti ketika dia tersenyum kepada orang lain. Pujian dipandangnya sebagai basa-basi belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bosan&lt;/span&gt;. Inilah akibat rasa cemas dan sepi yang berkepanjangan. Hidupnya tak bergairah. Jiwanya kosong, mirip orang yang bermobil mewah tetapi jiwanya becak; berponsel tapi memakai bahasa isyarat tangan. Makan makanan merek luar negeri tetapi wawasan gizinya masih oncom (tak berarti oncom tak bergizi lho, ini sekadar misal). Harta, tahta, dan jabatannya tinggi tetapi jiwanya hampa. Semua atribut, simbol, gelar, baju, sepatu, dasi, ponsel, mobil, cincin, arloji, rumah, dan banyak lagi yang lain tampak modern namun pikirannya tidak menguasai ilmu-teknologi. Di pentas nikmat sekejap, sampai di rumah dia cemas dan sepi kembali. Lantaran bosan inilah dia masuk ke lingkaran narkoba, bunuh diri, racun diri atau gantung diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perilaku menyimpang&lt;/span&gt;. Kalau rasa cemas, sepi dan bosannya terus menggayut, maka dia mudah melakukan perilaku buruk tanpa sadar seperti merampok padahal dia tak butuh uang, memperkosa tanpa tahu siapa yang diperkosa, membunuh tanpa ada sebab kenapa harus membunuh sehingga hidupnya menjadi semrawut. Bisa juga ia memamerkan foto-foto seronoknya atau bahkan video pornonya ke khalayak, misalnya lewat internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Psikosomatik&lt;/span&gt;. Empat hal di atas jika terus terjadi dapat menyebabkan sakit fisik, sakit lantaran faktor jiwa dan sosial. Menjadi psikosomatik yang dalam bahasa Arab disebut nafs jasadiyah atau nafs biolojiyah. Yang sakit jiwanya, tapi dalam ujud sakit fisik. Makanya, dia selalu mengeluh jantungnya berdeba-debar tanpa sebab, merasa lemah, tak enak badan atau tidak bisa konsentrasi dan sakit maag (tukak lambung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hikmah Ramadhan, jiwa-jiwa kotor itu masih bisa disucikan dengan riyadhah al nafs atau tazkiyah al nafs seperti infak (zakat, zakat fitrah), shalat, kesucian seksual rumah tangga, dan bergaul yang santun secara lisan dan perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Selamat saum Ramadhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/102007/11/0901.htm"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Oleh Bambang Q. Aness&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;SEPULUH hari terakhir seharusnya adalah saat             menemukan pengalaman rohani (lailatulqadar) yang digambarkan penuh berkah "seribu             bulan", situasi yang dipenuhi pasukan malaikat yang datang membawa kedamaian bagi             manusia takwa. Namun, seperti lazimnya tahun-tahun lalu, malam akhir Ramadan adalah             malam-malam sepi, jemaah masjid semakin "maju" (tinggal saf terdepan).             Simpulnya, saya lebih sibuk memikirkan mudik dan baju baru daripada lailatulqadar.             Astagfirullah....&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Sepuluh hari terakhir Ramadan memang benar-benar terasa berat. Terutama membayangkan             macetnya jalanan mudik dan harga-harga yang melambung tinggi. Kerap muncul pikiran seperti             ini, "Andai saja, Idulfitri tak harus mudik dan tanpa ada perayaan tentulah             situasinya tidak akan seperti ini." Serentak muncullah kekesalan terhadap Idulfitri,             lalu di mana semua sukacita penyambutan Ramadan yang pernah saya lakukan? Kalau dulu saya             pernah menyambutnya dengan sukacita, seharusnya sekarang adalah saat berdukacita karena             berpisah dengan Ramadan? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Imsak dan madrasah takwa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Ramadan atau imsak adalah saat "pengendalian hawa nafsu". Ramadan adalah             madrasah takwa, suatu sekolah yang mengajari pengendalian diri. Namun -- kalau kita hendak             jujur -- kita telah mengubah Ramadan menjadi bulan penuh kemanjaan. Bulan yang menyulap             kita menjadi merasa berhak dimaklumi oleh banyak pihak lain, bulan yang membuat kita             menoleransi diri dalam kemalasan. Padahal, "menjadi takwa" adalah menjadi subjek             yang proaktif memberikan pembebasan, kebahagiaan, dan sukacita pada banyak pihak. Lalu,             kualitas takwa seperti apakah yang akan kita raih bila selama berpuasa kita justru melatih             kemanjaan, bukan melatih menjadi subjek &lt;i&gt;anfa'uhum linnas&lt;/i&gt; (yang memberi manfaat bagi             pihak lain).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Ya, Ramadan diam-diam telah diubah oleh kita sebagai bulan penuh dengan hawa nafsu.             Terutama pada hari-hari akhir ini. Lihatlah, betapa panjang antrean orang yang telah             berlelah payah menahan makan dan minum lalu merasa berhak mendapatkan baju baru. Semua             toko memproduksi "mesih hasrat", mesin yang membuat hasrat kita untuk memiliki             semakin meluap-luap, melalui iklan atau tulisan obral. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Akan tetapi, betapa bebalnya saya. Di tengah kemanjaan itu, saya masih juga merasa             berhak mendapat rahmah, magfirah, dan keterbebasan dari siksa panas neraka. Padahal,             seorang sufi pernah bilang satu rumus rohani, "Allah akan memberikan apa yang kamu             berikan pada pihak lain." Rumus rohani ini adalah rumus kerahiman air, yang rela             turun ke dalam tanah dan tampak dari sisi luar demi menghidupi tanaman. Dalam konteks             Ramadan, Allah akan memberikan rahmah, bila kita menyebarkan rahmah pada pihak lain, Allah             akan memberikan magfirah-Nya bila kita aktif memaafkan dan memohon maaf pada semua pihak             dan Allah akan memberikan pembebasan siksa neraka, bila kita membebaskan sanak saudara             fakir miskin kita dari kesengsaraan duniawi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Pada akhir Ramadan, pada saat semuanya akan dipungkas oleh Idulfitri, saya merasakan             kepedihan yang luar biasa. Saya telah melepas kesempatan belajar takwa dari Ramadan,             padahal tak ada yang bisa memastikan bisa bertemu kembali dengan Ramadan. &lt;i&gt;Duh, Rabb&lt;/i&gt;,             kenapa Ramadan ini tidak juga mengubah hati yang dapat mendorong pada ketakwaan, pada             pembebasan fakir miskin? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Baju baru, mudik baru&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Keinginan mendapat lailatulqadar membuat kita pantas berduka, apalagi setelah menyadari             betapa Ramadan tak juga mengubah ulat diri ini menjadi kupu-kupu takwa. Dan hasrat bertemu             lailatulqadar ternyata bertabrakan juga dengan hasrat mudik. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Mudik tak sekadar berlebaran di kampung halaman, demikian ungkap banyak ahli, mudik             adalah peristiwa budaya yang sarat spiritualitas. Ya, semuanya itu benar. Akan tetapi yang             lebih pasti, mudik juga memberikan ketegangan yang menyita waktu. Ditambah mudik,             Idulfitri tak lagi peristiwa penuh kemenangan; Idulfitri tak sekadar bersalaman dengan             penuh permohonan maaf. Idulfitri telah menjelma menjadi sejumlah biaya untuk transportasi             dan membeli baju baru sebagai bekal kontes di hadapan sanak saudara. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Idulfitri adalah juga baju Baru. Selain ketupat, memberikan zakat fitrah pada fakir             miskin (apa pun agamanya). Tindak saling memaafkan, &lt;i&gt;angpaw&lt;/i&gt;, baju baru adalah             penanda utama keriangan di Idulfitri. Tanpa baju baru, Idulfitri pun tak absah. Maka,             kenangkanlah keringat kita yang menetes beberapa pada hari yang lalu di pasar atau di mal             (yang dengan murah hati memberi diskon besar) untuk mendapat baju baru.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Dari mana datangnya tradisi baju baru? Memang begitulah sunnahnya, kita harus             mengenakan baju bagus pada saat hari kemenangan, Idulfitri. Hanya, yang disunnahkan             bukanlah baju baru, melainkan di beberapa pedesaan, anak-anak SD mengenakan baju bukan             baju baru. Kalau bukan dari sunnah, berarti ada sumber lain? Ya, sumbernya adalah dari             tradisi orang tua yang sedang mendidik anaknya, "Nak, kalau kau khatam puasa akan             Bapak berikan baju baru yang kamu suka!" Lalu sang anak berpuasa dengan tangguh             sambil membayangkan baju baru menempel di badannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Kemungkinan kedua adalah dari tradisi masyarakat miskin. Yaitu mereka yang hanya             memiliki satu dua pasang baju yang dikenakan dalam segala momen, tidur memakai baju itu,             bermain mengenakan baju yang sama, bersekolah pun masih baju yang itu-itu juga. Tentu             saja, baju yang itu-itu saja itu sudah tak jelas apa warna dan baunya, maka pada setiap             tahunnya para orang tua membelikan baju baru buat anaknya yang diberikan sekaligus sebagai             hadiah kemenangan Idulfitri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Maka saksikanlah, di beberapa daerah miskin, anak-anak seumuran SD berlebaran dengan             mengenakan seragam merah putih, lengkap dengan topinya atau mengenakan baju Pramuka,             lengkap dengan kacu, peluit, dan baret cokelat -- tentu saja minus tongkat Pramuka.             Anak-anak itu begitu bangga mengenakan baju sekolah, di mata mereka ada bayangan keindahan             bersekolah dengan baju yang tak sobek-sobek lagi. Di pinggir mereka, orang tua miskin             meringis karena miris hanya bisa memberikan baju lebaran yang &lt;i&gt;all in one.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Mari kita bandingkan dengan diri kita yang memiliki baju berlemari-lemari, itu pun             masih juga merasa perlu menambahi baju baru pada Lebaran ini. Atas fenomena ini, kita             dapat merenung kembali ihwal puasa kita. Puasa Ramadan adalah madrasah takwa, yang             mengajari kita bersolidaritas pada orang lain -- yang kekurangan -- dan membebaskan             mereka. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Salah satu stimulus dari Tuhan adalah sejumlah pahala dan ibadah tambahan. Misalnya             memberi makan berbuka bagi fakir miskin akan mendapat pahala satu orang berpuasa atau             berpahala 20 tahun iktikaf. Belum lagi ibadah zakat fitrah yang berfungsi sebagai             penyempurna bagi puasa sebulan penuh. Semuanya berfungsi untuk memancing solidaritas             abadi, seumur hidup. Jadi zakat fitrah itu, kira-kira, bisa disamakan dengan peletakan             batu pertama dari bangunan &lt;i&gt;ukhuwah islamiyah.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Bila kita masih saja memikirkan diri sendiri, jangan-jangan kita tidak lulus dari             madrasah takwa bulan Ramadan? Bila kita masih marah karena lupa membeli baju baru,             jangan-jangan tadarus kita tak sampai pada Q.S. Al-A'raf ayat 26 tentang baju takwa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Baju takwa" (&lt;i&gt;libasut taqwa&lt;/i&gt;) ini, menurut Quraish Shihab dalam &lt;i&gt;Tafsir             al-Mishbah&lt;/i&gt;, adalah perangai yang baik, dengan "Makrifat akan menjadi modal             utamanya, pengendalian diri sebagai ciri aktivitasnya, kasih asas pergaulannya, kerinduan             kepada Ilahi tunggangannya, zikir pelipur hatinya, keprihatinan adalah temannya, ilmu             senjatanya, sabar busananya, kesadaran akan kelemahan di hadapan Allah kebanggaannya,             zuhud (tidak terpukau oleh kemegahan duniawi) sebagai perisainya, kepercayaan diri menjadi             harta simpanannya dan kekuatannya, kebenaran sebagai andalannya...." Dan pakaian             takwa itulah yang lebih baik (QS 7:26). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Meraih keikhlasan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Semua keluhan ini adalah bukti betapa saya tak bisa ikhlas menerima perintah Ramadan.             Kalaulah saya ikhlas, pastilah tak ada alasan untuk memanjakan diri; kalau ada keikhlasan             di hati ini, tak ada ruang bagi keluhan menyediakan biaya mudik atau baju baru. Keikhlasan             itu, konon, seperti air suci yang meluap-luap yang menyingkirkan seluruh luka hati (rasa             kesal atau dendam, rasa tidak puas atau ingin dipuji). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Amal yang dilakukan dengan ikhlas -- menurut para sufi -- akan memiliki kekuatan untuk             terbang ke langit menghadap hairat Allah untuk Dia nilai. Sebaliknya, amal yang tidak             ikhlas, akan tetap tinggal di bumi (hanya dinilai atau dihargai manusia). Lalu amal yang             ikhlas itu akan dapat menurunkan balasan (&lt;i&gt;jaza&lt;/i&gt;') dari Allah. Mumpung ada satu dua             hari lagi, saya mau belajar ikhlas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Sebelum Ramadan berakhir, selagi masih ada sisa satu dua hari, mudah-mudahan kita dapat             melengkapi diri dengan keikhlasan. Mudah-mudahan masih tersedia lailatulqadar yang membuat             kita mendapat predikat &lt;i&gt;Aidin&lt;/i&gt; (orang yang kembali pada fitrahnya) dan &lt;i&gt;Faizin&lt;/i&gt;             (pemenang yang telah mengendalikan hawa nafsunya menjadi takwa). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Selamat Idulfitri, selamat menuai takwa! &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-6187667384176581716?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/6187667384176581716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=6187667384176581716&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/6187667384176581716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/6187667384176581716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2007/10/apa-kabar-idulfitri.html' title='Stress...., Puasa dan Apa Kabar Idulfitri?'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-3232459222702884233</id><published>2007-10-11T16:00:00.000+07:00</published><updated>2007-10-11T16:01:36.995+07:00</updated><title type='text'>Idul Fitri dan Refleksi Peradaban</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/11/opini/3912958.htm"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Oleh &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/11/opini/3912958.htm"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong&gt;M Hilaly Basya&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Idul Fitri datang lagi. Inilah hari kemenangan setelah sebulan menjalankan ibadah puasa. Selama ini, Idul Fitri dinilai sebagai hari terlahirnya kembali setiap manusia dalam keadaan suci. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Kepercayaan itu terkait ajaran bulan puasa terdiri tiga fase, rahmah (kasih sayang), maghfirah (ampunan), dan itqu min an-nar (diselamatkan dari api neraka). Puncak pencapaian puasa adalah sucinya manusia. Karena itu, bulan Ramadhan disebut bulan pencucian atau pembakaran. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Arif kepada alam&lt;/strong&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Keyakinan itu tidak salah, tetapi tema Idul Fitri sebenarnya lebih menggambarkan kerinduan setiap manusia terhadap kebenaran (sesuatu yang bernilai fitriyah). Seperti diungkapkan hadis Rasul SAW, tiap manusia terlahir dalam keadaan fitrah. Fitri dan fitrah berasal dari akar kata yang sama, keduanya menunjukkan kecenderungan alamiah manusia atas kebenaran. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Karena itu, momen Idul Fitri mencakup refleksi yang luas dalam kehidupan manusia. Terkait dengan itu, kearifan terhadap alam, misalnya, merupakan salah satu hal penting yang bisa ditumbuhkan dalam kesadaran berhari raya. Bukankah fungsi keberadaan manusia di alam ini merupakan khalifah (pengatur, pemelihara, pelindung) bagi alam? Artinya eksistensi manusia di Bumi tidak bisa dilepas dari tugas besar yang pernah dititahkan Tuhan kepada Adam, yakni menjadi khalifah fi al-ardh. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Beberapa tahun terakhir ini masyarakat dunia dihadapkan pada ancaman pemanasan global. Bencana alam melanda beberapa negara dan dampaknya amat terasa. Karena itu, peradaban manusia kini sedang mengalami krisis ekologi akibat pembangunan yang tidak disertai kearifan. Kondisi ini menggambarkan, kemajuan ilmu pengetahuan yang diboncengi ketamakan manusia perlahan-lahan menghancurkan peradaban manusia sendiri. Jika masyarakat tidak segera membenahi cara pandangnya terhadap alam dalam proses pembangunan, bisa dipastikan kerusakan ekologi akan kian parah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Dalam buku A Study of History (1972), Arnold Toynbee menyatakan, pola perkembangan peradaban adalah interaksi antara "tantangan dan tanggapan". Dengan demikian, peradaban masyarakat modern saat ini hanya bisa diselamatkan jika kita berupaya keras untuk mengevaluasi dan melakukan kritik serius atas fondasi peradaban kita. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Bumi, ibu kehidupan&lt;/strong&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Bumi sebenarnya adalah ibu, sedangkan langit adalah ayah. Tesis ini dikemukakan Ibnu Arabi, filosof Muslim yang hidup beberapa ratus tahun lalu. Dalam bukunya, Arabi menjelaskan, Bumi merupakan tempat produktivitas kehidupan terjadi (1996). Dengan sabar dan telaten Bumi bukan hanya melahirkan kehidupan, tetapi juga memelihara dan mengayomi dengan kesabaran. Karena itu, manusia berutang besar kepada Bumi. Alam yang kini dinikmati manusia merupakan "anak kandung" Bumi. Bahkan kehidupan manusia sendiri sebenarnya berada dalam "pelukan" Bumi. Jadi, Bumi adalah "Ibu kehidupan". &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Dalam sejarah kehidupan manusia, kearifan terhadap alam terpancar dari pandangan bahwa Bumi adalah sesuatu yang bernilai suci. Karena itu, masyarakat amat menghormati dan menjaga kelestarian alam. Perusakan alam dipercaya berdampak negatif bagi masyarakat itu sendiri. Sebaliknya, pemeliharaan alam diyakini sebagai pengabdian kepada Yang Suci. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Pandangan seperti ini adalah sebuah kecenderungan fitriah yang seharusnya dimunculkan dan digali dari perayaan Idul Fitri. Sejatinya, manusia menumbuhkan kembali kearifan-kearifan primordial terkait kehidupannya di dunia dan relasinya dengan alam. Arogansi masyarakat modern dalam memandang alam dapat berakibat buruk bagi kehidupan. Ketamakan mengeksploitasi alam, mencerminkan hilangnya penghormatan dan rasa kasih kepada "ibu kehidupan". &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Krisis ekologi belakangan ini seharusnya kian menyadarkan manusia bahwa mereka telah tersesat dari fitrahnya. Perilaku tamak dan eksploitatif atas alam harus segera dihentikan. Semoga kita semua termasuk orang yang kembali kepada fitrah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-3232459222702884233?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/3232459222702884233/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=3232459222702884233&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/3232459222702884233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/3232459222702884233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2007/10/idul-fitri-dan-refleksi-peradaban.html' title='Idul Fitri dan Refleksi Peradaban'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-4563318639427109535</id><published>2007-10-11T15:56:00.000+07:00</published><updated>2007-10-11T15:59:40.959+07:00</updated><title type='text'>Menyambut Fajar Kemenangan</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/102007/11/99qalbu.htm"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Oleh K. H. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;br /&gt;MAHASUCI Allah Yang Mahaagung. Alhamdulillah, dengan rahmat dan karunia-Nya             sampailah kita di saat-saat terakhir bulan Ramadan tahun ini. Sesungguhnya dengan             berakhirnya bulan Ramadan yang mulia ini, kita harus merasa sangat sedih karena siapa tahu             kita tidak akan berjumpa lagi dengan Ramadan yang akan datang. Padahal, peluang kita untuk             bisa mulia dengan menggunakan sarana bulan ini sungguh luar biasa besarnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Kita tidak pernah tahu, apakah di tahun depan kita masih bisa bertemu lagi dengan             Ramadan atau tidak. Bukankah tidak sedikit saudara, sahabat, maupun kaum kerabat yang             tahun lalu masih berjemaah salat Tarawih dengan kita, namun kini sudah tiada. Tidak             sedikit handai tolan juga teman sepermainan yang tahun lalu masih khusyuk bertadarus             bersama, mengumandangkan takbir bersama, atau salat Id berjemaah, kini telah dipanggil             pulang oleh pemiliknya. Allah, Dzat Yang Maha Menguasai setiap gerak-gerik kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Oleh karena itu, di pengujung bulan Ramadan ini sudah saatnya kita membulatkan tekad             untuk senantiasa menata hidup kita di bulan-bulan berikutnya selepas Ramadan dengan amalan             yang lebih baik. Kita memohon kepada Allah agar setelah menjalani ibadah Ramadan ini kita             kembali kepada fitrah (kesucian) sebagaimana sucinya bayi yang baru dilahirkan. Dan semoga             kita pun tetap istikamah dalam menapaki jalan-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Sepatutnya, perjalanan ibadah di bulan Ramadan ini membuat kita sadar bahwa kehidupan             di dunia hanyalah sekadar mampir. Dunia bukanlah tujuan kita. Sekaya apa pun rezeki yang             kita makan akan menjadi kotoran, apa yang kita pakai akan menjadi usang, dan selebihnya             adalah harta yang kita "akui" sebagai milik kita. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Orang yang betul-betul menikmati Ramadan melihat dunia ini menjadi kecil. Kita berkarya             sekuat-kuatnya, kita melakukan yang terbaik di dunia ini, tetapi bukan untuk tujuan kita,             ini adalah ladang amal kita. Dengan Ramadan, hati semestinya menjadi semakin akrab dengan             Allah. Kalau hati kita makin akrab dengan Allah, makin ikhlas, hidup kita pun akan menjadi             tenteram. Sesungguhnya dengan zikir kepada Allah akan menenteramkan hati kita. Kita akan             menjadi orang yang sabar, tidak gentar, karena kita yakin bahwa semua masalah yang menimpa             kita telah diukur oleh Allah. Dengan demikian kita akan menjadi pribadi ikhlas, tidak             perlu kita mencari pujian manusia karena yang membagikan rezeki adalah Allah. Yang             mengangkat derajat kita adalah Allah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Pada akhir Ramadan, sebaik-baik malam adalah malam yang kita gunakan untuk bersyukur             kepada Allah agar diberi kemampuan untuk berjumpa dengan Ramadan yang akan datang. Mari             kita buka lembaran baru di bulan Syawal yang akan kita jelang. Kita buka dengan             lembaran-lembaran putih, suci, dan bersih. Lembaran-lembaran hidup yang siap diisi dengan             amaliah ibadah demi meraih rida-Nya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Kita tutup Ramadan ini dengan memenuhi kewajiban kita untuk menyantuni fakir miskin.             Tunaikanlah zakat dengan ikhlas, jangan berharap apa pun kecuali rida Allah. Sedekah sudah             kita kumpulkan jauh sebelumnya, jangan sampai dikirim sesudah Lebaran. Nantinya mereka             yang dikirimi tidak sempat menikmatinya. Kalau dibagi-bagikan saat Lebaran, yang             ditakutkan akan menjadi pengaruh negatif, menjadi &lt;i&gt;riya&lt;/i&gt; misalnya. Lebih baik,             bungkus dengan rapi, dan kirimkan jauh sebelum Lebaran. Sehingga pada waktu Lebaran nanti             mereka bisa berpakaian dengan baik. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Penuhi malam kemenangan ini dengan untaian gema takbir. Biarkan lisan kita basah             menyebut-nyebut kebesaran-Nya, biarkan qalbu kita merasakan dahsyatnya keagungan Allah.             Jangan kotori dengan hal-hal yang dapat merusak, atau pikiran yang bisa menimbulkan             kemudaratan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Usai salat Idulfitri nanti, bersegeralah menemui kedua orang tua kita. Bersimpuhlah             kita, memohon maaf dan keridaan dari ibu dan ayah kita. Coba hitung! Betapa selama ini             kita telah menyusahkan mereka, menyakiti mereka. Alangkah durhaka dan betapa tidak             bersyukurnya kita jika sampai menyia-nyiakan mereka. Mohonlah rida pada orang tua karena             rida Allah terletak pada rida kedua orang tua. Dan bila kedua orang tua kita telah tiada,             doakan mereka. Mohonkan ampunan kepada Allah, semoga Allah memberi mereka nikmat kubur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Jika kita merasa pernah menzalimi seseorang, sengaja ataupun tidak, temui orang itu dan             mohon keikhlasannya untuk memaafkan kesalahan kita. Tekadkan pada diri kita untuk tidak             akan lagi berbuat zalim, sekecil apa pun dan kepada siapa pun. Jangan sia-siakan upaya             kita untuk menyucikan diri dengan mengotorinya lagi dengan dosa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Semoga, kita keluar dari kepompong Ramadan ini sebagaimana layaknya ulat yang baru             berubah menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah. Semoga kita telah bermetamorfosis dari             lumuran dosa menjadi pribadi yang fitri (suci) kembali. Semoga Allah menyingkapkan tabir             di hati kita sehingga kegelapan di hati ini terganti dengan kebeningan qalbu yang             bercahaya. Dan hari-hari kita yang tersisa menjadi hari-hari yang semakin akrab dengan             kehangatan kasih-Nya sehingga kita dapat merasakan indahnya hidup dekat dengan Allah.             Selamat menyongsong fajar 1 Syawal, semoga kita benar-benar dapat meraih derajat takwa. &lt;i&gt;Taqobalallaahu             minna wa minkum, shiyaamana wa shiyaamakum. Wallahu a'lam&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-4563318639427109535?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/4563318639427109535/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=4563318639427109535&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/4563318639427109535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/4563318639427109535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2007/10/menyambut-fajar-kemenangan.html' title='Menyambut Fajar Kemenangan'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-3387316275835491080</id><published>2007-10-11T10:50:00.000+07:00</published><updated>2007-10-11T10:56:54.449+07:00</updated><title type='text'>Ramadhan Itu Pergi...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;Tak terasa, dalam hitungan jam lagi...., bulan nan suci ini, yakni Ramadhan... bakal pergi. Tak seorang jua yang yakin bahwa dirinya akan sempat berasyik masyuk dengannya pada tahun depan. Tak seorang pun...! Sebab, ajal dapat saja lebih dulu berkunjung ke diri kita..., bahkan jauh-jauh hari sebelum 1 Ramadhan tahun depan. Wallahu 'alam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;Kepada pembaca blog ini, kepada kaum muslim, saya ucapkan taqabbalallahu minna wa minkum. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;Demikian dan salam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-3387316275835491080?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/3387316275835491080/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=3387316275835491080&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/3387316275835491080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/3387316275835491080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2007/10/ramadhan-itu-pergi.html' title='Ramadhan Itu Pergi...'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-618175804634232919</id><published>2007-04-06T11:25:00.000+07:00</published><updated>2007-09-10T11:51:32.871+07:00</updated><title type='text'>Salam di Ruang Publik</title><content type='html'>&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Silakan baca tulisan dari seorang &lt;a href="http://gedehacewriting.blogspot.com/2006/10/ngakan-putu-putra.html"&gt;pemuka agama Hindhu ini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sebuah tanggapan atas sebuah pendapat dari seorang pengunjung blog ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam Islam, salam adalah doa, apalagi ketika mengakhiri ibadah ritual berupa shalat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di luar shalat, yakni ruang publik, uluk salam ini pun hanya berlaku bagi kalangan kaum muslim. Yang di luar muslim tentu saja memiliki caranya tersendiri. Islam pun tak mengharapkan cara orang lain diterapkan ke dalam cara Islam. Begitu pula cara Islam tentu tak layak diterapkan pada agama orang lain. Di sinilah letak toleransi itu. Toleransi itu berada di ranah sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, dll dan &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;sama sekali&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; tidak berada di wilayah akidah. Sebab, akidah adalah urusan &lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;interna&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;l agama dan umatnya yang pasti khas pula dan tak mungkin sama antara satu agama dan agama lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Maka, kalau ada orang Islam yang menerapkan salam untuk orang nonmuslim justru berarti dia tidak menghormati orang nonmuslim itu. Dia sudah mengintervensi agama orang lain dengan cara dan aturan agama Islam. Boleh dikatakan, dia “memaksa” orang lain masuk Islam. Atau minimal dia sudah “menyebarkan” Islam kepada orang yang sudah beragama. Padahal Islam tak pernah memaksa manusia untuk memeluk Islam. Manusia sudah dilengkapi perangkat otak dan hati yang bisa dijadikan sarana untuk berpikir dan memilih jalan hidupnya. Mau ke Timur, silakan.... hendak ke Barat juga monggo. Bebas-bebas saja. Tentu saja di akhirat kelak (bagi yang percaya akan ada akhirat, ada surga-neraka) setiap keputusan itu akan ada balasannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Artinya juga, kaum muslim yang melanggar asas kebebasan beragama itu sudah jelas-jelas melanggar pembukaan dan pasal 29 UUD 1945 sekaligus melanggar aturan Islam seperti tercantum dalam Qur’an di surat Al Kaafirun. Tentu saja masih ada ayat-ayat yang senada yang tersebar di berbagai surat dalam Qur’an. Prinsipnya, orang Islam tak boleh memaksa orang lain untuk masuk Islam. Tidak boleh! Orang yang masuk Islam harus atas arahan hati nuraninya, atas kehendaknya, tak boleh diiming-imingi harta, tahta, pria, wanita, dll. Seorang anak tak boleh memaksa orang tuanya untuk masuk Islam. Orang tuanya pun tak boleh memaksa anaknya masuk Islam kalau sang anak bersikukuh menganut agama selain Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebagai konsekuensi logis, hal yang sebaliknya juga berlaku. Orang Islam dilarang keras menggunakan cara dan aturan agama lain untuk diamalkan. Sebab, kalau diamalkan, baik berupa ucapan maupun perilaku tubuh, maka dia termasuk tidak menghormati agama orang lain. Menghormati orang lain tentu tidak dengan cara melaksanakan ajaran agama orang lain tetapi cukup dengan perbuatan dan ucapan yang lumrah dalam kehidupan sosial, budaya, politik, ekonomi, dan hankam. Justru kalau ada orang Islam yang ikut-ikutan melaksanakan cara dan ajaran agama lain maka dia termasuk melecehkan agama orang lain itu. Dia sudah tidak toleran terhadap orang lain karena sudah masuk ke ranah akidah agama itu. Jadi, yang diharapkan ialah toleransi &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;antarumat beragama&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dan &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;bukan toleransi dalam akidah agama&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Ini dimaksudkan agar ajaran setiap agama tetap murni dan tidak bercampur-baur dengan agama lain sehingga menjadi kabur, tidak jelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dengan spirit itulah orang Islam harus bekerja sama dengan semua orang yang beragama lain dalam membangun perusahaan, kantor, ekonomi negara, membangun sekolah, meluaskan temuan-temuan baru. Juga bersama-sama memberantas kebejatan moral, seks bebas (semua agama pasti melarang &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;freesex&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;), korupsi, manipulasi, dll. Muslimin pun harus bahu-membahu mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan taraf atau indeks mutu hidup. Bahkan dalam urusan antariksa - astronomi, kaum muslim pun wajib sewajib-wajibnya bekerja sama dan juga belajar dari para ahli, misalnya pakar-pakar di Rusia, Jerman, AS, dan Cina agar menguasai ilmu dirgantara dan perbintangan. Semua itu ditujukan demi ibadahnya kepada Allah Swt dan meningkatkan keimanannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bagaimanapun juga, kaum muslim dituntut agar mampu menjadi rahmat bagi alam. Kalau tak bisa membuat yang bermanfaat bagi orang lain, minimal dia berguna buat dirinya dan tidak merusak hal-hal baik dan benar yang sudah ada. Selain dari itu, setiap orang pasti akan menerima hasil perbuatannya masing-masing, apapun agama yang dianutnya. Percaya atau tidak, ini pun tetap hak setiap orang. Silakan pilih dan silakan bertanggung jawab kepada Tuhan masing-masing. Di sinilah makna penting dari penciptaan manusia yang dilengkapi otak, akal dan hati. Dengan tiga perangkat itulah manusia bisa memilah lalu memilih yang sesuai dengan nuraninya. Hanya saja, justru ini yang sulit, yaitu hendaklah memilih yang benar agar tidak sesat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Namun yang pasti, mari kuatkan toleransi kita, toleransi antarumat beragama. Wujudnya ialah mempererat kerja sama kita, misalnya kerja sama dalam pendidikan, mengurangi orang yang buta huruf dan membangun ekonomi bangsa, minimal dari diri sendiri dulu, semacam membuat lapangan kerja untuk minimal satu orang dulu dan bisnis dalam lingkup kecil dulu. Hal-hal ini jauh lebih bermanfaat dibahas dan didiskusikan lalu diimplementasikan daripada mengupas sisi ajaran setiap agama orang lain karena hanya akan menghabiskan waktu kita dan memperkeruh toleransi antarumat beragama. Malah cenderung terjadi debat kusir yang &lt;i style=""&gt;bak&lt;/i&gt; lingkaran setan, tak berujung tak berpangkal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ayolah, kuatkanlah jabat tangan, enyahkan kejumudan berpikir, pasakkan toleransi antarumat beragama dan menjadi salehlah menurut ajaran agama masing-masing. Mari bekerja di bidang masing-masing lalu nikmati juga balasannya setelah kita tidak di dunia ini, karena apapun agama kita, kita pasti mati suatu saat kelak. Ke mana sesudah mati? Ini pun tak usah dibahas karena akan terkait dengan ajaran agama masing-masing. Ini layak dibahas oleh umat agama masing-masing secara internal saja. Silakan bentuk diri masing-masing menjadi kian saleh menurut ajaran agama masing-masing dan kita tetap bersaudara dalam keindonesiaan. Kalau kita diserang oleh negeri seberang maka kita pun bersama-sama membela bunda pertiwi bernama Nusantara ini. &lt;i style=""&gt;Fair&lt;/i&gt;, bukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jadi..., tak apa-apa &lt;i style=""&gt;kan&lt;/i&gt; kalau setiap orang dari lintas agama hanya mengucapkan “&lt;i style=""&gt;selamat pagi, siang, sore, malam, dll&lt;/i&gt;” tanpa harus mengucapkan cara salam dari setiap agama? Ini justru demi kemurnian ajaran agama masing-masing. Bukankah kita senang kalau agama anutan kita tetap suci-murni tanpa disusupi setitik ajaran lain? Ini bak peribahasa, &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;karena nila setitik rusak susu sebelanga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;. Maukah ajaran agama kita secara keseluruhan menjadi rusak hanya gara-gara kita mengamalkan satu-dua ajaran agama lain? Niscaya tidak! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:13;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Are you ok? Thank’s a lot for your attention. Good luck.*&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Gede H. Cahyana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-618175804634232919?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/618175804634232919/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=618175804634232919&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/618175804634232919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/618175804634232919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2007/04/salam-di-ruang-publik.html' title='Salam di Ruang Publik'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-6233781068263688248</id><published>2007-04-06T11:13:00.000+07:00</published><updated>2007-04-06T11:18:58.123+07:00</updated><title type='text'>Palestine, once again!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;(Tulisan ini adalah jawaban atas opini dan pertanyaan di &lt;a href="http://gedehacewriting.blogspot.com/2006/07/save-palestine-di-masjid-agung.html"&gt;http://gedehacewriting.blogspot.com&lt;/a&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 20pt;" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sdr. Anonim yang saya hormati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Trims atas tanggapan Sdr. dan terima kasih pula sudah berkunjung ke “ladang-tulis” saya. “Ladang” ini pun saya fungsikan sebagai meja bundar untuk berdiskusi. Karena bundar, maka posisi semua orang dan kondisi semua pediskusi menjadi setara. Tiada pemimpin, tak ada pengikut. Semuanya memimpin dirinya masing-masing. Hanya saja, menuliskan nama asli dan identitas valid (absah nan jujur) lebih diapresiasi agar diskusi ini bisa bermanfaat bagi semua pihak dan meningkatkan kualitas humanisme kita. Mudah-mudahan jawaban saya ini juga bermanfaat sekaligus membuka cakrawala berpikir kita agar lepas dari kungkungan kejumudan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Saya setuju pada prinsip &lt;i style=""&gt;think globally, act locally&lt;/i&gt;. Itu sebabnya di “ladang” ini muncul juga tulisan yang “global”, tulisan yang menyoroti masalah negeri lain, khususnya negeri muslim lantaran kaum muslim di dunia sudah dipersaudarakan oleh Qur’an menjadi satu tubuh (keluarga superbesar). Oleh karena itu, dalam setiap penghasilan atau pendapatan dari gaji, bisnis, dagang, dll ada hak minimal 2,5% bagi kaum muslim yang miskin, yang fakir seperti tercantum dalam &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;delapan asnaf&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; (kelompok) yang wajib dibantu, diberi zakat dan sedekah serta diupayakan bisa bebas dari delapan asnaf, menjelma menjadi manusia “baru” yang justru &lt;i style=""&gt;muzaki (pemberi zakat)&lt;/i&gt; bukan lagi &lt;i style=""&gt;penerima (mustahik)&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Baiklah, sebelum paparan lebih lanjut ada satu hal yang mesti diingat, yaitu ada bagian tulisan di atas yang merupakan opini narasumber saat itu: bapak H. Usep Romli dan ustadz Ahmad Humaidi. Sisanya barulah murni opini saya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Seperti Sdr. Anonim, saya tak hanya setuju, tetapi &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;sangat amat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; setuju atas pernyataan bahwa kondisi negara kita sedang kacau, ekonomi luluh lantak, beras sulit, gas LPG berkurang, pesakitan koruptor kaliber supertikus terus terkuak di berbagai daerah, dan politik bebas aktif kita sudah tak bebas lagi, tetapi “ditekan” AS dan cs-nya. Belum lagi anggota DPR dan DPRD (I/II) terus saja mengisap uang rakyat, entah lewat laptop, jalan-jalan ke luar negeri atau ke daerah dengan alasan studi banding padahal cuma &lt;i style=""&gt;shopping&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Begitu pula, &lt;i style=""&gt;mark up&lt;/i&gt; projek di mana-mana, tak hanya di departemen, dinas pemerintah kota /kabupaten tetapi juga di BUMD dan BUMN. Sementara itu, kesulitan biaya sekolah menimpa jutaan anak-anak SD. Jangankan ke SMP, SMA apalagi perguruan tinggi, menuntaskan SD saja tak mampu. Padahal uang yang dikorupsi tetikus kantor itu bisa untuk membiayai sekolah mereka, termasuk penyediaan lapangan kerja agar wanita kita tak diekspor ke luar negeri, tak hanya ke Malaysia dan Timteng, tetapi juga Hong Kong, Filipina, Singapura, Thailand, AS, Eropa, bahkan ke Mesir, Sudan dan Tunisia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Belum lagi kesulitan pangan di Indonesia Timur, khususnya di pedalaman Papua dan NTT. Di daerah itu pun penganggurnya membludak. Mereka bukannya tak mau bekerja, tetapi tak ada pekerjaan (minimal sebagai buruh di projek konstruksi). Maka, andaikata dana projek bisa efektif &amp; efisien, bukan tak mungkin penganggur tersebut bisa bekerja, bisa membiayai hidupnya sendiri dan keluarganya. Pabrik tekstil pun takkan bangkrut karena ekonomi tumbuh sehingga mampu membeli baju-celana. Ini semua berdampak pada kenaikan indeks mutu hidup manusia Indonesia. Secara berbarengan, pendidikan pun berkembang, makin banyak yang bisa sekolah dan berkuranglah pebuta huruf. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dari semua itu, ada SATU pertanyaan besar. Apa peran kita dalam kancah perseteruan itu? Akankah kita tinggal diam dan hanya &lt;i style=""&gt;think&lt;/i&gt; demi diri dan keluarga sendiri? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam Islam ada prinsip begini: andaikata besok kiamat, tetaplah kamu menanam bibit, bercocok tanam. Usahlah hirau pada kiamat tapi hiraulah pada amal ibadahmu. Berkebun (secara umum: bekerja) adalah amal saleh. Artinya, teruslah bekerja, kapan pun dan apa pun yang menimpa kita. Jangankan cuma bom dan tekanan boikot, kiamat pun hendaklah tetap disambut gembira. &lt;i style=""&gt;Toh&lt;/i&gt; semua perbuatan akan ada balasannya di akhirat. Kalau selama hidup kita selalu berupaya berbuat baik, dan salah satu dari miliaran potensi berbuat baik adalah peduli pada kaum Palestine, bukankah hal ini bernilai ibadah? Terlebih lagi sesama muslim itu bersaudara. Kecuali kalau kita memang tak percaya akan adanya hari kiamat dan hari hisab, tak percaya pada surga-neraka, tak percaya bahwa perbuatan kita di dunia bakal dimintai tanggung jawab di akhirat. Ini tentu lain soal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Andaikan (atau memang faktanya) Sdr. Anonim tak setuju pada cara tersebut, masih ada cara lain. Caranya, marilah berbagi tugas. Yang peduli pada Palestina, silakan berjuang agar Israel tak menjajahnya lagi dan ini sesuai dengan pembukaan UUD 1945, bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Yang peduli pada Irak, Afghanistan, juga silakan. Yang peduli pada TKW juga oke-oke saja dan silakan dukung Menakertrans untuk berbuat maksimal agar penghargaan atas wanita menjadi tinggi. Bahkan yang condong pada AS dan sekutunya juga tak ada yang melarang. Silakan saja. Toh semua perbuatan itu akan ada ganjarannya. Masing-masing akan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tak mungkin perbuatan buruk seseorang akan ditimpakan kepada orang lain. Begitu pula yang peduli pada nasib kaum miskin kota, miskin desa, anak-anak yatim, fakir, miskin juga bagus-bagus saja. Semuanya ada nilai ibadahnya, nilai pahalanya dan ada hukumannya apabila berdosa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Analoginya adalah tubuh kita. Pembagian tugas itu serupa dengan organ tubuh kita. Agar optimal, harus ada distribusi tugas. Jantung silakan asyik memompa darah. Paru-paru silakan menangkap oksigen. Kaki silakan berjalan, tangan silakan memegang, menulis, atau bekerja membelah kayu. Mata silakan melihat, hidung silakan membaui, kuping silakan mendengar, perut silakan menyerap gizi makanan, anus silakan membuang kotoran, farji silakan memenuhi syahwat, dan lain-lain. Semua ada porsi tugasnya, termasuk saya dan Sdr. Anonim. Minimal saya sudah bertugas membuat tulisan yang bisa dibaca banyak orang di dunia ini dan menjadi opini imbangan atas opini lain di media massa (terutama media asing) yang cenderung berat sebelah dan tidak adil. Kira-kira, apa saja tugas dan peran yang sudah dijalankan oleh Sdr. Anonim?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jadi, marilah kita berbagi tugas. Yang presiden, cobalah jalankan fungsi kepresidenan agar betul-betul mengamalkan UUD 1945. Yang menteri, cobalah optimal bekerja agar, misalnya, lumpur Lapindo segera tuntas dan ganti ruginya bisa segera dibayarkan. Yang menteri pendidikan berupayalah agar pendidikan kita maju dan semua anak bisa sekolah. Yang menteri hankam, amankanlah negara ini dari anasir asing dan mata-mata, termasuk proteksi atas intimidasi dan tekanan terhadap politik bebas aktif serta upaya kemandirian ekonomi kita. Yang bupati, yang walikota, yang kepala dinas, yang camat, yang lurah, dan yang... yang .... yang lain.... silakan bekerja optimal dengan niat ibadah. Enak, bukan? Sembari bekerja, selain uang, kita pun memperoleh pahala. Indah dan &lt;i style=""&gt;ueenak tenan, kata Timbul Srimulat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Itulah ragam rupa wajah kita, sebuah bangsa besar dengan plus-minus 234 juta penduduk. Kita betul-betul ber-Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda fungsi dan tugas tetapi tetap satu jua tujuan kita, yaitu Indonesia. Nusa antara... nusantara. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jadi...., marilah berbagi peran, berbagi tugas, berbagi fungsi dan berbagi dalam duka. Jangan hanya berbagi kala suka. Ini tidak berarti kita mesti sehidup semati. Tidak! Kita boleh sehidup tetapi tak perlu semati. Sebab, kalau semua orang berprinsip sehidup semati, bisa habis manusia di Bumi ini, jauh-jauh hari sebelum kiamat tiba. Apalagi soal mati hanya Allahlah yang tahu. Apapun kedigjayaan kita, ujung-ujungnya memang 2 x 1 m2 di kuburan. Bisa juga tenggelam di laut dimakan hiu atau hancur di hutan karena pesawatnya meledak, atau dimutilasi karena menjadi korban pembunuhan. Masih banyak lagi cara mati lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pamungkas, ambillah peluang hidup ini untuk ibadah dan bermanfaat bagi orang lain. Sebab, semuanya bakal berakhir. Yang pintar yang bodoh, yang tinggi yang rendah, yang hitam yang putih, yang cantik yang jelek, yang kaya yang miskin, yang muda yang tua, yang lengkap yang cacat, ... dst pasti akan mati. Lalu, sudahkah hidup kita berguna buat orang lain selain keluarga kita? Apa yang bakal kita tinggalkan setelah mati selain warisan untuk keluarga kita? Warisan abadi adalah perbuatan baik dan benar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Semoga “ladang-tulis” ini, juga &lt;i style=""&gt;hardcopy&lt;/i&gt; artikel dan buku-buku dapat menjadi salah satu warisan saya untuk semua orang, dapat diakses oleh semua orang di semua sudut dunia dan dari berbagai zaman mendatang serta mereka memperoleh pencerahan. Semoga dihitung sebagai amal saleh oleh Allah Swt. Hanya ini harapan saya. Namanya juga harapan, belum tentu tercapai. Tetapi saya tetap berharap dan berdoa agar terkabul. Aamiin.*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Gede H. Cahyana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-6233781068263688248?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/6233781068263688248/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=6233781068263688248&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/6233781068263688248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/6233781068263688248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2007/04/palestine-once-again.html' title='Palestine, once again!'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-8093657977039806219</id><published>2007-04-05T19:10:00.000+07:00</published><updated>2007-04-05T19:13:02.506+07:00</updated><title type='text'>Menulis Itu Gampang!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ah... &lt;i style=""&gt;masa’?&lt;/i&gt; Yang beneeerrr. &lt;i style=""&gt;Nggak&lt;/i&gt; ah..., &lt;i style=""&gt;nggak&lt;/i&gt; percaya!” Begitulah tanggapan yang muncul setiap saya bicara soal tatatulis, tulis-menulis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Betulkah gampang? Saya jawab, “betul!” Menulis itu gampang. Segampang bicara. Ini bukan isapan jempol. Sama sekali bukan! Juga bukan bualan. Ini serius, malah &lt;i style=""&gt;tujuhrius&lt;/i&gt;. Tak percaya...? Kalau tak percaya, pasti belum dicoba. Sebab, sekali dicoba, dijamin ketagihan. Sungguh. &lt;i style=""&gt;Gimana &lt;/i&gt;caranya...?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Secara ringkas, minimal ada tiga cara dalam memulai menulis. Ketiga cara itu bertumpu pada satu hal saja, yaitu berani. Kata “&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;berani&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;” ini justru tak dimiliki oleh orang yang tak mampu menggerakkan penanya di atas kertas atau di kibor komputer. Padahal semua orang, tak peduli tingkat pendidikannya, asalkan bisa membaca dan menulis (dalam arti mengaksara), pasti bisa menulis (dalam arti mengarang cerita atau menulis artikel, berita, dll). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Yang pertama disebut &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Flashing&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; (tulis-cepat). Apa pun yang berkelebat di otak, tulislah. Cepatlah gerakkan pena di tangan, tulislah walaupun bak cakar ayam, yang penting masih terbaca. Jangan takut, jangan ragu. Cuma ini kuncinya. Sebagai latihan, tataplah selokan atau jalan di dekat rumah atau kantor lalu tulislah sesuatu. Apa saja. Tulis! Teruslah berlatih melihat sesuatu di sekeliling kita lalu tulislah. Lama kelamaan, bayangkan atau khayalkanlah sesuatu lalu tulislah. Tulis saja dan jangan pikirkan tatabahasa, struktur kalimat, dll. Baru setelah itu, setelah usai atau dianggap selesai, mulailah diedit, dibenahi kosakatanya, diasah pola kalimatnya, dijernihkan gaya bahasanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Yang kedua, &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Blooming&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; (tulis-mekar). Cara ini mirip bunga yang sedang mekar, makin lama makin besar dan meluas. Tulislah kelopak-kelopak bunga di sekitar pusatnya. Kelopak ini berisi kata atau frase. Dari setiap kata atau frase tersebut dapat dibuat kalimat, bisa saling berhubungan, bisa juga lepas dan berdiri sendiri. Di sini pun kuncinya tetap sama dengan cara di atas, yaitu “&lt;i style=""&gt;berani dan jangan ragu&lt;/i&gt;”. Setiap kelopak akan memunculkan jalinan ide cerita (paragraf) yang boleh jadi berkaitan dan bahkan membentuk jejaring dengan kelopak lainnya. Jejaring inilah yang akan menyatukan setiap tema dalam kelopak dan menjadi untaian tulisan yang padu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Yang ketiga, &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Spraying&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;(tulis-pancar). Cobalah mulai dari satu kata. Kata apa saja. Dari satu kata ini, cobalah buat kalimat. Kalimat apa saja. Boleh kalimat berita, boleh kalimat perintah, bisa juga kalimat tanya. Jangan pusing-pusing dengan tata bahasa dan usahlah takut-takut. Susunlah satu kalimat dari sejumlah kata, entah itu sesuai dengan pola SPOK atau yang lainnya. Dari susunan kata ini akan terbentuk kalimat demi kalimat yang akan berkumpul penjadi paragraf.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Cobalah buat satu kalimat yang berisi kata air. Ini contohnya. &lt;i style=""&gt;Semua orang pasti perlu air&lt;/i&gt;. Ini kalimat berita. Cobalah susun kalimat tanya. &lt;i style=""&gt;Siapa yang tak butuh air?&lt;/i&gt; Berikut ini kalimat perintah. &lt;i style=""&gt;Silakan minum air yang di meja merah, jangan yang di meja biru!&lt;/i&gt; Bukankah kalimat-kalimat ini serupa dengan kalimat-kalimat yang sering kita ucapkan sehari-hari? Pasti ada saja kalimat yang kita ujarkan kepada orang lain, teman kita atau kepada siapa saja, setiap hari! Kalau ujaran itu ditulis, baik di kertas maupun di komputer, maka kita sudah menulis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Setelah satu kalimat itu, cobalah tambah dengan kalimat lainnya. Sebaiknya yang masih terkait dengan air juga. Misalnya begini. &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Siapa yang tak perlu air? Semua makhluk hidup pasti butuh air. Jangankan manusia, binatang dan tumbuhan saja perlu air. Reratanya, 75% tubuh kita berisi air. Bahkan dalam tulang pun ada air. Malah manusia diciptakan dari air (mani). Syahdan spermatozoa dan sel telur (ovum) pun komponen utamanya adalah air. Jadi, tepatlah kita hidup di planet air ini, yaitu planet Bumi yang 97,3% permukaannya diselimuti air&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tampaklah, dari satu kalimat lalu ditambah satu kalimat lagi dan dirangkai lagi dengan kalimat berikutnya bisa dihasilkan satu paragraf utuh. Sebaiknya setiap kalimat yang ditulis itu masih terkait dengan kalimat sebelumnya. Boleh berupa penjabaran kalimat sebelumnya, boleh juga berupa kalimat lainnya yang setara atau memberikan penjelasan atas kalimat sebelumnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Orang bule, konon, mewanti-wanti temannya, “&lt;i style=""&gt;jangan mati sebelum ke Bali&lt;/i&gt;.” Entah betul entah salah, ungkapan itu bisa diubah menjadi “&lt;i style=""&gt;jangan mati sebelum menulis&lt;/i&gt;”. Kekalkan diri dalam tulisan, dalam buku, dalam artikel, dan dalam blog. Ketika ruh pergi dari tubuh, sang tulisan berupa buku, artikel, cerpen, novel, dan blog akan hidup terus. “Abadi” hingga kiamat. Ia lenyap pas kiamat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jadi..., kalau ingin hidup terus, “&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;berumur panjang&lt;/span&gt;”, segeralah menulis. Tulis! TuuuuuuuLIS! Lis lis lis. Elvis &lt;i style=""&gt;aja nulis&lt;/i&gt;..., menulis lagu sehingga dia “abadi”. *&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-8093657977039806219?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/8093657977039806219/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=8093657977039806219&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/8093657977039806219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/8093657977039806219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2007/04/menulis-itu-gampang.html' title='Menulis Itu Gampang!'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-6851829142852787928</id><published>2007-04-05T19:04:00.000+07:00</published><updated>2007-04-05T19:10:19.523+07:00</updated><title type='text'>Training Menulis, Masa Semai</title><content type='html'>Tibalah masa semai. Semai menulis. Semoga nanti mampu tumbuh dan berbuah, buah yang baik dan bermanfaat bagi penikmatnya. "Sawah" yang kini diairi telah siap ditanami lagi, ditanami varietas dari berbagai kualitas. Apa pun itu, yang pasti semuanya berpeluang tumbuh subur asalkan "sang varietas" berjuang untuk bertahan dan terus tumbuh. Tentu saja "sang varietas", pada awalnya, perlu dipandu agar belajar manapaki jalan terbentang. Setelah itu bebaslah ia tumbuh dan menghujamkan akarnya ke tanah, menjadi kuat dan produktif. Sekali jadi, selamanya berarti; punya arti dan kaya makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, masa semai diarahkan kepada rekan-rekan yang ingin menyemaikan dirinya dalam komunitas mikro di bidang baca-tulis, &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;reading-writing microsociety&lt;/span&gt;, sebuah brand yang diusung &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Writing Quadrant Institute&lt;/span&gt;. Menjadi penulis, itulah kata orang. Menulis apa saja, tentu saja yang positif. Misalnya, ingin menulis artikel ilmiah populer atau opini di media massa, atau membuat tulisan "unek-unek" di internet (blog), atau membuat tulisan wisata, perjalanan, dan bahkan menulis buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi..., rekan-rekan yang tinggal di cekungan Bandung alias Bandung Raya diundang untuk mengikuti Training Menulis yang diadakan oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Writing Quadrant Institute&lt;/span&gt; Universitas Kebangsaan Bandung. Training dilaksanakan pada Sabtu, 14 April 2007 pk. 13.00-17.00 wib di kampus UK, di Jl. Ters. Halimun No. 37 Talagabodas Bandung. Biayanya Rp 20.000 untuk mahasiswa dan Rp 30.000 untuk umum. Pendaftaran bisa lewat Hp dan pembayarannya boleh pada hari H di kampus UK. Informasi selanjutnya silakan kontak Hp. 0815 627 4646 atau kirim sutel ke gedehc@yahoo.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Petandur” masa semai ini ialah Gede H. Cahyana, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;owner&lt;/span&gt; "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ladang-tulis&lt;/span&gt;" &lt;span style="font-style: italic;"&gt;http://gedehace.blogspot.com&lt;/span&gt; yang juga penulis lepas di koran, tabloid, majalah, jurnal dan buletin. Belajar menulis, terutama puisi, cerpen dan menulis buku harian sejak di SD, dan mulai rutin menulis sejak 1993, segera setelah menjadi dosen di Univ. Kebangsaan Bandung lantaran wajib menulis diktat dan tulisan ilmiah lainnya. Kini, selain membimbing skripsi, juga memanas-manasi mahasiswanya untuk menulis dan menulis.... terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemateri selanjutnya adalah Asep Syamsul M. Romli, S.Ip., Pemimpin Redaksi Tabloid Alhikmah Bandung, juga pernah menjadi Redaktur Opini dan Luar Negeri Mingguan Hikmah (Grup Pikiran Rakyat, 1993 - 2000), mantan Redaktur Majalah Sabili Jakarta, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Guest News&lt;/span&gt; Editor Radio Antassalam FM Bandung, dan mengajar di Univ. Al Ghifari Bandung. Karya tulis berupa buku: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Isu-Isu Dunia Islam, Jurnalistik Praktis untuk Pemula&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Demonologi Islam:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Upaya Barat Membasmi Kekuatan Islam&lt;/span&gt;. Kini memimpin Balai Jurnalistik ICMI Orwil Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-6851829142852787928?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/6851829142852787928/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=6851829142852787928&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/6851829142852787928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/6851829142852787928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2007/04/training-menulis-masa-semai.html' title='Training Menulis, Masa Semai'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-116347810870794808</id><published>2006-11-14T11:19:00.000+07:00</published><updated>2006-11-14T11:21:48.713+07:00</updated><title type='text'>"Ketupat-Opor" Buku</title><content type='html'>Bagai dihipnotis, kaum muslim bergerak serentak ke kampung kelahirannya. Ada yang dari Jakarta ke daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, ada yang dari Yogyakarta ke Garut dan Tasik, ada yang dari Surabaya ke Lampung dan Sumatera lainnya. Tepat pada hari Lebaran, mereka membelah ketupat dan menikmati opor ayam. Tak hanya bapak-ibu dan anak-anak yang menyantapnya, tapi juga tamu, rekan kerja dan tetangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah "ritual" yang terjadi setiap tahun dengan prosesi yang nyaris tak berubah. Dimulai dari sepekan sebelum hari H, para ibu dan anak-anaknya mulai menyiapkan kue dan penganan lainnya. Aktivitas ini terjadi di semua lapisan sosial ekonomi. Jenis kue dan hidangannya relatif sama. Bedanya hanyalah banyak sedikitnya dan kualitas bahannya. Juga mungkin ada racikan baru yang dicoba oleh ibu-ibu. Tapi semuanya bermuara pada satu kata, yaitu ketupat dan opor ayam. Tanpa makanan ini, Lebaran terasa tidak lengkap. Begitulah anggapan sebagian masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa fenomenalnya ketupat dan opor ayam. Betapa besar cinta orang kepadanya. Adakah pelajaran yang bisa diambil daripadanya? Ada cita-cita begini. Dapatkah momen Lebaran dijadikan titik tolak meluaskan cakrawala ilmu, cinta baca dan cinta buku bagi masyarakat? Bagaimana kalau ketupat dan opor pada setiap Lebaran itu diganti dengan buku? Katakanlah semacam "ketupat-opor" buku. Ini pun hakikatnya makanan, tetapi makanan ruhani. Malah taraf kepentingannya sejatinya jauh di atas makanan jasmani. Apalagi makanan jasmani ini sudah menjadi santapan sehari-hari, sudah sangat lumrah, tak hanya pada masa Lebaran. Tentu masih layak jika kita sematkan satu hari saja, yaitu pada saat Lebaran sebagai hari makan bagi ruhani kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangatkah kita mewujudkan Lebaran sebagai pesta "ketupat-opor" buku? Ketika gerakan "ketupat-opor" buku ini dilaksanakan, kaum muslim akan berpesta buku dalam ujud diskusi kecil-kecilan di setiap rumah. Buku apa saja boleh tetapi pada tahap awal sebaiknya buku yang berkaitan dengan hikmah Idulfitri. Bukunya yang tipis-tipis saja dulu. Misalnya tentang hal-hal yang harus dikerjakan pasca-Ramadhan agar hidup ini kaya manfaat. Perihal ibadah sosial perlu juga diketengahkan agar kita makin banyak melaksanakan ibadah ini selain ibadah ritual yang rutin minimal lima kali sehari. Kalau shalat saja bisa, kenapa zakat dan yang lainnya tidak bisa? Adakah “mimpi” pesta "ketupat-opor" buku ini bakal terwujud? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mudah, memang, mewujudkan mimpi. Tetapi gerakan ini dimulai saja, minimal dalam skala rumah tangga atau orang per orang. Jika sudah ada yang bergerak meskipun lambat, maka lambat laun akan meluas juga. Apalagi kalau didukung oleh media massa, pasti gerakan ini akan kian dikenal masyarakat. Kalau sudah berjalan walau pelan, maka kemungkinan tercapainya pun kian besar. Rintangannya bukan tidak ada. Nada mencibir bisa muncul dari mana saja, dari siapa saja, dan tuduhan sinis berhamburan secepat kilat. Boleh jadi ada yang menuduh sebagai "aneh-aneh saja", divonis dan dinyinyiri sebagai orang "gila" dan dianggap kurang kerjaan. Semuanya bisa terjadi. Tapi teruslah bergerak demi meliterasikan bangsa ini, demi perbaikan ranking Indeks Pembangunan SDM kita yang pernah bercokol di angka memalukan, yaitu 112. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun tanggapan dan anggapan orang patutlah diperhatikan tapi janganlah menyurutkan niat yang sudah tertanam di hati. Sekeras apapun tentangan orang, sekuat apapun badai menghantam, gerakan "ketupat-opor" buku selayaknya terus digemakan dan dihidup-hidupkan. Sebagai gerakan budaya yang melawan arus tradisi pasti mendapat resistensi dari pendukung tradisionalnya. Ini biasa. Nabi Muhammad pun dilawan keras oleh kaum penyembah tradisi Arab pada masa itu dan bahkan sangat keras perlawanannya. Kalau saja Muhammad menyerah dan tidak yakin akan kemenangannya, niscaya kejahilan itu tetap merajalela sampai sekarang. Kita pun, mungkin, tak bakal kenal dan tak ber-Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbekal kata iqra (bacalah; padahal Muhammad buta huruf) lantas satu per satu orang-orang Mekkah memeluk Islam. Sementara itu, pintu permusuhan kian dibuka lebar oleh kaum Quraisy karena mengancam tradisi terutama eksistensi mereka sebagai kaum priyayi Arab. Tak hendak mereka disetarakan apalagi disamakan dengan orang-orang biasa, dengan rakyat dan budaknya. Mereka tak rela pada Islam karena mengajarkan persamaan hak dan yang paling mulia di depan Allah hanyalah yang paling takwa. Prinsip “benci baca” alias pembodohan ini pun telah diterapkan oleh kolonial Belanda ketika menjajah kita dengan menjauhkan umat Islam dari kitab sucinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah tantangan keras terhadap gerakan baru, gerakan literasi. Kalau tidak dimulai dari sekarang, minimal dari diri sendiri, maka takkan ada gerakan pembaruan pola pikir masyarakat. Mari pinjam 3M yang dipopulerkan Aa Gym dari Pontren Daarut Tauhiid, yaitu mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, dan mulai sekarang juga. Jangan tunggu hari H Lebaran tahun depan. Bergeraklah sejak detik ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menikmati "ketupat-opor" buku sambil berdiskusi dan menyantap ketupat.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-116347810870794808?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/116347810870794808/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=116347810870794808&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/116347810870794808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/116347810870794808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2006/11/ketupat-opor-buku.html' title='&quot;Ketupat-Opor&quot; Buku'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-116347789686344403</id><published>2006-11-14T11:16:00.000+07:00</published><updated>2006-11-14T11:18:16.866+07:00</updated><title type='text'>Usai Lebaran, Lalu Bagaimana?</title><content type='html'>Idulfitri telah berlalu. Seperti tahun-tahun lalu, Idulfitri atau lebaran selalu saja datang dan pergi. Dalam kronika waktu, yakni rotasi Bumi dan edar Bulan, lebaran seperti tidak peduli. Ia datang dengan penampakan hilal, lalu makin terang dan berbentuk bulat saat purnama, selanjutnya menyabit (menjadi Bulan sabit) dan kembali hilang. Lantas, ia datang lagi. Begitu berkali-kali, seolah-olah tak peduli pada manusia yang kerapkali berbeda pendapat dalam menetapkan satu Syawal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebaran usai sudah. Bagaimana dampaknya pada perilaku kita? Ada empat kelompok karakter orang dalam berlebaran. Yang pertama, kelompok gembira. Gembira karena tuntas puasanya sebulan penuh. Selain ibadah ritual seperti shalat wajib dan sunnah terutama tarawih atau tahajjud, ibadah sosial pun ditunaikan. Tak hanya zakat fitrah senilai Rp 12.500 per orang tetapi juga infak sunnah dan sedekah. Berhari-hari selama sebulan itu mereka giat berbuat saleh. Minimal mengisi kencleng masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua adalah kelompok bahagia. Mereka bahagia lantaran mampu mengisi bulan Ramadhan dengan ibadah ritual dan sosial sebanyak-banyaknya. Namun mereka pun merasa sedih dalam bahagia karena Ramadhan berlalu dan merasa takut tidak bisa bertemu bulan suci itu lagi tahun depan. Dalam kebahagiaannya ada kesedihan. Itu sebabnya, mereka berupaya menjadikan hari-hari pasca-Lebaran sebagai hari-hari Lebaran dan hari-hari "puasa". "Puasa" dari perbuatan nista. Kelompok ini menjadikan 11 bulan berikutnya sebagai Lebaran hakiki. Ramadhan dijadikan bulan latihan dan hasilnya diterapkan pada bulan setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga, kelompok netral. Bagi kelompok ini, ada atau tidak ada lebaran disikapi dengan biasa-biasa saja atau malah acuh tak acuh. Ibadahnya berlubang-lubang, kadang-kadang puasa kadang-kadang tidak. Ada juga yang puasa tetapi tidak shalat. Ada yang ikut tarawih keliling tetapi tidak puasa. Kalaupun puasa tetapi mereka tidak shalat. Ada yang malah tidak puasa, tidak shalat wajib tetapi ikut shalat Idulfitri, berbaju baru dan berpenampilan baru pula. Semuanya serba hedonis dan menampakkan minat besar pada simbol-simbol kenikmatan dunia, seperti harta dan tahta (jabatan). Malah tampak jauh lebih ekspersif merayakan Lebaran ketimbang dua kelompok sebelumnya. Tampak berlomba-lomba dalam “pamernya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ketiga kelompok di atas, ada satu lagi, yaitu kelompok sedih. Inilah fenomena lain di tengah gembira dan bahagia yang dirasakan oleh orang-orang berpuasa dan mampu ekonominya, punya kekuatan finansial. Kelompok keempat ini diisi oleh kaum marjinal, orang-orang yang terpinggirkan oleh sejarahnya, juga oleh kompetisi ekonomi, sosial-kultural. Jumlahnya signifikan, mencapai 39,5 juta orang. Karena berada di bawah garis kemiskinan, tak mampulah mereka berpuasa secara ritual karena nyaris setiap hari berpuasa lantaran tak punya makanan. Mereka puasa tanpa kepastian berbuka dan “mungkin” tanpa kepastian pahala karena tidak betul-betul puasa dalam arti tidak makan-minum dari Subuh sampai Magrib. Kelompok ini, ketika menemukan remah-remah roti di bak sampah akan langsung menyantapnya dan puasa lagi sampai menemukan makanan bekas di bak sampah lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Lebaran, ketika kaum muslimin membelah ketupat dan menyendok opor ayam, kelompok fakir miskin ini terseok-seok menanti sedekah. Sambil mengiba dengan telapak tangan tertadah ke atas, mereka menanti uluran tangan kaum muslimin yang “lulus” puasa dan merayakan “kelulusannya” dengan ber-Lebaran. Simbol tradisionalnya adalah membelah ketupat. Ketika muslimin berbagi amplop angpao kepada keponakannya, mereka menggamit anak-anaknya di sela-sela desakan rekan sesama pengemis, berebut meminta sekeping dua keping atau selembar dua lembar uang seribuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, Lebaran bukanlah akhir puasa. Lebaran justru awal puasa, yaitu puasa dari penistaan diri, puasa dari perilaku KKN atau MKKN (manipulasi, korupsi, kolusi, nepotisme). Lebaran adalah titik tolak hari baru, menjadi orang baru. Bukan sekadar polesan baru yang sifatnya duniawi seperti baju baru, sepatu-sandal baru, tas baru, dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebaran adalah harinya orang-orang berhati baru, bermental baru yang bermuara pada kebenaran. Lebaran adalah pengikis karakter “tikus” yang bercokol, mengerati, dan menggerogoti hati. Negara ini butuh orang-orang baru, orang-orang bermoral baru. Selamat Lebaran sepanjang waktu.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-116347789686344403?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/116347789686344403/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=116347789686344403&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/116347789686344403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/116347789686344403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2006/11/usai-lebaran-lalu-bagaimana.html' title='Usai Lebaran, Lalu Bagaimana?'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-116347763424619424</id><published>2006-11-14T10:48:00.000+07:00</published><updated>2006-11-14T11:13:54.273+07:00</updated><title type='text'>Buku dan Ketupat Lebaran</title><content type='html'>Lebaran atau Idulfitri betul-betul mampu mengerahkan orang-orang Islam untuk bergerak mudik, mengunjungi kampung kelahirannya, bertemu dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Semua modus angkutan, baik pribadi seperti motor dan mobil maupun umum seperti bis, kereta api, pesawat, dan kapal, disesaki penumpang. Tak hanya oleh orang tua, tetapi juga oleh anak-anak dan balita. "Ritual" tahunan itu selalu saja dinanti-nanti dan disambut gembira. Salah satu bentuk kegembiraan itu adalah pembuatan ketupat dan opor ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari rumah ke rumah, terutama di kota-kota besar, dan tentu saja bagi kalangan mampu yang memiliki uang, ketupat dan opor, juga masakan lainnya pasti menghiasi meja makan. Bahkan pada malam takbiran pun sudah banyak yang menikmatinya. Esoknya, seusai shalat Idulfitri, setelah maaf-maafan dan sungkem-sungkeman, hidangan khas lebaran itu pun diserbu lagi. Kini dimakan bersama-sama, secara prasmanan dan duduk berputar atau di sekitar meja makan. Sambil ngobrol atau menonton televisi yang juga kaya dengan acara lebaran atau tayangan shalat Idulfitri dari Istiqlal, Jakarta, juga dari Makkah al Mukarromah, mereka terus menikmati santap ketupat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamu-tamu pun lantas berdatangan dan setelah salam-salaman, ada peluk cium sedikit, lalu dipersilakan ke meja makan dan menikmati ketupat dan opornya. Sementara itu, tamu berikutnya datang lagi dan "ritualnya" persis sama dengan tamu sebelumnya, lalu dipersilakan bersantap ketupat dan opor ayam. Begitu berkali-kali dan terjadi setiap lebaran. Tidakkah ada rasa bosan di hati? Ternyata tidak. Justru hal demikian dinanti-nanti oleh semua anggota keluarga, mulai dari buyut, kakek-nenek, ayah-ibu, anak-anak, hingga cucu dan cicit. Semua berdatangan dan berkumpul di satu tempat yang biasanya rumah kakek atau buyutnya sebagai generasi tertua yang masih hidup. Luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suguhan spektakuler ini terjadi di semua lapisan masyarakat, baik di kalangan atas yang sarat uang sampai ke kalangan menengah dan bawah. Bedanya hanya satu, yaitu kualitas hidangannya. Variasinya tak jauh beda. Semuanya melibatkan ketupat, opor, dan sayur. Biasanya sayur waluh pedas dan dilengkapi jeruk. Ada juga apel dan anggur hijau. Segar, memang. Nikmat di lidah, tentu saja. Gembira? Sudah pasti. Tetapi, yang pasti juga, tidak semua senang dan gembira itu akan bermuara pada bahagia. Kebahagiaan, kata ulama, tak sama dengan gembira, berbeda dengan rasa senang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"Ketupat" buku?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada sedikit khayalan. Demi meluaskan cakrawala ilmu masyarakat, khususnya kaum muslimin, bagaimana kalau ketupat dan opor itu diganti dengan buku, majalah atau koran? Adakah sambutannya semeriah menyambut ketupat - opor? Bisa diduga, tidak meriah dan malah dicap aneh. Jangan-jangan malah dianggap “gila”. Tapi begitulah, sesuatu yang baru, melawan arus tradisi, pasti akan ditentang dan dinista. Tak mudah membudayakan sesuatu yang dianggap melawan kemapanan tradisi. Apalagi kalau sesuatu yang baru itu sangat melawan arus kenimkatan nafsu, baik syahwat maupun perut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa sambutan serupa belum terjadi pada “hidangan” bernama buku? Bukankah buku adalah makanan ruhani kita? Malah dalam banyak pendapat ulama, buku adalah obat penyakit hati. Bahkan imam Al Ghazali pun menulis Kimia Kebahagiaan (Kimia’i Sa’adah) dalam ujud buku. Siapa saja pembaca akan memperoleh "ramuan kimia" yang membahagiakan. Buku menjadi obat. Sebab, dengan bukulah (baca: ilmu) manusia dapat mengelola hatinya sehingga tidak kotor apalagi rusak dan buruk. Makanan ruhani atau lebaran bagi ruhani rupanya belum mampu mendesak apalagi menggeser lebaran ketupat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah masyarakat tidak selalu tunduk pada godaan nafsu perutnya? Makan dan minum bukan tidak boleh, tetapi harus. Harus makan dan minum untuk menjaga kesehatan, agar organ tubuh kita berfungsi dengan baik dan kuat beribadah. Ibadah di sini tidak hanya ritual, tetapi juga ibadah sosial seperti bekerja, membersihkan halaman, mencuci, menyapa teman, atau mengajari orang agar makin mengerti hakikat hidup. Banyak lagi jenis ibadah sosial ini. Justru jenis ibadah sosial inilah yang lebih banyak dan tak terbatas jumlahnya dibandingkan dengan ibadah ritual. Apalagi prinsip ibadah ritual hukumnya haram kalau tiada tuntunan dari Allah dan rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama terjadi pada parsel Lebaran. Kebanyakan parsel berisi makanan dan minuman. Ada juga modifikasi lain, seperti memparselkan barang-barang keramik pecah belah. Bahkan konon ada yang berisi kunci mobil dan/atau rumah dan sertifikatnya. Tetapi yang seperti ini sempat menyulut pelarangan parsel karena diduga ada udang di balik batu, berkaitan dengan sesuatu yang sifatnya MKKN (manipulasi, korupsi, kolusi, nepotisme). Ada pamrih di balik pemarselannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal "ketupat" buku. Saya membayangkan, bagaimana kalau setiap tamu yang berkunjung ke rumah kita disuguhi buku. Bisa dimulai dari buku-buku kecil yang berkaitan dengan agama. Buku-buku tipis dan kecil seharga Rp 5.000 per eksemplar bisa disuguhkan kepada tamu. Atau, dan ini yang lebih baik, menulis sendiri buku-buku kecil itu lalu difotokopi dan disebarkan kepada sahabat yang bertamu ke rumah. Isinya boleh apa saja. Boleh tuntunan cara mendidik anak, cara membersihkan motor, mobil, atau informasi tentang objek wisata. Atau berisi proposal bisnis dagang yang bakal dijalankan pasca-Lebaran sekaligus promosinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih bagus lagi adalah buku hasil karya sendiri yang dicetak dan dijual bebas di toko-toko. Bukankah ini bisa dijadikan alat kampanye cinta baca dan cinta buku? Mungkin saja ada yang merasa aneh sehingga tidak mau menerima buku kita. Boleh jadi juga ada yang tak mau bertamu lagi. Juga bisa saja ada yang mencap kita sebagai orang "gila":. Tak apa-apa. Ini biasa pada setiap gerakan pembaruan budaya. Apalagi gerakan yang berkaitan dengan buku memang sulit dan besar penolakan masyarakat terhadapnya. Tapi tak usah menyerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkhayal lagi. Kapankah orang menikmati buku seperti menikmati ketupat dan opor ayam? Kapankah mereka bernafsu besar pada buku seperti halnya bernafsu besar pada ketupat dan opor ayam? Tak usah semua orang, 60% saja warga negara Indonesia memiliki nafsu besar pada buku dan memosisikan buku seperti ketupat-opor pada setiap Lebaran maka masyarakat kita sudah demikian maju, cerdas, kreatif sehingga temuan-temuan baru di berbagai disiplin ilmu terus bertumbuhan. Semoga. *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-116347763424619424?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/116347763424619424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=116347763424619424&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/116347763424619424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/116347763424619424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2006/11/buku-dan-ketupat-lebaran.html' title='Buku dan Ketupat Lebaran'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-116096432035783589</id><published>2006-10-16T08:58:00.000+07:00</published><updated>2006-10-16T09:05:20.380+07:00</updated><title type='text'>Ngakan Putu Putra</title><content type='html'>Minggu pagi, 15 Oktober 2006, saya menyimak acara mimbar Agama Hindhu di TPI. Yang menjadi narasumber adalah Bapak Ngakan Putu Putra. Saya jadi teringat tulisan beliau di &lt;a href="http://www.iloveblue.com"&gt;http://www.iloveblue.com&lt;/a&gt; yang saya kutip untuk buku kedua saya, yaitu &lt;a href="http://gedehace.blogspot.com/2006/04/mencari-allah.html"&gt;Mencari Allah Dari Kuta Bali Ke Salman ITB&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan tersebut sama sekali tidak saya edit, baik secara tatabahasa, tanda baca maupun isinya. Sekali lagi, sebagai sesama orang Bali, juga sebagai sesama manusia, meskipun berbeda agama, atas hikmah yang ditulis dalam artikel tersebut, saya berterimakasih banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini adalah sebagian dari artikel berjudul Engkau adalah Garuda dan Garuda Bukan Bebek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ENGKAU ADALAH GARUDA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Posted by Ngakan Blue on 2004-03-16&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sindrom minoritas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu rapat Panitia Mahasabha VIII sekitar bulan Agustus 2001, ada usulan agar Parisada membuat "Pedoman Istilah/Ungkapan Yang Disebut Baik Secara Sadar Maupun Reflek." Apa maksudnya? Orang-orang Hindu terutama yang hidup di lingkungan Muslim, sering mengucapkan-baik sadar maupun reflek-Insyaalloh, Alhamdulilah, Masyaalloh Astagafirulloh, Ya Alloh, dsb. Ungkapan ini biasanya diucapkan oleh orang Muslim untuk mengekspresikan harapan, terimakasih, permohonan ampun, keheranan/ kekaguman atau kekecewaan. Ungkapan-ungkapan, selain pakaian- khususnya tutup kepala-merupakan salah satu penanda atau ciri identitas agama seseorang. Dengan ungkapan itu, baik yang diucapkan secara sadar maupun reflek, seseorang menunjukan jati dirinya, agama yang dianutnya. Bahkan tingkat kesalehannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Muslim akan memulai sambutannya dengan 'Asalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh'. Seorang Hindu dengan 'Om Swastiastu.' Seorang Kristen dengan 'Salam sejahtera'. Atau sebaliknya seorang yang mulai pidatonya dengan Asalammualaikum adalah seorang Islam, yang memulai dengan 'Om Swastiastu' adalah Hindu, dengan 'Salam sejahtera' adalah Kristen. Anggapan ini memang tidak sepenuhnya benar. Sekarang banyak pejabat pemerintah yang beragama non-Islam mengucapkan Asalamualaikum ketika dia harus membacakan sambutan tertulis dalam upacara resmi yang bersifat kenegaraan. Biasanya, berdasarkan pengamatan saya, ucapan salam ini tidak dijawab oleh kaum Muslim. Konon, mereka tidak wajib menjawab salam Islam ini bila diucapkan oleh orang non-Muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang pejabat asal Bali dalam suatu acara diskusi yang ditayangkan tv memulai sambutannya dengan 'Asalamualaikum' - ia tidak membacakan sambutan terlulis - ada yang bertanya : "Apa agama bapak ini? Apakah ia sudah pindah agama? Ia masih Hindu. Mengapa ia tidak mengucapkan Om Swastiastu?" Sebagai tokoh publik para pejabat itu menjadi panutan bagi umat. Bila mereka mengucapkan salam "Om Swastiastu" dalam acara-acara semacam itu, pasti akan menimbulkan rasa bangga bagi umat Hindu, terutama kaum mudanya. Jadi pertanyaan-pertanyaan semacam itu hendaknya tidak ditafsirkan bermaksud usil atau mencampuri urusan keyakinan seseorang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun usulan untuk membuat pedoman ungkapan itu akhirnya ditolak, ada hal yang menarik yang dapat kita lihat disini. Lebih dari sekedar usulan agar Parisadha menciptakan istilah-istilah sejenis dalam bahasa Sansekerta, sebagai ganti ungkapan-ungkapan dalam bahasa Arab tersebut, usulan di atas sebenarnya mengandung suatu semangat yang lebih dalam. Suatu tuntutan agar orang-orang Hindu tanpa ragu menunjukkan atau menegaskan jati dirinya sebagai orang Hindu di tengah kehidupan bangsa ini yang majemuk secara agama. Ini hal yang positif, pertanda tumbuhnya harga diri sebagai pemeluk Hindu. Tumbuhnya 'religious self esteem' di kalangan umat Hindu. Namun bila keinginan untuk memunculkan identitas diri itu bersifat reaktif, dengan meniru-niru, atau meminjam idiom-idiom orang lain dengan sekedar mengubah bahasa, maka itu jelas menandakan sindrom minoritas yang sedang kehilangan kepercayaan diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Garuda bukan bebek&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Swami Vivekananda pernah menyampaikan cerita tentang anak garuda yang dibesarkan oleh bebek. Anak garuda ini hidup di lingkungan bebek, berenang seperti bebek, makan seperti bebek, dan suaranya juga seperti bebek. Ia tidak bisa terbang seperti garuda. Suatu hari seekor garuda tua melihat garuda muda berenang di sawah dan bermain dengan bebek-bebek lain. Garuda tua merasa heran dan kasihan. Garuda tua mengajak garuda muda ini untuk terbang ke langit tinggi. Garuda muda mengatakan ia tidak bisa terbang, ia hanya bisa berenang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garuda tua berkata : "Kamu adalah seekor garuda. Kamu bukan bebek!" Garuda muda menjawab: "Saya bukan garuda seperti tuan. Saya hanya seekor bebek. Bebek pekelem." Garuda tua berkata: "Sekarang lihat wajahku. Kemudian lihat wajahmu di air. Kamu sama dengan aku!" Garuda muda mengikuti perintah itu: ia menatap garuda tua lalu memandang bayangannya dalam air, dan ia tahu: "Aku adalah seekor garuda. Bukan seekor bebek seperti yang kukira selama ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menyadari jati dirinya yang sebenarnya, ia mulai belajar terbang dan tak berapa lama ia telah mampu terbang tinggi di angkasa. Karena ia memang seekor garuda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Hindu disebut 'sanatana dharma' kebenaran yang abadi. Sebagai demikian, para pemeluknya tidak pantas meniru-niru konsep atau ajaran agama lain. Agama Hindu memiliki konsep, ajaran yang luas dan dalam. Sebagai agama tertua yang masih hidup, ia tidak mungkin meniru agama yang lahir belakangan. Kalau agama Hindu tidak memiliki jati diri yang jelas, tapi hanya sekedar meniru dari sana sini, tidak mungkin ia bisa hidup terus sampai sekarang. Secara logika agama yang lebih muda yang meniru agama yang lebih tua. Tapi ajaran-ajaran Hindu seperti harta karun yang terpendam dalam tanah, yang belum di gali. Karena itu galilah! Maka engkau akan tahu: Engkau adalah garuda! Bukan bebek!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-116096432035783589?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/116096432035783589/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=116096432035783589&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/116096432035783589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/116096432035783589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2006/10/ngakan-putu-putra.html' title='Ngakan Putu Putra'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-115986167078656073</id><published>2006-10-03T14:44:00.000+07:00</published><updated>2006-10-03T14:47:50.800+07:00</updated><title type='text'>Parlindungan Marpaung</title><content type='html'>Sabtu, 30 September 2006, Universitas Kebangsaan Bandung menggelar kuliah umum. Acara yang berlangsung di aula UK tersebut menghadirkan Parlindungan Marpaung, biasa disapa Pak Parlin, penulis buku Setengah Isi Setengah Kosong (Half Full – Half Empty). Sebelum ini saya sudah lumayan tahu isi ceramahnya di radio K-Lite FM Bandung. Dalam acara Smart Inspiring di radio itu, Pak Parlin selalu mengutarakan kisah-kisah penggugah hati. Inilah yang membuat saya tertarik dan ingin mengundangnya ke UK. Lantas terkemaslah acara yang berlangsung selama dua jam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dengan paparan tentang aktivitas kesehariannya, termasuk pengakuan pihak Maximum Impact. Inc., yaitu John C. Maxwell, pria kelahiran Jambi ini lantas memutar film. Lewat Infocus yang disediakan UK dan dari laptop yang dibawanya muncullah film tentang perkembangan teknologi yang begitu cepat berubah. Suatu saat, tutur alumnus Psikologi Universitas Padjadjaran ini, kuliah tidak lagi memerlukan ruang-ruang seperti sekarang. Tak perlu lagi tatap muka. Gaya kuliah Universitas Terbuka (UT), ujarnya lagi, akan kian berkembang. Komputer pun bahkan hanya berupa pena-pena yang bisa dihubungkan satu sama lain. Semuanya serba praktis dan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rentetan kuliahnya, ada satu hal yang menarik. Nanti, dan mungkin sekarang sudah terjadi, orang tidak lagi melihat seseorang itu lulusan sekolah apa. Orang tak bakal lagi bertanya tentang asal-usul universitasnya. Yang lebih dipentingkan adalah kualitas emosinya, khususnya sikap (attitude) dan ini bisa mencapai 50% dari total penilaian. Penguasaan ilmu yang berhulu pada IQ: kecerdasan akademis atau intelektual tak lebih dari 10%. Adapun sikap bersumber pada emotional quotient, EQ. Dengan lain kata, semua orang bisa sukses kalau ia mengelola kecerdasan intelektual dan emosinya dengan baik, terlepas dari apapun agama yang dianutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukses memang bukan monopoli kaum beragama. Orang ateis pun bisa sukses dan maju bisnisnya, banyak perusahaannya. Hanya saja dimensi sukses tersebut termasuk dimensi sukses poin pertama, yaitu sukses di dunia. Tak seorang pun bisa memungkiri betapa orang-orang komunis tetap saja bisa maju dan kuat negaranya. Untuk kesuksesan materi ini, Sang Mahaesa memang tak pilih kasih. Sebagai Pencipta dunia dan isinya, Ia berikan semua jenis kenikmatan kepada pemburu dunia. Inilah yang saya dengar dari Pak Quraish Shihab, penulis tafsir Al Mishbah. Kenapa demikian? Kata penulis Lentera Hati ini, al-Khalik memiliki sifat Rahman (Pengasih), yaitu sifat yang ditebarkan untuk semua manusia. Adapun ar-Rahiim (Penyayang) hanya diperuntukkan bagi kaum muslim. (Dua kata ini ada dalam basmallah: Bismillaahir Rahmaanir Rahiim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sependapat, sukses paripurna ialah sukses dunia-akhirat. Raihlah sukses dunia dengan materi halal, berasal dari pekerjaan halal, lalu gunakan (belanjakan) untuk sesuatu yang juga halal. Setelah itu, panenlah hasilnya nanti di alam baka, alam akhirat, sebuah alam yang tak seorang manusia pun tahu di mana lokasinya. Mendengar kuliah Pak Parlin itu saya lantas teringat pada konsep saleh ritual dan saleh sosial. Orang yang betul-betul saleh secara ritual, hakikatnya ia saleh sosial juga. Kenapa faktanya berbeda? Banyak orang yang rajin salat, rajin ke masjid, rajin saum Senin-Kamis tapi moralnya berada di telapak kakinya, masih kuat dikuasai oleh nafsu serakahnya, nafsu kehewanannya. Ia hanya baru melaksanakan salat lewat gerak badannya, tetapi tidak memahami makna salat atau substansinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya, usahlah heran melihat orang yang rajin bolak-balik umroh-haji, rajin i’tikaf di masjid tetapi curang ketika dagang, ketika menjadi bendahara, atau ketika diamanahi memegang uang projek. Tindak KKN selalu menggayut di pundaknya dan hidupnya mirip bunglon, berganti-ganti peran dari hari ke hari. Malah tak henti-hentinya ia menyakiti orang lain karena ingin berkuasa demi harta dan jabatan. Semua yang dilakukannya semata-mata demi jabatan yang didambakannya, misalnya menjadi kepala dinas di pemerintah daerah, menjadi direktur di BUMN atau BUMD, menjadi rektor di universitas, menjadi menteri, anggota DPR-DPRD, menjadi ketua partai, menjadi ketua ormas dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, jika dianalisis dari sisi keislaman, paparan trainer di PT KAI ini sungguh islami. Peran kerja keras dan jujur sangat dikedepankan dan manusia dinilai dari manfaatnya buat orang lain. Nilai-nilai inilah yang sesungguhnya diajarkan oleh semua agama di dunia. Tentu boleh-boleh saja orang per orang meninjaunya dari sudut pandang agamanya, dikaji dari kitab suci dan ajaran nabinya masing-masing. Boleh-boleh saja, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian dan trims buat Pak Parlin yang telah membagikan ilmunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parijs van Java, der bloem der indes bergsteiden.&lt;br /&gt;Bandung, bunganya kota pegunungan di nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-115986167078656073?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/115986167078656073/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=115986167078656073&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115986167078656073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115986167078656073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2006/10/parlindungan-marpaung.html' title='Parlindungan Marpaung'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-115907790252269281</id><published>2006-09-24T13:00:00.000+07:00</published><updated>2007-10-11T10:33:59.293+07:00</updated><title type='text'>Pengalaman Puasa di Bali</title><content type='html'>Bali identik dengan Hindhu? Identik dengan pura? Betul. Tak kurang dari 97% orang Bali memeluk agama Hindhu atau Hindhu Dharma. Sisanya penganut selain Hindhu, salah satunya ialah penganut Islam. Jumlah muslimin di pulau endemik Jalak Putih ini nomor dua setelah umat Hindhu. Hanya saja rentang jumlahnya sangat lebar. Timpang sekali. Kaum muslimin sejak dulu sampai sekarang termasuk minoritas. Umat agama lain malah superminoritas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran minoritas itulah kaum muslim memperoleh berkah berupa tantangan berat saat puasa. Ketika orang-orang makan-minum, toko dan pasar buka 18 jam, kaum muslim mesti menahan diri agar puasanya tidak batal. Muslimin yang bekerja di pemda atau di perusahaan otobis dan kereta api (bagian penjualan tiket di Denpasar) lebih berat lagi. Mereka tetap harus masuk pagi dan pulang sore seperti hari biasa, mulai awal sampai akhir puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya ujian makan-minum, yang lebih berat lagi datang dari turis. Di mana saja, apalagi di objek wisata, selalu saja ada bule berbaju seronok, terbuka lebar. Beredar pula majalah cabul dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Sekelebat pikiran kotor akibat tatapan mata muncul di hati. Belum lagi kafe dan diskotik yang buka siang malam, tak hanya di wisata pantai tapi juga di gunung dan bukit, di "pasak" tengah Pulau Bali. Di antara 5S: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sun&lt;/span&gt;, mandi mentari; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sand&lt;/span&gt;, pasir-jemur; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;song&lt;/span&gt;, lagu diskotik, kafe; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;show&lt;/span&gt;, musik panggung; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sex, samen-leven,&lt;/span&gt; seks bebas, tiada satu jalan pun yang bebas dari desah dekap aroma porno-cabul (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;porcab&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Unik dan berat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pada awal puasa? Ini keunikannya. Di Bali, terutama di Bali Barat, sebab di Bali Timur relatif sedikit kaum muslimnya, awal Ramadhan seperti ada tetapi tiada. Peramainya hanyalah anak-anak di Kampung Jawa. Didampingi pengurus DKM, anak-anak itu naik mobil pikep (pick up) keliling kota mulai Maghrib sampai lepas Isya membawa pengeras suara, memukul bedug-kentongan sebagai ucapan marhaban ya Ramadhan. Dibandingkan dengan jumlah orang dan jumlah mobil yang melintas di jalan raya, jumlah anak-anak ini sangat sedikit sehingga nyaris tanpa perhatian. Orang-orang hanya melihat selintas, berpaling sekilas, berkomentar atau bergumam sekejap lalu kembali ke kegiatannya. Yang dagang kembali melayani pembeli, yang berjalan-jalan terus mengayun langkahnya, yang ngobrol asyik ngobrol lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti di Bandung atau di Jawa Barat umumnya, di Bali tidak ada libur bagi pegawai pada hari pertama puasa. Malah tak sedikit orang Bali yang tidak tahu bahwa hari itu adalah awal puasa atau bahkan tidak tahu ada yang namanya bulan Ramadhan atau bulan puasa. Libur panjang di Bali hanya terjadi pada hari Galungan dan Kuningan. Liburnya dua minggu dan terjadi dua kali setahun. Ramainya bukan main. Semua pura di Bali menjadi ajang persembahyangan. Semarak. Turis-turis pun banyak yang datang pada hari-hari itu karena sudah diprogramkan oleh biro wisatanya. Pegiat wisata sengaja menjual momen itu ke luar negeri, terutama ke Jepang dan Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa sekolah tidak libur? Sederhana jawabnya. Tak ada murid muslimnya. Kalaupun ada, paling-paling satu dua orang saja dan berasal dari satu keluarga, kakak beradik. Umat agama lain juga begitu, hanya satu dua orang saja. Otomatis banyak sekolah yang siswanya homogen, 100% pemeluk Hindhu, dari SD sampai SMA. Bahkan di sejumlah jurusan di Universitas Udayana, juga dulu di APK-TS (Akademi Penilik Kesehatan-Teknologi Sanitasi) di Denpasar 99% menganut Hindhu. Terlebih lagi di perguruan tinggi swastanya (PTS), baik yang berada di ibukota kabupaten maupun di Denpasar, bisa bulat 100% orang Hindhu yang asli Bali. Ada memang satu dua orang Hindhu yang berasal dari Lampung, Kalimantan, atau Sulawesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Sekolah di Bali kebanyakan diisi oleh umat Hindhu sehingga wajarlah di setiap sekolah dilengkapi pura. Tak ada sekolah yang dilengkapi masjid, apalagi gereja atau vihara. Di mana murid muslim harus shalat Jumat? Inilah repotnya. Dia harus ke masjid yang boleh jadi 1 - 2 km dari sekolahnya, jauh dari rumahnya, bahkan 30 km dari rumahnya. Mungkin juga terpaksa tidak shalat karena selain masjidnya jauh juga tidak ada waktu kosong karena harus tetap belajar di kelas. Sebab, karena kondisinya, pada Jumat pun pelajaran tetap berlangsung seperti hari-hari lainnya, melewati adzan Dzuhur. Inilah tantangan berat bagi murid muslim. Tak mengherankan ada yang berbulan-bulan tidak shalat Jumat atau hanya sesekali saja, bisa dihitung dengan jari tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kembali ke soal puasa. Sepi, kata sastrawan, seperti tragedi. "Tragedi sepi" itu berulang lagi saat malam takbir (takbiran). Senyap betul. Apalagi ada muslimin dan keluarganya yang sudah mudik ke asalnya di Banyuwangi, Jember, atau Bondowoso seminggu sebelum takbiran. Yang dari Madura juga pulang kampung. Dari Tasik dan Garut juga sama. Alih-alih tambah ramai, yang terjadi justru makin sepi. Yang ramai hanya di masjid. Yang jauh dari masjid merasa malam itu seolah-olah bukan malam takbiran karena gema takbirnya tak terdengar, persis sama dengan malam-malam lainnya. Ini berbeda dengan di Bandung. Saya sempat terpana, terheran-heran dibuatnya. Gema takbirnya bersahut-sahutan, berlomba-lomba bahkan di satu RW pun gemanya bisa berasal dari lima masjid! Besar sekali peluang orang Bandung menjadi saleh, pikir saya waktu kali pertama meginjakkan kaki di Dago Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa saja peramai malam takbir itu? Orangnya itu-itu lagi. Anak-anak yang pada awal puasa telah keliling kota mengabarkan kedatangan bulan suci itu lagi-lagi diberi mandat untuk melantunkan takbir, tahmid, dan tahlil. Sebab, tak ada orang lagi selain mereka. Ditemani "jajanan pasar" dan penganan lainnya, juga teh manis yang disediakan DKM, sambil bersarung bersenda gurau sesekali, mereka bertugas hingga pukul sepuluh malam. Baru setelah itu pengurus DKM mengambil alih hingga Subuh. Sesekali para pemuda setingkat SMA atau yang sudah lulus atau yang menjadi mahasiswa ikut begadang. Mereka ikut membantu penyebaran zakat fitrah. Tapi uniknya, pembayar zakat (muzaki) malah dikirimi zakat fitrah. Seolah-olah terjadi tukar-tukaran beras. Dulu saya merasa dan mengganggap biasa-biasa saja bahkan merasa itulah ajaran Islam. Tapi sekarang anggapan saya sudah berubah dan yakin bahwa tindakan itu salah. Sulitkah mencari mustahik di Bali? Atau, mayoritas kaum muslimnya sudah muzaki? Ini tentu peluang bagus bagi organisasi pengumpul dan penyalur dana umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, pagi-pagi hari Idulfitri suasananya lebih ramai. Bapak-ibu, kakek-nenek, kakak-adik, besar-kecil, tua-muda bergegas menuju lapangan. Sebagai khatib biasanya bupati setempat kalau beragama Islam. (Tapi sekarang, dalam masa pilkada ini, sangat tipis peluang umat Islam menjadi bupati, gubernur dll di Bali. Sebab, suara umat Islam sangat sedikit, kalah jauh dibandingkan dengan partai usungan mayoritas orang Bali). Kapolres juga, jika muslim, sesekali menjadi khatib atau pegawai kantor Departemen Agama yang juga diminta mengajar pelajaran agama di sekolah. Imamnya ketua DKM atau yang dituakan dan fasih membaca Qur’an. Usai shalat, antarteman, antarkolega, antarsaudara langsung salam-salaman, maaf-maafan, tetapi hanya sebentar. Ini berbeda dengan di Jawa Barat yang butuh waktu belasan menit untuk sekadar salam-salaman usai shalat. Setelah ziarah ke makam dan mencabuti rumput di sekitar nisan sanak familinya mereka langsung pulang lalu meracik orson (sirup) dan makan opor ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, siang harinya ada tetangga orang Hindhu yang berkunjung. Teman-teman dan kolega kantor orang tua berdatangan. Sambil ngobrol mereka dijamu kue kaleng, kue buatan sendiri seperti bolu, kuping gajah, kue bawang, kacang kapri dan minuman. Ada kalanya diajak mencicipi sayur dan opor yang dimasak khusus untuk lebaran. Seperti kaum muslim, orang Hindhu pun ketika datang seraya mengucapkan assalaamu’alaikum dan minal aidin wal faidzin. Banyak yang fasih melafalkannya. Yang empunya rumah serta merta menjawab wa’alaikumsalaam tanpa rasa “bersalah”. Sebab, masih banyak yang belum tahu bahwa menjawab salam dari orang nonmuslim harus dengan alaikum saja. Ini terjadi lantaran keterbatasan ilmunya dan tidak (belum) ada ustadz yang mendakwahkan cara-cara menjawab salam seperti itu. Sekarang pun begitu. Adakah ustadz yang hendak ke Bali, menyemai dakwah di sana agar hadir muslim intelek, bukan yang tradisional dan sekadar ikut-ikutan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun banyak yang fasih bersalam seperti itu, setahu saya belum ada orang Hindhu yang mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum. Mereka belum tahu bahwa inilah ucapan yang lebih tepat dibandingkan dengan minal aidin. Atau, ucapan ini dianggap terlampau panjang dan terasa ngarab (berbau Arab). Jangankan orang Hindhu, kaum muslim pun banyak yang tidak tahu bahwa itulah ucapan yang tepat. Di Jawa Barat pun lebih banyak yang mengucapkan minal aidin wal faidzin mohon maaf lahir batin lantaran terasa indah dan berpantun. Di desa-desanya malah lebih banyak ucapan dalam bahasa Sunda. Di koran-koran juga begitu, kebanyakan ucapan minal aidin yang muncul. Di kartu lebaran, setali tiga uang, sama saja. Hanya satu-dua koran, majalah, tabloid yang menambahinya dengan kalimat taqabbalallahu minna wa minkum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Toleransi?!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sambutan umat Hindhu? Seperti umumnya orang Hindhu, mereka toleran dan tak terlalu “nakal” pada agama orang lain. Mungkin ada yang tidak percaya dan berkata bahwa saya subjektif. Jujur saya katakan, ini objektif. Dalam ajaran Hindhu ada asas Tat wam Asi: kamu adalah aku dan aku adalah kamu. Asas ini sudah lebur di dalam raga-jiwa orang Hindhu di Bali. Mereka tak mau iseng apalagi jahil terhadap agama anutan orang lain. Mereka tak hendak berperkara dalam urusan kepercayaan kepada Tuhan. Pada soal agama toleransinya begitu tinggi dan terkesan tak suka diajak diskusi dalam hal ini. Tak satu kasus pun muncul masif ke permukaan lantaran konflik antaragama. Inilah salah satu sebab keamanan di Bali menjadi kondusif sebelum peristiwa bom Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah wujud "toleransi" itu (jika hal tersebut bisa dianggap toleransi oleh kaum muslim) hanya terjadi dengan orang Hindhu saja? Ternyata tidak. Umat Kristen pun ada yang datang. Seperti orang Hindhu, orang Kristen ini pun mengucapkan salam lalu oleh empunya rumah dijawab lengkap. Mereka ingin ikut bahagia tanpa maksud dan tujuan politik, dakwah, apalagi rebutan (calon) umat. Mereka hanyalah kalangan biasa, tidak termasuk kelompok ekstrem kanan-kiri atau misionaris. Mereka tunaikan itu sebagai bagian dari keguyuban saja, ingin lebih dalam memaknai paguyuban manusia dengan cara melepaskan label suku, agama, ras, dan antargolongan. Begitulah prinsip yang mereka anut dan diyakini sebagai kebenaran (dari sudut pandang agamanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, jika tilikan itu diarahkan ke sisi akidah, fenomena budaya tersebut dapat saja menjadi "bumerang" bagi kaum muslim. Menjadi buah simalakama. Ucap-jawab dan uluk salam bagi kaum muslim termasuk ranah ritual sehingga konsekuensi logisnya pun masuk ke bab ibadah, khususnya akidah. Salam adalah doa, doa adalah ibadah. Ibadah berkaitan dengan yang disembah dan yang disembah adalah Tuhan. Dalam Islam, Tuhannya adalah Allah Yang Esa, Tak Berbapak, Tak Beribu, Tak beranak. Tak ada Tuhan selain Dia. Tetapi jika tidak dijawab, keguyuban itu bisa terusik. Bisa dianggap sombong, "fanatik", dan tak bersahabat. Sulit, memang. Maka, jawaban &lt;span style="font-style: italic;"&gt;alaikum&lt;/span&gt; menjadi resep mujarab penjaga akidah sekaligus menjaga paguyuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, terlepas dari lingkup akidah itu, tampak nilai-nilai toleransi begitu tinggi diusung orang Bali dan orang-orang luar yang lama tinggal di Bali. Mereka memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi karena mampu memaknai ajaran dan ritus agamanya dalam hidupnya, juga tinggi kecerdasan emosinya karena mampu peduli dan toleran terhadap umat lain. Hal demikian jauh lebih bermakna daripada orang-orang yang bolak-balik haji-umroh, saum Senin-Kamis plus Ramadhan tetapi hakikatnya tidak muncul dalam hidup kesehariannya, apalagi masih terus korupsi-manipulasi, bermain politik uang demi jabatan dan kenaikan pangkatnya, tidak bertanggung jawab atas kewajibannya sebagai pegawai alias meninggalkan tugas atau desersi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, semoga puasa Ramadhan ini mampu menyalehkan kita secara ritual dan terlebih lagi secara sosial. Demikian dan saya mohon maaf atas kesalahan ucap dan tulis saya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wassalaamu’alaikum&lt;/span&gt;.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana, penulis buku Mencari Allah, Dari Kuta Bali Ke Salman ITB.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-115907790252269281?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115907790252269281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115907790252269281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2006/09/pengalaman-puasa-di-bali.html' title='Pengalaman Puasa di Bali'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-115664738907262743</id><published>2006-08-27T09:54:00.000+07:00</published><updated>2006-08-27T09:56:29.090+07:00</updated><title type='text'>Refleksi Proklamasi, Dicari Pemimpin Sejati</title><content type='html'>Sudah 61 tahun usia proklamasi kita. Adakah rasa merdeka hadir di hati? Dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura, kondisi kita jauh tertinggal. Meskipun usia kemerdekaan mereka lebih muda daripada Indonesia, apalagi “hanya” berupa hadiah dari penjajahnya, ternyata mereka berada di depan, khususnya dalam pendidikan dan ekonomi. Apa sebabnya demikian? Peran pemimpinlah yang mengubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan pejabat&lt;br /&gt;Dalam lingkup sempit, setiap diri adalah pemimpin. Andaikata seseorang tidak mampu memimpin dirinya, pasti tak mampu pula memimpin orang lain. Yang bisa dilakukannya hanyalah menjadi pejabat dan menyuruh-nyuruh ajudan, staf dan bawahannya. Semua orang yang disuruhnya, rela tak rela, suka tak suka, akan melaksanakan perintahnya selama dia menjabat. Setelah pensiun atau pindah jabatan, perintahnya tak lagi dituruti, sebab pejabatnya telah berganti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa demikian? Pejabat adalah orang yang diserahi tanggung jawab mengelola suatu fungsi tugas dalam organisasi. Ia diangkat untuk membantu atasannya dalam melaksanakan kewajiban dan biasanya berkaitan dengan tugas-tugas negara atau perusahaan. Seorang pejabat tak perlu mendapat persetujuan hati nurani masyarakat. Jangankan persetujuan masyarakat, persetujuan bawahan atau rekan kerjanya saja tak perlu. Kalau atasannya sudah memilihnya, dia akan segera menjadi pejabat dalam kurun tertentu di lingkup keahliannya dan mendapatkan bayaran atas tugasnya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayaran berupa tunjangan jabatan dan akses ke setiap projek itulah yang begitu menarik sehingga berduyun-duyunlah orang hendak menjadi pejabat di suatu institusi. Parahnya lagi, di setiap institusi itu kerapkali terjadi persaingan ketat yang tak sehat. Kian sulit lagi kalau terjadi pembangkangan, grup-grupan dan intrik-intrikan. Bisa terjadi, ketika satu orang dari grup tertentu menjadi pejabat, semua jabatan di bawahnya dipegang oleh orang dalam kelompok itu. Terjadilah mutasi besar-besaran. Program pun segera diganti, tidak mau meneruskan program pejabat sebelumnya karena tak hendak lawannya itu menjadi populer dan dianggap berjasa sebagai pemilik ide program tersebut. Seringlah terjadi gonta-ganti program kerja dan tak peduli pada dana yang telah keluar dan menjadi mubazir, sekadar pemutar roda ekonomi di antara mereka yang terlibat dalam projek tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah terjadi berkali-kali, bongkar pasang pejabat dan jabatan dalam arah horisontal dan vertikal. Kesan egosentris, cinta diri dan kelompok yang berlebihan begitu menonjol dan kantor menjelma menjadi ladang uang untuk diri dan grupnya. Mentalnya berubah menjadi pangreh praja yang kental sehingga sulit dicairkan agar mudah beradaptasi dengan lingkungan. Ia selalu minta dilayani, tak hanya oleh ajudan, staf, dan bawahannya, tetapi juga oleh masyarakat, bahkan oleh orang-orang yang justru memilihnya ketika pemilu. Yang paling sederhana saja, seperti baju, tas, jas, sepatu, dan sandal minta dibawakan dan bangga berperilaku demikian seolah-olah hidup kesehariannya laksana upacara tujuh belasan yang sarat dengan ajudan dan tatakrama upacara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi anehnya, orang-orang yang berposisi sebagai ajudan, sopir, pembantu, atau bawahan pejabat tersebut malah bangga dan senang berposisi demikian. Apalagi kalau pejabatnya itu begitu mudah mengeluarkan uang, pastilah akan lebih disukai lagi dan segala titahnya dilaksanakan. Namun demikian, ketaatan seperti itu hanya semu belaka dan segera sirna ketika sudah tidak menjabat lagi atau dimutasi. Muncullah fenomena post power syndrome, sindrom pascakuasa, sampai-sampai ada yang tak mau lagi ke luar rumah bergaul dengan tetangga dan sejawatnya dan hidup terasing dalam keramaian. Yang paling menyedihkan adalah ketika mantan pejabat itu harus menghitung hari di balik jeruji besi lantaran kasus korupsinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wanted&lt;/span&gt;: pemimpin sejati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pejabat berkarakter bagaimana yang dibutuhkan Indonesia? Yang dibutuhkan adalah pejabat yang berkarakter pemimpin. Pejabat belum tentu pemimpin! Pemimpin pun memang belum tentu seorang pejabat. Di Indonesia banyak ada pejabat, mulai dari tingkat kelurahan (desa), kecamatan, sampai ke tingkat pusat. Di setiap departemen-dinas, di setiap lembaga dan badan pun ada banyak pejabat tetapi belum pasti diakui sebagai pemimpin. Pemimpin adalah orang yang merasa terpanggil memimpin sekelompok orang dan orang-orang itu pun merasakan dan mengakuinya sebagai pemimpin. Ada pelibatan rasa di sini. Tanpa interaksi kedua rasa itu takkan ada kepemimpinan dan malah bertepuk sebelah tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya, pemimpin bisa muncul di mana saja dan kapan saja. Ia tidak dibatasi ruang dan waktu. Berbeda dengan pejabat yang harus patuh pada ruang, yaitu tempatnya berkerja dan waktunya terbatas, misalnya empat atau lima tahun. Seorang pemimpin pun tak harus bertitel sarjana, magister, doktor apalagi profesor. Yang titelnya berjejer banyak pula yang tak mampu memimpin, bahkan tak sanggup memimpin dirinya sehingga berpredikat koruptor. Orang jenius pun tidak sertamerta atau otomatis diterima oleh sekelompok orang sebagai pemimpinnya karena kepemimpinan tidak berada di wilayah intelektual atau kecerdasan (apalagi sekadar deretan gelar palsu atau minimal tak bermutu karena diperoleh dengan uang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dicari kini adalah pemimpin sejati, yaitu orang-orang yang orientasinya melayani orang lain. Hati nuraninya menyetir fisiknya untuk mengabdi dan mengerjakan tugasnya sebagai tanggung jawab kepada masyarakat. Pada taraf yang lebih tinggi lagi, pemimpin selalu berorientasi pada makna transenden, selalu mengaitkan tugasnya dengan makna ketuhanan. Dia memimpin demi ibadahnya dan mendambakan pahala-Nya. Itu sebabnya, orang yang berpredikat pemimpin sangat tidak mungkin berdusta, tidak berbuat nista, dan tak mungkin korupsi. Yang sering terjadi justru harta halalnya dibagi-bagikan kepada orang-orang yang sulit ekonominya, misalnya untuk biaya SPP dan beli buku. Buat diri dan keluarganya, dia hanya mengambil secukupnya agar bisa hidup sehat, bisa berpikir jernih, kuat belajar dan mengajarkan ilmunya kepada orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara perbedaannya yang tajam itu, ada satu yang sama, yaitu pemimpin dan pejabat harus bertanggung jawab atas tugasnya. Baik gajinya besar, kecil, atau bahkan tak digaji pun, maka amanatnya tetap harus ditunaikan. Andaikata tak mau lagi memikul amanat itu selayaknyalah dikembalikan kepada pemberi amanat agar orang lain yang bersedia memikulnya mendapat kesempatan berbuat kebajikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai refleksi proklamasi, akankah kita terus berlomba meraih jabatan sambil sikut kanan-kiri, sogok-sogokan dan intrik-intrikan? Akankah kita menyia-nyiakan nasib orang banyak yang berada di bawah jabatan kita, bertingkah acuh tak acuh karena menganggap mereka tak lebih daripada cacing tanah yang bisa diinjak dan dipermainkan nasibnya? Akankah kita bermain sinetron bermuka manis pada setiap menjelang pemilu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang merdeka adalah orang yang memerdekakan orang lain. Orang merdeka adalah orang yang mampu membebaskan orang lain dan mau melayaninya. Menjadi “pelayan”! Dalam lingkup inilah orang merdeka akan mampu menjadi pejabat sekaligus pemimpin. Menjadi pejabat yang juga pemimpin. Wanted: pemimpin sejati! *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-115664738907262743?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/115664738907262743/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=115664738907262743&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115664738907262743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115664738907262743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2006/08/refleksi-proklamasi-dicari-pemimpin.html' title='Refleksi Proklamasi, Dicari Pemimpin Sejati'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-115518259882994733</id><published>2006-08-10T11:00:00.000+07:00</published><updated>2006-08-10T11:03:18.850+07:00</updated><title type='text'>Palestina Menanti Titik Balik</title><content type='html'>Pekan lalu beredar SMS yang mengajak kaum muslim membaca surat al Fath, yaitu surat ke-49 ayat 27, 28, dan 29. Mengandung arti kemenangan, surat yang berisi kisah mimpi Nabi Muhammad ini dijadikan motto dalam setiap pelatihan di masjid-masjid kampus, termasuk di masjid Salman ITB. Ketiga ayat yang berkisah tentang perjanjian Hudaybiah itu memang merugikan kaum muslimin jika tilikan berpikir kita semata-mata logika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana peristiwa Hudaybiah dan titik baliknya? Awalnya adalah mimpi Nabi Muhammad pada tahun 6 Hijriah, yakni beliau memasuki Masjid Haram dengan mencukur rambut dan memotong hewan kurban dalam keadaan aman. Bagi kita, mimpi hanyalah mimpi dan sering disebut bunga tidur. Tapi tidak demikian dengan mimpi seorang nabi. Kali ini mimpinya mengisyaratkan bahwa kaum muslimin akan memasuki kota Mekkah pada musim haji dengan selamat tanpa risiko berarti. Apalagi kaum muslim dari kelompok muhajirin sudah rindu pada tanah kelahirannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Rasulullah menceritakan ihwal mimpinya itu, berangkatlah sekitar 1.500 orang dilengkapi 70 ekor hewan kurban untuk beribadah haji. Setibanya di daerah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tsanijjatul Mirar,&lt;/span&gt; sebuah lembah di Hudaybiah, unta yang dikendarai Muhammad tiba-tiba berhenti. Unta bernama al Qushwa itu tak jua mau berdiri walaupun berbagai cara ditempuh nabi dan sahabatnya. Karena untanya bergeming saja, akhirnya mereka istirahat di daerah tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah relevansi spirit al Fath ayat 27, 28, dan 29 itu dengan kondisi Palestina dan Libanon saat ini? Sekarang memang Hamas dan Hizbullah, terutama oleh media barat, selalu dikatakan terpojok akibat bombardir Zionis. Penduduk Libanon selatan dan Palestina banyak yang meninggal. Namun faktanya, serangan balik dari kedua partai itu tetap gencar dan menewaskan sejumlah tentara Israel. Dalam bahasa Bali, ada peribahasa seperti ini: kalah malu menang duri. Artinya, kalah dulu menang kemudia. Hal ini persis seperti kisah al Fath tersebut. Kemenangan akan berpihak kepada kaum muslim. Allah menjanjikan kemenangan bagi kaum muslim setelah sekian lama dalam posisi kalah. Isi perjanjian Hudaybiah memang memojokkan kaum muslimin seperti halnya semua resolusi yang dibuat PBB selalu saja menyudutkan Hamas dan Hizbullah. Wajarlah Libanon, lewat pernyataan Siniora, mengecam resolusi itu. Apalagi tak ada satu patah kata pun tentang penarikan tentara dan mesin perang Israel dari Libanon Selatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendeknya, dan dengan yakin, lewat spirit tiga ayat tersebut maka kaum muslim yang tergabung dalam partai Hamas dan Hizbullah akan menang dalam waktu dekat. Syaratnya memang ada, dan ini harus dipenuhi, yaitu kaum muslim harus menguatkan imannya dan menolak kekafiran dalam semua ujudnya. Jika kekafiran saja ditolak maka kemusyrikan sudah pasti dibuang jauh-jauh. Kaum muslim jangan percaya pada takhyul terutama ketika terjadi bencana. Yang kedua, kaum muslim harus merasa seperti satu tubuh. Saling mengasihi antarmuslim dan mendukung atau mendoakan perjuangan kaum muslim di Timur Tengah dan belahan dunia lainnya. Ikatan persaudaraan ini masih rapuh sehingga mudah diputus oleh orang-orang yang membenci Islam dan muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat tersebut pun dicatat bahwa karakter kesalehan kaum muslim sudah tercatat di dalam Taurat dan juga Injil dengan analogi kekuatan pohon yang akarnya dalam menghujam tanah. Topan dan badai pun tak mampu menggoyahkannya. Pohonnya rindang dan dijadikan tempat bernaung. Buahnya bisa dimakan dan menyegarkan. Juga dapat menahan air yang sangat diperlukan dalam kehidupan, mencegah longsor dan mengatur cuaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat analogi pohon itulah akan muncul kekuatan kaum muslim, tak tergoyangkan oleh topan badai sekalipun. Dan kini, kaum muslim di Palestina khususnya Hamas dan di Libanon khususnya Hizbullah akan meraih kemenangan. Percayakah Anda? Jika tidak percaya, ini wajar-wajar saja. Hal ini persis sama dengan kejadian semasa perjanjian Hudaybiah. Sangat tidak masuk akal bahwa isi perjanjian tersebut justru menguntungkan kaum muslimin. Dan hal serupa itu bakal muncul tak lama lagi.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-115518259882994733?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/115518259882994733/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=115518259882994733&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115518259882994733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115518259882994733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2006/08/palestina-menanti-titik-balik.html' title='Palestina Menanti Titik Balik'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-115460647922800829</id><published>2006-08-03T18:55:00.000+07:00</published><updated>2006-08-03T19:01:19.246+07:00</updated><title type='text'>Palestina dan Hak Veto</title><content type='html'>Sejauh ini, Palestina selalu dirugikan oleh pemegang Hak Veto di Dewan Keamanan PBB, terutama oleh Amerika Serikat. Negara yang disetir Yahudi ini bagai ular berkepala dua dan selalu munafik. Demokrasi yang dielu-elukannya adalah demorasi yang crazy sehingga gila pula para pejabatnya. Lagi pula, AS begitu gentar melihat keberanian kaum muslim dalam bom-bom syahidnya sehingga mereka berupaya membunuhi anak-anak dan wanita pelahir anak-anak. Peristiwa Dusun Qana di Libanon Selatan adalah contoh nyata perikeiblisan Israel dan AS. Bom pembasmi yang berasal dari AS itu digunakan oleh Israel secara membabi buta sehingga tewaslah tak kurang dari 60 orang yang mayoritas wanita dan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa pernah terjadi pada peristiwa Shabra-Satila. Ribuan wanita dan anak-anak tewas terpanggang panasnya bom. Memang, sejumlah negara mengutuk pemboman itu, tapi sekadar mengutuk saja. Atau, boleh jadi mereka pura-pura mengutuk untuk menabiri senyum gembiranya melihat kehancuran kaum muslim. Lembaga dunia yang bertujuan mengamankan dunia dari mala petaka buatan manusia semacam perang, sesuai semangat Liga Bangsa-Bangsa pada awalnya dulu, hanyalah macan ompong. Justru mereka gentar dan takut berat terhadap gerak-kembang Islam sehingga diam saja. Jangankan PBB yang notabene adalah AS dan Israel yang memang islamofobi, negara-negara anggota OKI saja bergeming (tidak bergerak), diam seribu basa. Sekadar dukungan moral saja tidak ada. Berbeda dengan rakyatnya di tataran akar rumput, mereka merasa satu tubuh dan marah lantas bertekad turut berjihad di sana. Tapi sayang, jumlahnya tidak banyak. Kebanyakan dari Suriah dan Iran. Bahkan pernah terjadi, muslimin Indonesia yang hendak berjihad di sana justru ditakut-takuti dan dihalangi oleh pemerintah Indonesia. Sekarang pun demikian dengan alasan di dalam negeri masih banyak butuh bantuan karena bencana alam seperti di Pangandaran dan Yogya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, setelah nyaris 700 orang tewas di Libanon saja, belum termasuk di Gaza, negara-negara yang pejabatnya pembenci Islam, penganut islamofobi "seolah-olah" mengutuk perbuatan perikehewanan Israel di sana. Ada drama satu babak yang mereka lakonkan sekarang. Drama-drama ini bisa mereka mainkan berkali-kali sesuai situasi dan kondisi yang mereka alami. Kepura-puraan itu sangat kentara lewat silat lidahnya di media massa. Taktik mereka adalah menyerang terus ketika masih di atas angin dan langsung minta gencatan senjata ketika sudah tersudut dan terpepet. Inilah taktik usang mereka, sama persis dengan moyang mereka, yaitu kaum Yahudi pada masa Nabi Muhammad SAW. Dengan kata lain, kaum Yahudi itu bangsa penakut. Tentara Israel itu &lt;a href="http://gedehace.blogspot.com/2006/07/save-palestine-di-masjid-agung.html"&gt;sangat penakut&lt;/a&gt;, sama seperti AS yang beraninya hanya main keroyokan di Afghanistan dan Irak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahudi adalah pendatang di Palestina. Karena serakah, &lt;a href="http://gedehace.blogspot.com/2006/05/palestina-tamu-menjadi-tuan.html"&gt;Yahudi yang menggelandang&lt;/a&gt; itu lalu merebut jengkal demi jengkal tanah Palestina dan mengklaimnya sebagai bangsa yang berhak atas tanah itu. Atas kekuatan ekonomi yang mereka susun, mereka lantas mampu menyetir AS dkk. Bahkan boikot dan veto AS di DK PBB pun sebetulnya atas usul lobby Yahudi. Namun demikian, peristiwa seperti ini sebetulnya bukanlah hal baru. Sebab, veto dan boikot ekonomi yang dialami Palestina pun pernah dialami oleh nabi terakhir kita. Malah gempuran kaum kafirin Quraisy begitu membabi buta termasuk ketika mengintimidasi para sahabat Muhammad bin Abdullah. Kelaparan, siksa pedih dan intrik begitu dekat dengan kaum muslim pada masa nabi. Hal senada terjadi pada masa sekarang di berbagai pelosok bumi: di Irak, di Afghanistan, di Filipina, di Thailand dan di Afrika, selain di Palestina dan Libanon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang juga aneh atau “aneh”, kenapa institusi negara tidak mendukung Hamas dan Hizbullah secara terang-terangan? Takutkah mereka? Atau, mereka sudah menjadi antek-antek Zionis atau antek Amerika Serikat dkk? Oleh sebab itulah, perang tersebut menjadi perang Israel melawan partai politik bukan perang melawan negara Palestina atau negara Libanon. Sebab, institusi negara bergeming sama sekali. Diam sejuta bisu. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-115460647922800829?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/115460647922800829/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=115460647922800829&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115460647922800829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115460647922800829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2006/08/palestina-dan-hak-veto.html' title='Palestina dan Hak Veto'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-115365017526394847</id><published>2006-07-23T17:16:00.000+07:00</published><updated>2006-07-23T17:22:55.283+07:00</updated><title type='text'>Save Palestine di Masjid Agung</title><content type='html'>Israel itu penakut. Tentara mereka itu pengecut, bernyali kecil. Pernah ada sembilan tentara Israel lari ketakutan karena digertak oleh anak-anak Palestina sambil meneriakkan, kalau saya tak salah dengar, khaibar ya Yahuud. Khaibar adalah perang terpedih bagi kaum Yahudi karena mereka kalah melawan pasukan muslim. Cerita ini begitu merasuk ke hati mereka dan membuatnya gentar. Demikianlah kurang lebih uraian H. M. Usep Romli, seorang wartawan senior harian Pikiran Rakyat Bandung yang juga pengamat Timur Tengah pada acara "&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Save Palestine&lt;/span&gt;" di Masjid Agung Bandung, di Alun-alun Bandung pada Ahad, 23 Juli 2006, pk. 09.00-11.30 wib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal pengalaman meliput di Timur Tengah, Pak Usep Romli menguraikan kondisi perang sejak tahun 1948, 1982 dan perang sekarang. Pada tahun 1982, urainya, Israel menginvasi Libanon ketika orang-orang Arab dan dunia sedang asyik menonton sepak bola Piala Dunia. Namun demikian, pada perang itu Israel kalah dan harus mundur dari Libanon. Dan sekarang, pada Ahad, 23 Juli 2006 ini, Israel sudah pula mengerahkan tentara AD-nya ke perbatasan Libanon. Setelah membombardir Libanon Selatan selama sepekan terakhir ini, kini Israel hendak membumihanguskan Hizbullah. Tapi, kata Pak Usep, Hizbullah tak pernah gentar. Sambil bergurau, Pak Usep bilang bahwa yang banyak tewas adalah ayam dan kambing. Tentu saja ini tak seluruhnya betul. Sebab, yang tewas menurut berita koran sudah lebih dari 300 orang walaupun kebanyakan bukan para mujahidin melainkan penduduk sipil semacam pedagang kaki lima, pekerja, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membom Hamas dan Hizbullah, kata pemilik kartu anggota Hamas ini, Israel sudah menghabiskan dua tahun anggaran negaranya. Sebetulnya, masih menurut wartawan asal Garut ini, para mantan perdana menteri Israel tak setuju karena dianggap menghambur-hamburkan uang saja. Namun, karena yang berkuasa sekarang tetap ingin membom dan mumpung Irak masih dikuasai pasukan koalisi, maka terjadilah bumi hangus yang JUSTRU disetujui oleh PBB. Dengan kata lain, Sekjen PBB Kofi Anan penuh dengan kepura-puraan dan culas ketika "menasihati" Israel agar tidak membom membabi buta begitu. Apalagi pada hari ini, Ahad 23 Juli 2006 wib, kalangan senat dan kongres AS menyetujui untuk memusnahkan Hamas dan Hizbullah dari Bumi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya bertanya perihal perang Hamas dan Hizbullah melawan Israel itu, Pak Usep menjawab bahwa kaum muslim pasti menang. Beliau pun menyitir sebuah ayat Qur’an yang sebelumnya, yaitu pada acara pembukaan, dibacakan oleh petugas dari panitia pelaksana acara: MAQDIS (Ma’had Al Qur’an dan Dirasah Islamiyah). Tapi saya masih ragu, kapan kemenangan itu terjadi. Apakah sebulan lagi, setahun lagi, seratus tahun lagi, sejuta tahun lagi ataukah pas pada hari kiamat? Ketika menjawab, wartawan plus da’i ini menegaskan bahwa muslim akan menang kalau kaum muslim sudah siap. Jadi masalahnya adalah kapan kaum muslim ini siap menjadi pemenang. Kuncinya ada pada diri kaum muslimin, terutama berkaitan dengan karakter, sikap atau akhlaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau lantas membeberkan betapa banyak sisi kehidupan di sekitar kita yang dimiliki, dikuasai, atau minimal ada sekian persen sahamnya dipegang Yahudi. Berbagai produk itu ditempelkan di papan pengumuman Masjid Agung Bandung setelah acara selesai. Misalnya, dunia hiburan dan majalah porno, itu semua dimiliki oleh lobby Yahudi. Play station yang digandrungi anak-anak, remaja, bahkan orang tua di Indonesia adalah untuk menghantam kaum muslim, menghancurkan generasi penerusnya. Tayangan film porno merebak di mana-mana, termasuk di negara Arab, bahkan di Mekkah bisa diakses lewat internet, tetapi tak bisa ditonton dan tak bisa diakses di Israel. Ketika anak-anak kaum muslim terutama di Indonesia asyik berdisko, ajojing, joget, dan seks bebas, sampai tubuhnya kurus dan kecil, orang-orang Israel justru rajin main sepakbola, renang, dll. Mereka melemahkan fisik kaum muslim lewat nina-bobo hiburan sebaliknya mereka mengolah tubuhnya menjadi kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi untunglah nyali kaum Zionis itu tak sekuat fisik dan senjata militernya. Mereka, seperti kata Pak Usep, bernyali kecil. Mereka hanya berani main keroyokan. Apalagi “bapaknya”, yaitu AS alias George Bush dan George W. Bush, termasuk kaum pengecut, ular berkepala dua alias culas. Menurut berita koran Kompas ini hari (23/7), AS sedang siap-siap mengirimkan senjata berpresisi tinggi, dilengkapi laser dan pemandu bom ke Israel. Tapi pada saat yang sama, Bush mengutuk Iran yang katanya mengirimkan senjata untuk Hizbullah. Betul-betul setan bin iblis berkepala ganda, bukan? Raksasa Dasamuka atau Rahwana pun dilampauinya. Belum pernah ada manusia selicik itu. Kelicikan Sengkuni dalam epos Bharatayudha pun kalah jauh dibandingkan Bush.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas di mana posisi muslim Indonesia? Sampai sekarang belum ada satu pun LSM prodemokrasi yang mendukung kemenangan Hamas ketika pemilu lalu. Selayaknya LSM yang selalu berkoar-koar dan malah “menuhankan” demokrasi itu merasa marah karena justru kemenangan Hamas yang demokratis itu diplintir oleh AS dan sekutunya. Mereka layak marah pada negara yang mengklaim sebagai biangnya demokrasi, yaitu AS. Tapi yang terjadi tidak demikian. Mereka diam seribu basa. Padahal, kata Pak Usep yang kebetulan berada di Arab karena sedang ibadah haji pada waktu pemilu itu, Hamas menang secara jujur. Mayoritas warga Palestina tak hendak dipimpin lagi oleh Fatah yang jelas-jelas mandul selama ini, selama kepemimpinan Yasser Arafat. Lantaran ketakrelaan AS dan sekutunya itulah mereka lantas memblokade ekonomi Palestina agar pemerintahannya melemah dan kolaps. Tapi faktanya, enam bulan ini Hamas tetap kuat, syahdan setelah dibombardir Israel. Pengamat pun banyak yang tegas-tegas menyatakan bahwa penculikan tentara Israel itu hanyalah batu loncatan tiupan setan demi legalitas serbuannya saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----*****-----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sesi kedua, tampil H. Ahmad Humaidi, seorang mubaligh yang sering mengisi acara tabligh di masjid Daarut Tauhiid dan radio MQ FM. Sebagai alumni komunikasi, Pak Ahum, demikian sapaannya, menyorotinya dari sisi itu. Juga mengajak kaum muslim untuk segera menikah (bagi yang belum menaikah) dan berketurunan. Keturunan inilah yang akan mewarisi semangat juang orang-orang sekarang. Sebagai aktivis, ini ditujukan untuk mahasiswa/wi yang hadir, saudara dari ustadz Lili Humaidi ini pun menganjurkan aktivis untuk solat malam (tahajjud) agar bisa menang dan layak dimenangkan oleh Allah. Jika ada aktivis yang tidak solat malam belumlah patut disebut pembela Islam. Mengenai hal ini saya jadi teringat pada Usrohnya Imam Hasan Al Banna. Beliau bahkan menulis buku berjudul Al Munajah, terbitan Cairo, Mesir (1982). Di Indonesia dijuduli dengan Dialog Dengan Allah Di Malam Hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan solat malam ini, sejujurnya, saya belum bisa ajek tahajjud. Misalnya, dua pekan lalu saya berazam untuk tahajjud 11 rakaat setiap malam, tapi baru dijalani sepuluh hari, kembali lagi bolong-bolong. Kalaupun berhasil tahajjud, itu pun hanya tiga rakaat. Ternyata hati ini mesti terus dibarai, bahkan diapii agar panas terus dan semangat. Tahajjud call, sistem yang dikembangkan sahabat kita di radio MQ FM barangkali membantu. Semoga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, mudah-mudahan nanti malam saya mampu tahajjud dan mau mengikuti anjuran Allah dalam surat Al Muzzammil (73) dan Al Muddatstsir (74). Akhir kata, ya Allah bantulah kaum muslim di Palestina, di Libanon, di Irak, di Afghanistan, di Thailand, di Filipina Selatan, di Indonesia dan dibelahan Bumi mana saja. Aamiin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----*****-----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan itu, sebagai ucapan terima kasih saya atas pencerahan yang diberikan, saya memberikan buku saya yang berjudul Mencari Allah kepada kedua ustadz itu. Semoga beliau berdua diberkahi oleh Allah swt dalam setiap detik hidupnya. Aamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-115365017526394847?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/115365017526394847/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=115365017526394847&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115365017526394847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115365017526394847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2006/07/save-palestine-di-masjid-agung.html' title='Save Palestine di Masjid Agung'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-115333636468828560</id><published>2006-07-20T02:07:00.000+07:00</published><updated>2006-07-20T02:12:44.703+07:00</updated><title type='text'>Tsunami… Tsunami Lagi</title><content type='html'>Waktu terus berjalan. Hidangan laut (&lt;em&gt;sea food&lt;/em&gt;) berdatangan dan terus pula habis, piring demi piring. Menjelang pukul 21.30 wib kami mulai berkemas, mulai berdiri lalu ke luar dari lapak itu. Setelah membayar harganya, baik sea food bakar, rebus, maupun goreng, kami langsung ke penginapan, tak jauh dari tempat itu. Sambil melewati gemuruh ombak Pangandaran, kami melangkah pelan sambil ngobrol tetang makanan yang baru saja dinikmati, tentang laut, tentang hewan malam, dan tentang .... tsunami. Kami bayangkan, andaikata air laut itu pasang dan menghantam tempat kami, melabrak penginapan kami, sekaligus menghempas dan menyeret kami, apa yang bisa kami lakukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, pagi-pagi sekali, setelah salat Subuh, kami sudah di atas sepeda, keliling-keliling ke sana-ke mari. Ada yang mampir di warung, membeli minuman ringan dan roti, padahal sarapan di hotel sudah pula dilahap. Maklum, kami banyak makan agar banyak energi dan kuat mengayuh sepeda sewaan. Sambil lihat-lihat alam hijau, kami berfoto, jepret sana jepret sini. Sebagian turun ke riak-riak laut, celana pun basah, dan jepret-jepret juga. Setelah matahari sepenggalahan naik lewat sedepa, kami susuri kebun-kebun hutan pantai. Lengkingan monyet menyambut kedatangan kami. Bulu kuduk merinding, tapi bukan lantaran takut melainkan kagum akan kemahaperkasaan Sang Pencipta lewat ornamen ciptaan-Nya di darat dan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keindahan dan kenyamanan itu, hanya oleh satu sapuan gelombang, kini lenyap sudah, menyisakan reruntuhan dan meminta korban jiwa. Sebelumnya aku tak percaya ketika adik ipar meng-SMS-ku bahwa di Pangandaran terjadi tsunami. Tulisnya, ada tsunami di Pangandaran. Waktu itu aku sedang menjemput istri dan anak-anak yang pulang dari liburan di rumah neneknya. Aku berada di stasiun Bandung pada pukul 16.25 wib, menunggu kereta api Lodaya. Pada pukul 13:42:05, ketika aku masih di Universitas Kebangsaan, istriku meng-SMS bahwa kereta sudah sampai Sidareja. Jarak Sidareja ke Banjar tak begitu jauh. Sekitar pukul 14.35 wib kereta itu berada di Banjar, kurang lebih 48 km di utara Pangandaran. Tak sampai sejam kemudian, terjadilah gempa yang menghentak air laut, menaikkan gelombangnya setinggi, kata saksi mata, 10 m. Tapi di Bandung aku tak merasakan ada gempa saat itu. Di tengah keterkejutan itu aku tetap yakin bahwa andaikata tsunaminya sebesar di Aceh, sulitlah mencapai Kota Banjar, apalagi tinggi topografinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi kulihat di TV kondisi Pangandaran barat yang parah. Daerah tujuan wisata yang terkenal dengan ikan asin jambal rotinya itu luluh lantak. Secara total korban tewas di Jabar, Jateng, dan Yogya mencapai 500 orang per Rabu, 19 Juli. Di daerah tujuan wisata lainnya, yaitu di Pelabuhan Ratu dan Anyer, terjadi lagi gempa tadi sore pukul 17.57 wib yang episenternya di Selat Sunda berkekuatan 6,2 skala Richter. Akibat isu tsunami, banyak warga yang panik dan mengungsi. Kesimpangsiuran ini pasti dimanfaatkan oleh orang-orang yang mencari kesempatan dalam kesempitan, menjarah harta benda warga. Hal serupa pernah terjadi di Bantul, Yogyakarta; motor, sepeda, sapi, kambing, dll diangkut dengan truk tatkala berhembus isu tsunami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa memang sulit diprediksi. Tapi tsunami, sebagai ikutan gempa, sebetulnya bisa diduga. Malah pakar gempa pascatsunami Aceh telah memprediksi akan ada gempa besar di selatan Jawa yang potensial menimbulkan tsunami. Hanya saja, sejumlah pelaku bisnis wisata marah-marah kepada ahli gempa karena peringatan itu menyebabkan orang takut ke Pangandaran sehingga sepi pengunjung. Pelaku wisata itu protes dan meminta pemerintah dan pakar mengoreksi pendapat mereka. Karena serba tak jelas, mereka pun lantas lupa akan potensi tsunami di laut kidul itu. Akhirnya... hantaman gelombang itu betul-betul nyata ketika masyarakat dan aparat pemerintah pusat dan daerah tak siap. Sama sekali tak ada peringatan dini tsunami di sana, di kawasan yang ramai dikunjungi wisatawan. Sekali lagi, pemerintah kecolongan lagi. Akankah begini terus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tsunami Aceh, gempa Yogya, tsunami laut kidul, lalu gempa lagi di Selat Sunda, apa lagi yang bakal terjadi....?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-115333636468828560?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/115333636468828560/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=115333636468828560&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115333636468828560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115333636468828560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2006/07/tsunami-tsunami-lagi.html' title='Tsunami… Tsunami Lagi'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-115284188116482668</id><published>2006-07-14T08:46:00.000+07:00</published><updated>2006-07-14T09:23:01.150+07:00</updated><title type='text'>Bibliophobia, Bibliolabbeling</title><content type='html'>Di Australia, menurut berita radio ABC Senin, 11 Juli 2006 lalu, ada dua buku yang dilarang beredar, bahkan di-sweeping lantaran diduga berbau jihad. Bagi pemerintah negeri kanguru itu, jihad identik dengan teroris. Padahal jihad punya banyak arti, termasuk dalam arti bersungguh-sungguh dalam suatu pekerjaan. Serius bekerja, serius berbagi kebaikan-kebenaran pun adalah suatu bentuk jihad. Salah persepsi, salah tanggap atau paranoid dalam memandang Islam berdampak pada peminggiran Islam. Pemarjinalan pun terjadi dalam bidang akademik dengan cara memperalat orang Indonesia yang studi di sana, baik S1, S2, maupun S3. Tak sedikit didikan mereka justru akhirnya mencabik-cabik Islam, bak menggunting dalam lipatan, menohok kawan seiring, ular berkepala dua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus pelarangan buku memang sering terjadi dan kebanyakan subjektif, termasuk di Indonesia. Bagaimana kasus pelarangan buku dan sweeping di negara kita? Di negara nyiur melambai ini kerapkali sweeping dan pembakaran buku itu langsung menjurus ke toko dan pedagangnya. Dari sudut pandang pedagang, kalau buku-buku yang diduga bermisi jihad itu DIBELI kemudian dibakar oleh pembelinya karena menderita bibliophobia - takut pada isi dan misi buku-, atau bibliocast - sangat puas setelah memberangus buku -, tentu tidak masalah karena labanya sudah di tangan. Namun demikian, ada juga yang tidak setuju atas cara tindak seperti itu karena cintanya begitu besar pada buku, tak sekadar jadi jembatan jual-beli, tak sekadar uang. Mereka baru akan memasalahkannya kalau terjadi perampasan hak milik tanpa transaksi jual-beli yang adil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan penulis buku, lain lagi. Meski ada yang kecewa pada aksi sweeping, tak sedikit penulis yang senang karena oplahnya bertambah, diburu para kolektor buku. Penerbit pun ketiban pulung, bahkan berancang-ancang mencetaknya lagi. Ini tentu saja kalau belum resmi dilarang oleh pemerintah setempat, tetapi hanya aksi sweeping dari ormas saja. Para pembajak buku pun bahkan ikut ambil ancang-ancang dan menyiasati pasar demi uang “ilegal”. Itu sebabnya, sejumlah buku yang dilarang biasanya mampu bertengger di puncak penjualan selama mungkin. Satanic Verses-nya Salman Rushdi adalah kasus yang melegenda. Sebetulnya, jika disikapi dengan kepala dingin, para pakar di bidang studi Islam dan keislaman dapat melawannya dengan buku tandingan. Buku hujatan dan buku tandingan itu bisa dibahas dalam seminar dan hasilnya sudah pasti, buku hujatan bakal terhujat dan terhinakan secara alami atas semua kedustaannya. Sebaliknya Islam akan makin diterima masyarakat karena ajarannya yang membawa rahmat bagi alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Satanic Verses&lt;/span&gt;, ada juga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Da Vinci Code&lt;/span&gt; yang telah diangkat ke layar lebar (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Seek The Truth, Seek The Codes&lt;/span&gt;) dibintangi Tom Hank dan Audrey Tautou. Hanya saja, karya Dan Brown itu tak bernasib seperti Satanic Verses dan dia nyaman-nyaman saja. Di mancanegara seperti itu. Di Indonesia tak jauh beda. Sebagai penyakit buku, - bibliofobi dan bibliokas - pernah pula terjadi pada masa Orde Baru. Saat itu ketakutan teramat sangat pada sejumlah buku yang dianggap mampu mengubah pola pikir masyarakat menghantui penguasa. Karenanya, dengan alasan kamtibmas yang stabil, dinamis dan terkendali (tiga kata yang paling populer waktu itu), banyaklah buku yang dilarang beredar. Bahkan yang disimpan pembeli pun wajib diserahkan ke kepolisian atau kejaksaan. Kalau tidak dan membandel, undang-undang subversi telah menunggu dan bisa mengantarnya ke balik jeruji bui. Pada masa itu, jarang yang berani memiliki  buku "pelat merah" itu. Jangankan buku-buku kiri, buku-buku atau selebaran terbitan kelompok Petisi 50 atau Komando Jihad dan kelompok yang dinamai GPK (Gerombolan Pengacau Keamanan) pun banyak yang takut-takut memegangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, pemerintah, pemuka agama, penulis dan penerbit buku, akademisi dan rakyat awam sekali pun agar mau memosisikan dirinya sebagai wadah penyalur aspirasi dan inspirasi keilmuan dari mana pun datangnya, apa pun topiknya. Dengan cara ini diharapkan kita punya solusi alternatif yang adil (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;win-win solution&lt;/span&gt;) sekaligus menjaga nalar bangsa agar tetap meningkat tinggi sehingga mutunya tidak melata di bawah negara-negara lain. Terlebih lagi kita tahu, tak kurang dari 85% rakyat Indonesia sudah melek huruf meski minat bacanya (apalagi tulisnya) masih tipis. Justru karena itulah kita perlu memberikan kebebasan berekspresi baca-tulis kepada setiap orang. Dengan demikian, tidak boleh ada pencekalan terhadap produk intelektual khususnya buku dan berilah kebebasan mengkajinya di setiap seminar atau pun temu ilmiah formal-informal lainnya tanpa rasa curiga. Malah polemik dan debat tentang isi buku akan membiasakan kita menata argumentasi apik yang bertanggung jawab. Seandainya tidak sependapat, jawablah dengan buku lagi. Pendeknya, tulisan dijawab dengan tulisan, bukan dengan kekuatan otot dan pemberangusan kalau tak ingin disebut menderita bibliofobi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bibliolabelling &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika segmen konservasi lingkungan mengenal istilah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ecolabelling&lt;/span&gt;, produk makanan minuman mengenal istilah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;halallabelling&lt;/span&gt; (mestinya ada label haram juga yang diterakan eksplisit) dan obat-obatan mencantumkan jenis zat kimia dan kadarnya (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;compolabelling&lt;/span&gt;), maka daripada sweeping atau pembreidelan, lebih bernas dan elegan pemerintah suatu negara mewajibkan setiap penerbit mencantumkan label jenis buku atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bibliolabelling&lt;/span&gt;. Cara ini membantu pemerintah dan masyarakat dalam menyeleksi sendiri kebutuhan bacanya. Bacaan yang baik dan wajar sesuai nalar tentu akan dibeli dan bahkan dicetak berkali-kali, sedangkan yang tak menawarkan sesuatu yang diminati konsumen akan tidak ditengok. Janganlah kesiapan nalar dan tingkat pendidikan masyarakat dijadikan alasan karena hal ini akan berkembang paralel dengan peningkatan kemauan bacanya. Inilah yang bakal meramaikan kancah dunia buku, dunia tatatulis yang masih sepi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain sesuai dengan HAM dan HaKI, pelabelan buku itu pun mengharuskan semua penulis dan penerbit berlaku jujur. Misal, pelabelan bisa menurut subjek agama seperti Islam, Kristen, Hindu, Budha atau komunis dll. Hanya saja patut diingat dan wajib jujur agar jangan sampai buku berlabel agama tertentu berisi propaganda yang justru mendiskreditkan agama tersebut dan ditulis oleh penulis yang bukan beragama bersangkutan. Kebohongan atau kamuflase seperti ini justru makin memperkeruh kebebasan berpendapat. Contoh lain, segmentasinya berdasarkan bidang ilmu dan teknologi atau humaniora seperti label lingkungan, kimia, fisika, sosiologi, psikologi atau kedokteran. Isi kelompok buku ini sebetulnya bisa ditilik dari judulnya karena buku yang tergolong &lt;span style="font-style:italic;"&gt;textbook &lt;/span&gt;(buku-induk), tanpa label pun orang sudah tahu. Tapi tidak demikian dengan buku populer apalagi sastra yang perlu interpretasi dari pembacanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, yang terpenting dari bibliolabelling adalah kejujuran. Jangan ada penipuan atau kebohongan publik di sini. Artinya, judul buku dan labelnya harus mencerminkan isinya. Tidak boleh ada plintiran isi yang mengecoh konsumen. Kalau ini terjadi, haruslah dimejahijaukan dan pelanggarnya dihukum setimpal sedangkan bukunya direvisi atau diluruskan dan disebarkan lagi. Buku bermasalah tadi tetap jangan dimusnahkan, tapi biarkan saja sebagai dokumen sejarah yang “abadi” hingga kiamat tiba. Kalau ada kebohongan atau kepalsuan atau katakanlah propaganda murahan maka lambat atau cepat akan ketahuan juga. Sejarah akan bicara jujur di kemudian hari dan pasti mengungkapkan kebenaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, janganlah fobi buku seperti di Australia dan negara barat terjadi di sini (lagi) termasuk janganlah meniru perilaku pasukan perang abad pertengahan mereka yang membakar habis literatur dan perpustakaan universitas di dunia Arab. Janganlah takut pada buku karena kalau demikian berarti para penakut itu memang punya atau paling tidak, dia merasa bersalah pada kebenaran isi suatu buku. Marilah beri kebebasan nalar ini menjalar-jalar dalam ujud buku, apapun temanya, demi membentuk masyarakat-buku. *** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-115284188116482668?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/115284188116482668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=115284188116482668&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115284188116482668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115284188116482668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2006/07/bibliophobia-bibliolabbeling.html' title='Bibliophobia, Bibliolabbeling'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-115167477413973579</id><published>2006-06-30T20:31:00.000+07:00</published><updated>2006-06-30T20:39:34.153+07:00</updated><title type='text'>Fotokopi Buku</title><content type='html'>Seorang rekan bercerita. Ketika memfotokopi sesuatu, dia kaget melihat seseorang memfotokopi bukunya. Bukan apa-apa. Dia kaget bukan karena tak rela bukunya difotokopi, melainkan karena isi bukunya itu sudah diubahnya. Ada sejumlah pendapat baru yang dianutnya kini yang berarti sejumlah pendapatnya di buku lamanya itu sudah dibuangnya. Buku lamanya itu terbit pada awal 1990-an. Ia khawatir pembaca buku lamanya itu akan salah paham atas pandangannya yang lalu padahal dia sudah memiliki pandangan baru yang menurutnya lebih tepat dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kawan ini terkejut melihat bukunya difotokopi bukan lantaran alasan ekonomi melainkan alasan potensi kesesatan yang bakal diperoleh pembacanya. Dia, secara pribadi, rela-rela saja bukunya difotokopi atau dibajak. Tentu tak demikian dengan penerbitnya karena berbasiskan bisnis. Sebagai penulis, dia tak peduli pada bajak-membajak, kopi-mengkopi. Tolok pikirnya adalah sebaran ilmu. Makin banyak bukunya dibajak berarti makin banyak pula orang yang mengetahui ilmu yang ditulis di dalam buku tersebut. Apalagi dia sangat-sangat yakin bahwa Allah swt pasti akan membayarnya dengan harga yang tak bisa diduganya dan pasti jauh lebih baik daripada sekadar royalti. Yakin dia bahwa Allah takkan mengecewakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan mahasiswa? Sudah jamak diketahui, dari dulu sampai sekarang, buku fotokopian banyak beredar di kalangan mahasiswa, terutama buku ajar (textbook) terbitan luar negeri. Minimal ada dua alasannya: (1) harganya mahal; (2) bukunya sulit diperoleh di dalam negeri dan harus pesan yang memakan waktu lama sedangkan materinya harus segera dipelajari demi skripsi, tesis, atau disertasi. Cara memperolehnya pun ada dua macam, yaitu (1) memfotokopi sendiri di tukang fotokopi; (2) membelinya di toko yang memang jelas-jelas menjual textbook fotokopian. Yang kedua ini sudah sering pula diusut yang berwajib tetapi sekian minggu kemudian berjualan lagi. Sogok uanglah yang berperan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ITB pun marak sekali buku dan diktat fotokopian. Yang paling sering terlihat adalah fotokopian buku Fisika Dasar padahal harganya tak jauh beda dengan buku aslinya. Ini tentu saja merugikan Penerbit ITB dan juga penulisnya. Tapi anehnya, penulisnya yang juga dosen Fisika Dasar tak terlalu ambil pusing melihat bukunya difotokopi ketika sedang mengajar. Sama sekali tak ada pengaruhnya pada nilai atau permainan nilai. Mungkin, itulah karakter ilmuwan yang ingin menyebarkan ilmu sebanyak-banyaknya ke banyak orang, duga saya. Yang pasti juga, tak sedikit dosen di ITB yang memfotokopi buku-buku hadiah (grant) dari sejumlah lembaga asing agar bisa dibacanya di rumah masing-masing dan tidak harus antri meminjamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bagaimana? Di mana posisi HaKI di Indonesia? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-115167477413973579?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/115167477413973579/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=115167477413973579&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115167477413973579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115167477413973579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2006/06/fotokopi-buku.html' title='Fotokopi Buku'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-115137558964248370</id><published>2006-06-27T09:30:00.000+07:00</published><updated>2006-06-27T09:33:09.653+07:00</updated><title type='text'>Hakim</title><content type='html'>Profesi hakim disorot lagi. Setelah beragam mafia peradilan dan calo kasus, kini muncul Pedoman Perilaku Hakim yang menuai kontroversi. Semua poin dalam pedoman itu bersifat idealis. Hanya saja, penjelasannyalah yang menyulut masalah, dan ini berkaitan dengan kemandirian dan harga diri. Minimal ada satu hal yang diperdebatkan, yaitu pemberian hadiah atau upeti. Berkaitan dengan ini, seorang rektor sebuah PTS di Bandung bercerita begini. Suatu hari ia didatangi seseorang yang akan membuatkannya jas. Sebelum mengukur, rektor ini bertanya, apakah kalau dia tidak menjadi rektor orang itu akan datang juga untuk membuatkannya jas? Ternyata orang itu datang ke rektor karena ada sesuatu yang diharapkannya, berkaitan dengan kelancaran bisnisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus demikian pun kerapkali terjadi di lingkungan petugas hukum yang seharusnya menjadi penegak hukum. Bahkan ada yang sengaja memanfaatkan jabatannya demi raihan harta berupa uang dan barang. Sudah pula jadi rahasia umum, aparat hukum itu, tak hanya hakim tapi juga yang lainnya, berada di titik nadir, tak tampak upaya untuk bangkit. Jangan-jangan aparat hukum kita memang belum pernah berada di atas yang berarti belum pernah turun, yang juga berarti sudah sejak awal berada di titik terendahnya. Sudah rahasia umum, hukum tak berlaku bagi penguasa dan pengusaha besar tapi hanya diterapkan pada rakyat kecil bahkan sewenang-wenang. Masihkah slogan langit hukum harus ditegakkan meski esok akan runtuh? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kisah menarik yang terjadi pada zaman Khalifah Al Mansyur. Suatu kali khalifah ingin mengangkat seorang hakim dan ia sudah tahu siapa saja kandidatnya. Ada empat orang sufi yang dipanggilnya. Yang pertama adalah Abu Hanifah, lalu Sofyan Tsauri, Misar dan Syuraih. Sebagai orang ‘alim pada zamannya, mereka tahu bahwa pekerjaan hakim sangat berat, salah-salah bisa dibalas dengan neraka di akhirat. Itu sebabnya, masing-masing sudah punya niat untuk menolak jabatan hakim. Sama sekali mereka tak tertarik pada jabatan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hanifah, setelah bertemu muka dengan khalifah, mengutarakan berbagai argumentasi bahwa dirinya tak cocok menjadi hakim meskipun ia dikenal sebagai seorang ulama dan ahli hukum. Lantaran kegigihannya itu, Abu Hanifah terhindar dari jabatan hakim dan ia bersyukur tak mengemban jabatan itu. Sufi lainnya, yaitu Sofyan Tsauri malah melarikan diri demi menghindari tugas berat itu. Yang luar biasa adalah Misar. Besar sekali pengorbanannya karena ia rela berperilaku gila agar khalifah tak memilihnya. Yang terakhir adalah Suraih. Ia juga menolak jabatan itu dengan cara berpura-pura sakit keras. Namun khalifah justru memerintahkan aparatnya untuk mencari tabib terbaik. Mau tak mau, jabatan hakim itu akhirnya disematkan ke pundaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak betapa orang-orang berilmu itu menolak jabatan hakim, sebuah jabatan yang sangat diminati di negeri Indonesia. Tak hanya jabatan hakim, tapi juga jabatan-jabatan lainnya yang berkaitan dengan hukum dan keadilan. Begitu pun yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat di berbagai departemen, dinas, dan lembaga sarat dengan main uang, sogok-menyogok, suap-menyuap, sebuah bagian dari ketidakadilan. Bahkan dalam penerimaan murid baru SMP, SMA pun terjadi ketidakadilan. Tender-tender projek, baik pada taraf konsultan maupun kontraktor dan supervisi juga demikian. Demi kenaikan pangkat lewat jalur sekolah pun harus terlebih dahulu menyerahkan uang agar urusannya mudah dan saling sikut dengan temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, nyaris tak ada satu profesi pun di negeri nyiur melambai ini yang tidak melibatkan uang dan jauh dari keadilan. Padahal dalam al Qur’an surat an Nisaa: 58, ditegaskan seperti ini: Jika kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menghukum dengan adil. Artinya, kalau tidak adil, maka keadilan itu akan diterapkan di akhirat kelak dan hakimnya akan dimintai tanggung jawab oleh Sang Mahahakim: Allah swt. Hal serupa bisa disimak pada kata-kata Nabi Muhammad dalam hadisnya ini: Jika Fatimah anak perempuan Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya. Adakah yang berani demikian? Yang terjadi justru aparat hukum makin melindungi saudaranya yang jelas-jelas salah dan berupaya dengan segala daya, termasuk pamer kekuasaan dan uang untuk membebaskannya dari jeratan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah wajah hukum dan peradilan di Indonesia, sebuah wajah bopeng carut-marut. Orang yang telah jelas bersalah bisa melenggang di udara bebas, tapi yang tak bersalah atau masih samar-samar malah mendekam di penjara. Betullah kata sejarawan bernama Gibbon, penulis buku &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Decline and The Fall of Rome&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Katanya: kehancuran Romawi karena hukumnya tak dipatuhi. Mereka pintar membuat hukum dan peraturan demi sekadar dibuat dan disahkan tapi tak dipedulikan. Hukumnya dijadikan hiasan dan diperjualbelikan seperti barang dagangan. Perkara adalah tambang uang yang kapan pun bisa digali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, apabila hadiah, upeti, kiriman, kado, parcel dll terus mengitari aparat yang seharusnya menegakkan hukum, tunggulah kehancuran negeri ini sekaligus kehancuran pelakunya di akhirat kelak. Atau, jangan-jangan negeri ini memang sudah hancur. Apabila belum hancur dan semua aparat hendak tobat, perlulah mengingat yang berikut ini. Penyuap dan yang disuap tempatnya adalah neraka, demikian sabda Muhammad, nabi akhir zaman saat menjelaskan perkara suap (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;riswah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;).*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-115137558964248370?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/115137558964248370/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=115137558964248370&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115137558964248370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115137558964248370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2006/06/hakim.html' title='Hakim'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-115130223121018489</id><published>2006-06-26T13:08:00.000+07:00</published><updated>2006-06-26T13:10:31.220+07:00</updated><title type='text'>K.H. Rusyad Nurdin</title><content type='html'>Sosoknya tinggi besar, kira-kira sama dengan Pak SBY, presiden kita sekarang. Peci hitam dan setelan baju-celana hitam atau gelap selalu dikenakannya. Tasnya pun hitam, mungkin berbahan kulit tapi tak pasti berapa harganya. Berkulit gelap umumnya orang Indonesia, alisnya memutih, begitu pun kumisnya. Jenggotnya lebih sering dicukurnya. Kakinya rematik sehingga jalannya tertatih-tatih. Setiap memberikan kuliah agama dan etika, beliau selalu menuruni undak-undak di belakang, dekat gedung Oktagon ITB. Dari jauh pun bisa dilihat sosoknya yang khas itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tak kenal K.H. Rusyad Nurdin? Saya yakin banyak juga yang tak tahu sosok kyai pejuang dan pejuang kyai ini, khususnya di kalangan nonmuslim. Namun, saya yakin tak seorang mahasiswa muslim ITB pun yang tak tahu siapa beliau, terutama yang mulai kuliah di ITB sebelum tahun 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah pejuang dalam segala segi, mulai dari pendidikan, ekonomi, politik, dan agama. Sebagai politisi, beliau ikut dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Konstituante &lt;/span&gt;yang dibubarkan oleh Bung Karno. Dalam bidang dakwah, beliau aktif membina umat lewat berbagai cara seperti mendirikan pesantren, menjadi penasihat, dan mengajar. Ada satu hal yang selalu beliau dengung-dengungkan dalam dakwahnya dan ini menjadi keprihatinannya yang mendalam. Beliau prihatin atas perilaku dan perbuatan tercela yang meruyak sejak masa beliau muda, tua, bahkan sampai hari-hari akhir hidup beliau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada catatan buruk perilaku manusia yang dikompilasi oleh almarhum, yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1). &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengagungkan harta&lt;/span&gt; di atas segalanya yang berarti menghambakan diri kepada harta. Harta adalah sarana bagi manusia untuk mempertahankan derajat atau meningkatkan dirinya sebagai makhluk Tuhan yang mulia dan bukan sebagai tujuan. Kalau kita sudah menjadi hamba atau budak harta maka kita akan sanggup melakukan apa saja, halal atau haram sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2). Kita cenderung melakukan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;manipulasi&lt;/span&gt;; yakni berbuat curang, tidak jujur, menyalahgunakan kekuasaan dan mengkhianati amanah sehingga terdapat korupsi di mana-mana. Untunglah pemerintah sudah mengambil tindakan terhadap hal ini walaupun belum berhasil secara tuntas. Harapan kita semoga cepat tercipta pemerintah yang bersih dan berwibawa. Inilah harapan yang tulus sebagai warga negara. Orang yang memperkaya diri dengan menyalahgunakan kekuasan adalah orang yang berhati kosong dan tak punya rasa cinta kepada rakyat kecil yang notabene adalah sebagian besar penduduk Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3). Kita cenderung pada sikap &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;fragmentasi&lt;/span&gt;; yaitu menghargai orang dengan kekayaan dan jabatan yang disandangnya, tidak sebagai pribadi yang utuh. Sikap ini menimbulkan tindakan sewenang-wenang terhadap rakyat kecil dan tidak mencerminkan sila kedua Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4). Bersifat &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;individualis&lt;/span&gt;; yakni meletakkan kepentingan diri sendiri di atas segalanya. Biar orang lain rugi asal diri sendiri beruntung. Biar negara morat-marit asal diri sendiri kaya dan mendapat harta yang bertumpuk, kalau perlu sampai tujuh turunan tidak habis. Perbuatan ini bertentangan dengan sila pertama dan sila kelima Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-115130223121018489?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/115130223121018489/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=115130223121018489&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115130223121018489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115130223121018489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2006/06/kh-rusyad-nurdin.html' title='K.H. Rusyad Nurdin'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-115104540458298454</id><published>2006-06-23T13:47:00.000+07:00</published><updated>2006-06-23T13:50:04.596+07:00</updated><title type='text'>Aceh, Kiamat Mikro?</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tulisan ini pernah dimuat di buletin Jumat Masjid Al Ittihad Universitas Kebangsaan Bandung, pada Januari 2005. Sebagai refleksi atas gempa Yogya dan erupsi Merapi dan untuk menuai spiritnya, tulisan ini dirilis kembali.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai hari ini sudah 170 ribuan orang tewas di sebelas negara yang kena tsunami. Sekitar 98 ribu di antaranya di Aceh. Jumlah ini adalah korban terbesar kedua setelah gempa di Cina tahun 1976 dengan korban 250 ribu orang. Karena datanya sementara, jangan-jangan nanti berubah menjadi yang pertama terbesar jumlah korbannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa berkekuatan 8,9 skala richter itu mampu mengubah kota yang pernah jaya dengan kerajaan Samudra Pasai menjadi puing-puing. Ketika matahari baru sepenggalahan naik, Serambi Mekkah dilibas gelombang yang tingginya duakali pohon kelapa, lebih tinggi daripada atap rumah berlantai dua. Jangankan manusia, yang namanya kayu, batu, truk, bahkan beton rumah dan jembatan pun tersapu ludes oleh tsunami, tsu (pelabuhan) dan nami (gelombang). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dalam tempo 15 menit pascagempa, punahlah daerah juang Teuku Umar dan Cut Nyak Dien itu. Dampaknya pun terasa hingga pantai timur Afrika seperti Somalia, Tanzania dan Kenya. Kiamatkah ini? Betul, ini memang kiamat. Namun, ini cuma kiamat kecil. Mikro. Kematian, apa pun caranya, hanyalah kiamat kecil. Separah apa pun kehancuran dunia akibat energi alam semisal gempa itu, tetaplah kiamat kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, andaikata seluruh dunia kena bencana serupa, itu pun kiamat kecil. Sebab, kiamat besar baru terjadi jika dan hanya jika seluruh semesta ini tamat riwayatnya, dan manusia siap-siap menuai karyanya selama di dunia. Tapi ada keajaiban. Pulau Simeulue, sebuah pulau yang paling dekat dengan episentrum gempa itu nyaris tiada kerusakan berarti jika dibandingkan dengan Aceh. Bagaimana pakar gempa menjelaskan fenomena ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang juga luar biasa, tak ada ikan hiu, paus, pari, gurita, dan lain-lain yang terdampar di daratan Aceh. Bahkan di Madras, India yang banyak gajah tak satu pun yang mati lantaran diterjang tsunami. Apakah binatang ini lebih tahu bakal ada gempa dan tsunami? Kalau ya, maka kita perlu banyak belajar dari binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mencegah kiamat?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mampukah manusia mencegah kiamat! Mencegah kiamat, melawan kematian, ingin hidup seribu tahun lagi adalah obsesi manusia. Film Armageddon (kiamat) yang dirilis sineas Hollywood adalah saksi sekaligus obsesi manusia melawan kiamat. Syahdan, dalam film itu, sebuah asteroid seluas Texas, negara bagian di Amerika Serikat, akan menabrak Bumi. Pertanyaan kita, benarkah asteroid mampu melumat bumi? Benarkah kiamat terjadi karena benda langit saling tabrak? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asteroid ialah benda langit berukuran kecil, berdiameter ratusan kilometer, terletak di orbit atau garis edar (Adz-Dzaariyaat: 7) antara Planet Mars dan Jupiter. Selain asteroid, ada benda langit yang disebut meteor atau bintang jatuh, pijar karena bergesekan dengan atmosfer bumi. Umumnya meteor habis terbakar di atmosfer  walaupun ada yang sampai ke bumi seperti di Arizona, AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum Newton membeberkan bahwa benda-benda angkasa itu tarik-menarik dan gayanya makin besar jika benda tersebut makin besar, padat, dan dekat jaraknya. Hukum inilah yang menjelaskan kemungkinan terjadinya tabrakan antarbenda langit sehingga hancur berkeping-keping. Teori Relativitas Umum Einstein pun menjelaskan bahwa kiamat pasti terjadi. Inilah tilikan keakuratan sains yang notabene diformulasikan oleh orang-orang nonmuslim. Mampukah kita, sekali lagi, mencegahnya (kiamat)? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kemajuan teknologi, manusia mungkin mampu mencegah tabrakan satu atau dua benda langit yang jatuh (baca: tertarik) ke bumi. Tapi, akankah demikian jika matahari digulung, langit terbelah dan bintang-bintang berjatuhan dan berserakan (At Takwiir: 1-2 ; Al Infithaar: 1-2)? Berjatuhan mengandung makna banyak yang jatuh bak butir-butir air hujan. Berserakan laksana sampah yang tersebar di mana-mana, tumpang-tindih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain asteroid, masih ada milyaran galaksi di semesta ini. Galaksi pun terdiri atas bermilyar bintang. Itu semua diciptakan Allah (Al-An’am: 101) dan kini bisa dijelaskan dengan teori Big Bang (terjadi 15 miliar tahun lalu). Matahari yang dikitari sembilan planet termasuk bumi kita hanyalah salah satu dari bintang tersebut. Jika orbit benda langit bergeser dan lepas kendali, maka tabrakan tak tercegah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala benda langit bagaikan debu terhempas angin yang sekejap saja menjadi serpihan (Al Waaqi’ah: 6) dan matahari (bintang), bulan (planet) dikumpulkan (tabrakan) atau bulan (planet) lumer dan menguap sebelum mencapai matahari (Al Qiyaamah: 9) mampukah kita dan tentara digdaya bersenjata nuklir membatalkannya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencegah gempa dan membendung tsunami dahsyat di Aceh saja kita tak mampu. Begitu pun banyak kejadian serupa di belahan lain dunia. Maka, pada Kamis, 6 Januari 2005 lalu diadakan Tsunami Summit di Jakarta Convention Center, dan ikut hadir Sekjen PBB. Selain untuk menggalang bantuan bagi korban tsunami Aceh, para pejabat negara dan pakar gempa seluruh dunia berkumpul untuk membincangkan deteksi dini gempa &amp; tsunami.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah faktanya. Jangankan menghentikan, memprakirakan secara eksak sampai hitungan tahun saja pakar gempa tak mampu. Apalagi dalam hitungan hari dan jam Di mana akan terjadi, berapa kekuatannya, berapa lamanya, dan berapa kali akan terjadi, masih misteri bagi manusia. Apatah lagi mencegah benturan antarbenda langit seperti film di atas. Al-Zalzalah: 1-2, apabila bumi diguncang dengan dahsyat, dan bumi mengeluarkan beban berat yang dikandungnya... Di ayat 3, manusia pun hanya bisa bertanya-tanya, mengapa bumi jadi begini...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sarat Hikmah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, tetap ada hikmah di balik kiamat mikro di Aceh. Pertama, sehebat apa pun manusia, ternyata hanyalah makhluk lemah. Usahlah sombong ketika punya fisik kuat (petinju, pegulat), ekonomi kuat (konglomerat), ilmu kuat (profesor, doktor), jabatan kuat (presiden, gubernur, bupati/walikota, rektor, dekan, kajur, dstnya). Sebab, hakikatnya, semuanya lemah. Jauh lebih lemah ketimbang sarang laba-laba (Al-Ankabuut: 41). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Aceh memberi kaum muslim kesempatan berinfak praajal tiba. Ini betul-betul terbukti; di mana-mana muncul posko bencana Aceh. Mulai mahasiswa hingga warga di RT/RW membuka dompet peduli Aceh. Mudah-mudahan ini adalah bukti keimanan yang menganggap mukmin lainnya adalah saudara. Semoga Allah membalas infak itu dengan hal yang lebih baik dan lebih besar nilainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kita belajar sabar dan sabar lagi. Menahan gejolak nafsu keangkuhan atas kekuatan kita. Bahwa kita ini kecil dihadapan Allah. Bahwa kita butuh Allah dan Allah sama sekali tak butuh kita. Dan yang pasti, dalam setiap bencana dalam pandangan manusia, Allah tidak mungkin berlaku zalim pada hamba-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dalam kasus Aceh ini, janganlah kita husnudzon (baik sangka kepada Allah; sebab, Allah pasti baik!) apalagi su’udzon (buruk sangka kepada Allah; ini jangan sampai terjadi). Yang benar, kita harus IMAN kepada Allah dan menerima ketentuan-Nya tanpa keluhan. Que sera-sera, what ever will be, will be. Lalu, tetap melaksanakan ibadah mahdhah dan aktivitas politik, ekonomi, pendidikan dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hanya Allahlah yang Mahatahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-115104540458298454?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/115104540458298454/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=115104540458298454&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115104540458298454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115104540458298454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2006/06/aceh-kiamat-mikro.html' title='Aceh, Kiamat Mikro?'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-115094343475945012</id><published>2006-06-22T09:27:00.000+07:00</published><updated>2006-06-22T09:46:37.073+07:00</updated><title type='text'>Belia, Nge-Blog Yuk! (edisi revisi)</title><content type='html'>Kamu anak SMA, SMP? Kalau ya berarti kamu belia. Kamu ingin menulis? Ingin ketagihan menulis atau mengarang? Salah satu caranya adalah punya blog. Blog bakal "mewajibkan" kamu terus menulis sehingga lama-lama kamu terbiasa menulis atau mengarang. Nanti, ketika harus membuat skripsi atau tugas-tugas sekolah dan kuliah, kamu akan lancar-lancar saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Blogger.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Blog mirip dengan buku harian kamu. Buku harianmu berupa kertas, blog berupa ‘kertas’ kaca di monitor komputer. Sama-sama lembaran yang bisa ditulisi apa saja. Bedanya, di blog kamu bisa memajang fotomu tanpa lem dan bisa diedit sesukamu. Bedanya lagi, blog adalah diary kamu yang rela kamu bagikan ke semua orang di Bumi ini. Siapa saja bisa membaca catatan harianmu dan bisa pula mengomentarinya jika kamu izinkan ada perangkat ‘comment’. Jika tak suka ada komentar, bisa kamu setting ‘no comment’, gunakan saja opsi Hide, sembunyikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum lanjut ke tatacara membuat blog, di dunia maya ada banyak penyedia layanan blog. Di sini dibahas satu saja, yaitu servis dari Blogger.com. Mudah langkahnya. Setelah koneksimu ke internet siap, kamu bisa memulainya dengan mengetik &lt;a href="http://www.blogger.com"&gt;http://www.blogger.com.&lt;/a&gt; Setelah itu kamu dituntun masuk ke ‘pekarangan rumah’ Blogger.com. Di sini tertulis ‘Create a blog in 3 easy steps: (1) Create an account, (2) Name your blog, (3) Choose a template. Inilah tiga langkah dasarnya: membuat ekaun alias rekening, menamai blog, dan memilih ‘kertas’ tulis. Di bawahnya kamu temukan tulisan CREATE YOUR BLOG NOW. Kliklah dan tunggu sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian muncullah formulir yang harus kamu isi. Tulislah Username dengan nama yang kamu sukai dan mudah diingat. Setiap akan masuk ke blog, kamu harus menuliskan Username itu. Jadi, harus diingat, jangan sampai lupa. Berikutnya adalah mengisi Password. Isilah dengan kata rahasia yang hanya kamu yang tahu atau orang yang kamu percayai saja yang tahu. Simpan yang baik di bukumu, di HP-mu atau di mana saja asalkan bisa kamu dapatkan dengan mudah jika kamu lupa password-nya. Hati-hati jangan sampai diketahui orang lain, sebab blogmu bisa di-update atau malah di-delete. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kamu disuruh mengetik ulang Password tersebut di baris Retype Password. Ini semacam penegasan apakah password-mu betul atau salah. Di baris Display Name isilah dengan namamu. Lalu masukkan alamat e-mail kamu di baris di bawahnya. Teruskan dengan menyetujui aturan Blogger.com dengan mengisi ceklis di Acceptance of Terms. Terakhir, tekanlah Continue. Tuntaslah tahap satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap dua juga mudah. Isilah Blog title dengan nama atau kata sesuka hatimu. Buatlah nama yang khas dan jelas agar mudah diingat. Lalu isilah alamat blog (Blog address). Misalkan namamu Yulianto, alamatnya: http://yulianto.blogspot.com. Tapi kamu cukup menulis yulianto saja di baris yang tersedia. Yang lainnya sudah disediakan oleh Blogger.com. Begitu pun kalau namamu Yulianti, kamu cukup menulis yulianti saja. Selanjutnya kamu akan melihat sederetan huruf, namanya Word Verification. Salinlah huruf itu lalu klik Continue. Baris Advanced Setup diabaikan saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kamu tiba di tahap tiga, yaitu memilih ‘kertas’ halaman blog atau template. Ada banyak opsi tapi tak usah pusing-pusing. Pilihlah satu tanpa ragu. Belakangan hari bisa kamu ganti lagi kalau merasa tak cocok. Nanti kamu pun bisa ‘mengimpor’ template dari penyedia layanan template setelah terbiasa dengan blog. Setelah ‘kertas’ blog-mu selesai, kliklah Continue. Dua-tiga detik kemudian muncul pemberitahuan bahwa blog-mu sudah oke: Your blog has been created. Kini kamu resmi punya ‘buku’ harian di dunia maya yang bisa ditulisi. Kliklah Start Posting, maka kamu sudah bisa mulai menuliskan jalan hidupmu, cerpenmu, atau opinimu tentang sekolah, sampah, dan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya adalah pengelolaan blog yang bisa dilakukan sambil nge-blog. Sebagai contoh, kamu bisa lihat blog-ku di &lt;a href="http://gedehace.blogspot.com"&gt;http://gedehace.blogspot.com.&lt;/a&gt; Blog ini adalah media berbagi dan diskusi tentang Writing, Water, Waste alias seluk-beluk tatatulis, air, dan limbah. Atau, kalau kamu mau baca perihal blog yang ditulis sangat awal di Indonesia, kamu bisa baca &lt;a href="http://enda.goblogmedia.com/apa-itu-blog.html"&gt;http://enda.goblogmedia.com/apa-itu-blog.html&lt;/a&gt; Bisa juga ke &lt;a href="http://blogpedia.web.id/wiki/Apa_Itu_Blog. "&gt;http://blogpedia.web.id/wiki/Apa_Itu_Blog. &lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tunggu apa lagi? Ayolah Belia, gunakan blog untuk berbagi ilmu lewat tulisan dengan siapa saja di Bumi ini. Blog adalah komunitas masa kini, dan pasti masa depan!  *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-115094343475945012?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/115094343475945012/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=115094343475945012&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115094343475945012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115094343475945012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2006/06/belia-nge-blog-yuk-edisi-revisi.html' title='Belia, Nge-Blog Yuk! (edisi revisi)'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912175.post-115068055107931787</id><published>2006-06-19T08:25:00.000+07:00</published><updated>2006-06-22T09:14:15.626+07:00</updated><title type='text'>Menulis "Dari Kawah Sinila"</title><content type='html'>Tragedi gas beracun. Puluhan sampai ratusan orang tewas bergelimpangan di sekitar Dieng. Di jalan-jalan, di ladang, di rumah ada saja geletakan mayat. Gas pembunuh mengepul dari kawah Sinila dan sekitarnya lalu menuruni lereng bukit, merayap ke jalan setapak dan pemukiman penduduk. Hanya dalam hitungan menit saja, pada pagi-pagi buta ketika hendak ke kebun dan ke pasar, mereka dihembus gas beracun dan langsung tercekat. Jatuh, tewas seketika. Ada yang tak sempat terjaga karena kena desiran gas beracun ketika masih tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berita, muncullah puisi dan cerpen perihal &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sinila&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dieng&lt;/span&gt; di koran-koran. Puisi dan cerpen itulah yang melekatkan bencana itu di selaput kelabu benak saya yang jauh tinggal di Bali. Di kota kecil Tabanan saya "memantau" perkembangan Dieng lewat puisi di koran Bali Post. Pada waktu itu banyak sekali bertebaran puisi tentang Kawah Sinila dan Dieng. Semuanya saya klipping. Lantaran terkesan akan kedahsyatannya, saya ikut-ikutan menulis puisi dan cerita tentangnya. Selain mengkhayal, saya menulis berdasarkan berita koran. Itu terjadi saat saya di SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenangan menulis berlanjut sampai SMP. Suatu kali guru bahasa Indonesia menyuruh kami menulis cerita dengan memberikan penggalan kalimat terakhir sebagai penutup cerita. Bunyinya: "dan akhirnya tertidurlah saya di kursi." Pada waktu itu saya menulis cerita tentang pertandingan bulutangkis antara Liem Swie King dan Han Jian dari Cina. Pertandingannya tiga set dan sangat lama. Sampai larut malam saya, teman dan keluarga menontonnya. Cerita berdasarkan kenyataan ini akhirnya menjadi cerita terpilih untuk dibacakan di enam kelas lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika SMA, juga di Tabanan, saya tetap menulis. Atas suruhan guru, saya menerjemahkan cerita klasik Inggris, tentang raja yang sombong. Itu pun menjadi cerita menarik bagi kami. Namun mesin menulis saya melambat ketika kuliah di Bandung. Saya berkutat dengan kuliah dan nyaris tak menulis lagi kecuali surat-menyurat dengan orang tua, keluarga di Bali dan korespondensi dengan teman-teman semasa SMA. Selain itu, aktivitas menulis saya lakukan untuk meringkas bahan kuliah dari buku-ajar untuk memudahkan mempelajarinya. Hanya itu. Puncaknya adalah menulis skripsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lulus saya bekerja di konsultan. Kemampuan menulis bermanfaat saat menulis laporan dan pekerjaan administratif. Setelah itu saya mulai mengajar sehingga mau tak mau harus terus menulis, minimal menulis diktat. Sesekali saya mencoba menulis artikel yang dikirimkan ke media massa: koran, majalah dan tabloid. Ada yang dimuat, lebih banyak lagi yang ditolak. Saya terus saja menulis, menulis apa saja meskipun tak semuanya tuntas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sampailah saya pada karya tulis berupa buku. Buku pertama saya berjudul &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;a href="http://gedehace.blogspot.com/2006/04/pdam-bangkrut-awas-perang-air.html"&gt;PDAM Bangkrut? Awas Perang Air&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;. Sesi terlama dalam penulisan buku ini adalah pengumpulan referensi dan data dari media massa. Setiap ada isu dan perkembangan baru yang menyangkut PDAM, air minum kemasan, dan air minum isi ulang selalu saya kliping dan dicermati satu per satu mana yang harus masuk ke buku dan mana yang dibuang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, setahun setelah buku tersebut terbit, saya mulai menggarap buku kedua saya, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;a href="http://gedehace.blogspot.com/2006/04/mencari-allah.html"&gt;Mencari Allah&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; dan selesai dalam waktu enam bulan. Setelah draft-nya tuntas, butuh waktu dua setengah bulan untuk melihatnya berbentuk buku, mulai dari proses covering, editing, setting, dan printing di percetakan Mizan Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis memang pekerjaan yang tak kenal waktu. Kapan pun dan di mana pun bisa dikerjakan. Menulis adalah pekerjaan seumur-umur, selama otak masih “on”. Dalam fisik yang rapuh pun, selama otak tetap “menyala”, menulis bisa dilakukan seperti yang terjadi pada &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Stephen Hawking&lt;/span&gt;, penulis buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;A Brief History of Time, from the Big Bang to Black Holes&lt;/span&gt;, 1988. (Bantam Press).*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912175-115068055107931787?l=gedehacewriting.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/feeds/115068055107931787/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912175&amp;postID=115068055107931787&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115068055107931787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912175/posts/default/115068055107931787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewriting.blogspot.com/2006/06/menulis-dari-kawah-sinila.html' title='Menulis &quot;Dari Kawah Sinila&quot;'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
